Teroris di Jatim Sudah Siapkan Amaliah

Teroris di Jatim Sudah Siapkan Amaliah
0 Komentar

“Dalam operasi penangkapan di Jawa Timur, tim Densus 88 menangkap 12 orang terduga teroris,” katanya.

Para terduga teroris tersebut berinisial UBS alias F, TS, AS, AIH alias AP, BR, RBM, Y, F, ME, AYR, RAS, dan MI. Dalam beraksi mereka memiliki peran yang berbeda-beda dalam jaringan terorisme.

“Delapan orang ditangkap di Sidoarjo, dua di Surabaya, seorang di Mojokerto, dan seorang lagi di Malang,” ungkapnya.

Baca Juga:Kecewa Penanganan Banjir Tak Jelas, Formasu akan Gerudug BBWSTolak Minol, Pemuda Muhammadiyah Subang Minta Kepres 10 Tahun 2021 Dicabut

Dalam penangkapan tersebut, Polri mengamankan sejumlah barang bukti berupa 50 butir peluru 9 mm, satu pistol rakitan jenis FN, empat bendera daulat warna hitam dan putih, delapan bilah pisau, dua bilah samurai, golok, hingga senjata tajam berbentuk busur.

Sebelumnya Analis Utama Intelijen Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra menyebut kelompok-kelompok teroris memanfaatkan kondisi pandemi COVID-19 untuk melakukan rekruitmen dan aksi teror atau serangan.

“Kelompok teroris melihat krisis pandemi sebagai peluang untuk lebih banyak perekrutan, dukungan, simpatisan untuk menyerang lebih keras,” katanya dalam sebuah diskusi pekan lalu.

Analisis tersebut menurutnya sesuai dengan perintah pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi. Dia meminta pengikutnya melakukan serangan lebih keras di penjuru dunia selama pandemi. Demikian juga dengan jaringan teroris lainnya.

Dicontohkannya, kegiatan pengajian kelompok teror Jama’ah Ansharut Khilafah yang tetap berlangsung meskipun seluruh siswanya sempat terpapar COVID-19.

“Kini pengajian dilakukan dengan platform zoom sembari menyebarkan ajaran-ajaran,” ungkapnya.

Lalu jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Jaringan ini masih eksis di tengah pandemi dengan menyebarkan video berisi pemenggalan korban melalui media sosial. Aksi ini mencontek kelompok ISIS di Timur Tengah guna menunjukkan kekuatan mereka.

Sedangkan jaringan JI menggunakan jejaring sosial. JI juga didapati memiliki pedoman dan strategi intelijen dengan nama Pedoman Umum Pergerakan Jama’ah Islamiyah (PUPJI) dan Total Amniyah System Total of Solution (TASTOS).

Baca Juga:Tak Terawat, Taman Kota Lembang KumuhBPS Catat Produksi Padi 2020 Sampai 2021 Mengalami Kenaikan

Sementara jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) didapati melakukan aktivitas dengan pola pergerakan jangka pendek dan berskala kecil. Seperti melakukan serangan kecil, pelatihan militer, dan melakukan penguasaan wilayah. Kegiatan tidak terorganisasi dan dilakukan dengan bantuan media sosial.

0 Komentar