Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 35

Editor:

Memaknai Sila Kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”
Bagian kesepuluh
Rinno

Rinno (33 tahun) bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pengamen “Boneka Mampang” di perempatan jalan. Perempatan Jalan Prangtritis, Ring road Ketandan, Bantul-Jogjakarta, menjadi lokasi utama shownya. Bahkan seisi kota, kadang menjadi wilayah kerjanya. Ya, Rinno bukan Anne Avantie, juga bukan Alissa Wahid atau sedikit pesohor lainnya yang memiliki empati dan kekuatan besar untuk membantu sesama.
Rinno tak punya dana untuk mengentaskan, membantu dan membela sesama atas nama kemanusiaan. Rinno hanya seorang pengamen, dengan dua orang anak. Penghasilannya hanya kisaran Rp. 20 ribu – Rp. 50 ribu perhari, tak tentu. Jauh langit dan bumi dengan para pesohor, pejabat, artis, orang kaya bahkan mungkin kita para pembaca kolom filsafat Pancasila di Pasundan Ekspres ini.
Lalu apa yang menarik dari Rinno, pemuda asal Cilacap ini? Kerjaan cuma jadi pengamen Boneka Mampang di perempatan jalan. Penghasilan cuma Rp. 50 ribu, itu pun seringnya cuma “20 ribu perak”. Rinno hanya mampu menyisihkan penghasilan dari mengamen di perempatan jalan “5 ribu perak”. Sisihan uang tersebut dia kumpulkan. Dan jika sudah cukup, dia membeli makanan seadanya, untuk diberikan kepada orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Panti Yayasan Anugerah Tuhan Hafara di Desa Trimulyo, Jetis, Bantul. Bahkan Rinno menyuapi mereka dan menghibur para lansia dan ODGJ di panti itu. Dan tak dijadikan konten media sosial untuk kepentingan advertising pribadi. Murni dan tulus. Titik.
“Jika semuanya egois, mementingkan diri sendiri, yang penting dia selamat dari situasi sekarang, maka manusia akan kalah dalam pertarungan melawan pandemi ini,” guman Rinno.
Ya, kemanusiaan adalah soal menanggalkan egoisme. Keadaban adalah soal tidak mementingkan diri sendiri dan nyari selamat sendiri. Keadaban adalah keberanian untuk bertarung melawan egoisme pribadi. Keadaban adalah keberanian untuk berkorban kepada sesama ketika kondisi seadanya. Keadaban adalah adanya cinta kasih kepada sesama, empati tanpa prasangka, tanpa sekat klasifikasi sosial. Apapun klasifikasi sosial yang memenjarakkan, mengotakkan dan membedakan manusia atas nama strata ekonomi, politik, agama, paham, suku, bangsa atau apapun.
Sehingga manusia terpuruk dalam sudut kumuh strata sosial. Dan berebut naik menuju strata yang lebih tinggi, dengan menindas yang di bawahnya. Tak peduli dengan cara apapun, menyikut, menyingkirkan, menindas, yang penting bisa naik menduduki piramida tertinggi dari strata sosial. Seolah menjadi manusia terhormat harus dengan cara menghilangkan rasa kemanusiaan yang Tuhan anugerahkan.
Rinno adalah gambaran orang Indonesia biasa. Bukan selebritis, bukan orang kaya, tidak berpendidikan tinggi. Sebab jika berpendidikan tinggi, pasti dia sudah menawarkan ijazahnya kepada para kapitalis. Sebab para sarjana tidak diajarkan untuk kreatif membuat pekerjaan sendiri. Tak ada manusia merdeka baik dalam pikiran atau kreatifitas yang dilahirkan dari pendidikan yang tak mengajarkan arti kemanusiaan.
Rasa kemanusiaan, hampir tak di ajarkan dalam sistem pendidikan kita. Karena pendidikan kita lebih banyak “memelototi” tutorial menjadi orang hebat dan sukses bekerja untuk memenuhi dahaga egoisme mencapai strata sosial tertinggi. Walau Jakob Utama bilang, “tak jelas arah kemana pendidikan kita”. Lihat saja tulisannya di halaman 78 dalam buku “10 Windu H.A.R. Tilaar” tahun 2012 lalu. Pendiri Kompas ini menuliskan, “pendidikan itu proses humanisasi yang universal, mencakup, menyejarah dan menguatkan budaya unggul bangsa. Jakob dipengaruhi pikiran Driyakara.
Rinno adalah manusia Indonesia biasa, yang mengasah rasa kemanusiaannya dengan tidak egois dan berempati kepada sesama. Manusia yang memiliki nilai kemanusiaan adalah manusia yang perbuatannya didasarkan atas kematangan penalaran dan kesadaran akan kewajiban atas manusia lainnya dan alam (khalifah). Sebaliknya manusia egois dan mementingkan diri sendiri adalah manusia yang kehilangan jati dirinya. Sehingga melumpuhkan kesadaran dan hanya menghasilkan perbuatan rendah. Egoisme melahirkan distorsi komunikatif yang menimbulkan keterasingan atau alienasi sosial. Egoisme melahirkan ketamakan dan keserakahan.
Manusia egois adalah manusia yang menyalahi kodrat makna al-insan yang diartikan harmonis dan lemah lembut. Silahkan buka tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab. Tidak kurang dari 73 kali Al-Quran menyebutkan kata al-uns yang tersebar dalam 43 surat. Dalam kitab suci agama lain pun, pasti ada ajaran kemanusiaan dan hidup harmonis.
Atau juga makna al-basyar yang menunjukkan manusia dari sudut lahiriyah serta persamaan sesama manusia. Tanpa membedakan suku, agama, bangsa, strata sosial. Makna manusia adalah memikul tanggung jawab kemanusiaan.
Rinno (bisa jadi ada diantara kita) adalah manusia yang bertanggungjawab atas kemanusiaan lainnya. Tanggung jawab untuk menjaga ukhuwah basyariah, menjaga nilai kemanusiaan kita. Minimal dengan menanggalkan ke-egoisan dan tak mementingkan diri sendiri. Itulah nilai keadaban dari diri kita. Rinno adalah salah satu makna sejati dari sila ke dua Pancasila. Egoisme adalah takaran nilai kemanusiaan dan keadaban. Semakin tinggi egoisme, semakin rendah rasa kemanusiaan dan keadaban kita.
Keadaban juga bisa diukur dari nasehat Bunda Theresa orang Makedonia yang mengabdikan hidup untuk orang-orang termiskin di Kalkuta India hingga akhir hayatnya:
”I want you to be concerd about your next neighbor. Do you know your next door neighbor?”
“Aku hanya ingin agar Anda mempedulikan tetangga sebelah rumah Anda. Apakah Anda mengenal tetangga sebelah rumah Anda?
Mari takar egoisme kita. Mari takar kemanusiaan dan keadaban kita.(*)

OLEH:  Kang Marbawi. (270221)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 komentar

  1. Saran koreksi redaksi
    Seri Belajar Filsafat Pancasila ke 35

    menjadi
    Seri Belajar ke 35: “Filsafat Pancasila”

    Komentar konten:
    Ini masih berbentuk cerita sosial yang disampaikan sesuai dengan “kekinian”, sebagai bentuk peringatan halus bagi semua warga negara Indonesia untuk tetap mengingat sisi “kemanusiaan” untuk tetap peduli kepada sesama sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

    Sesungguhnya (khususnya bagi para akademisi) analogi seperti ini akan dipahami sebagai sarkasme yang berbentuk Autokritik/Otokritik agar tidak melupakan implementasi “Pancasila” dalam berbagai sendi kehidupan.

    Namun, redaksi seperti ini masih menunjukkan sisi “humanis” sang penulis.

    Saran/Kritik konten:
    pada redaksi:
    “Manusia egois adalah manusia yang menyalahi kodrat makna al-insan yang diartikan harmonis dan lemah lembut. Silahkan buka tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab. Tidak kurang dari 73 kali Al-Quran menyebutkan kata al-uns yang tersebar dalam 43 surat. Dalam kitab suci agama lain pun, pasti ada ajaran kemanusiaan dan hidup harmonis.”

    penulis masih menunjukkan sisi “tidak adilnya” dalam mengutip dogma agama. Penulis tidak berusaha untuk meminta koleganya (pendeta/romo/lainnya) yang beragama selain Islam (misalnya minimal 3 agama) untuk mengutip dogma agama tersebut yang sesuai dengan makna “harmonis, lemah lembut, manusiawi atau sejenisnya”, sehingga semua orang akan mengakui bahwa sesungguhnya Pancasila sangat sesuai dengan agama yang ada di Indonesia/dunia. Demikian. Wallahu a’lam.