oleh

TPA Panembong Dijuluki ‘Caringan Dollar’, Cerita Pemulung Menemukan Mata Uang Dollar

BAGI Fatmawati (43) gunungan sampah membawa berkah. Setiap minggu ia bisa mendapatkan uang Rp200-300 ribu dari mengais sampah plastik di TPA Panembong, Subang. Di antara mereka bahkan ada yang sudah belasan tahun menjadi pemulung. Karena hasil yang menggiurkan.

Fatmawati tidak sendiri, ada sekitar 40 orang pemulung di TPA Panembong yang mengais rejeki setiap harinya. Mereka memilah sampah plastik, kawat, besi dan barang yang dianggap berharga. Tapi siapa sangka, di antara tumpukan sampah ratusan ton itu, banyak “harta karun”. Di antaranya mata uang dollar dan mata uang asing lainnya.

Penemuan “harta karun” itu heboh. Sekitar dua tahun lalu. Hanya saja Pasundan Ekspres belum berhasil menemukan yang mendapat mata uang dollar itu. “Iya bener, tahun lalu ada yang menemukan mata uang dollar. Ditukar ke bank. Ada yang dapat jutaan,” ujar Fatmawati.

Hal itu dibenarkan oleh pemulung lainnya. Biasanya kata mereka, uang itu terselip di pakaian atau sampah dari pabrik. Tapi kini kata Fatmawati, sampah dari pabrik sudah dipilah warga sekitar pabrik sebelum dikirim ke TPA. “Dulu sempat heboh sih, jadi sekarang sampah dari pabrik dipilah dulu jadi ke sini ya sudah gak ada apa-apa. Biasanya tergulung di sampah kertas. Orang sini sudah tahu mata uang dollar, euro, atau lainnya,” kata pemulung lainnya.

Karena banyak barang berharga dan dollar, maka TPA Panembong dijuluki “caringin dollar”. Lain cerita bagi para pengais rejeki di sungai Cileuleuy yang berada tepat di bawah kaki gunungan sampah TPA Panembong. Saat terjadi longsoran sampah, mereka berburu barang berharga.

“Di bawah sana banyak yang menemukan emas. Ada gigi emas, kepala sabuk berlapis emas, cicin, pokonya macam-macam,” timpal Amo, pemulung lainnya.

Tapi meski sudah sulit menemukan dollar dan barang berharga, warga tetap mengais rejeki. Bagi mereka, keberadaan TPA Panembong sudah menjadi sumber mata pencaharian. Meski demikian para pemulung dan pegawai Dinas Lingkungah Hidup mengakui penampungan sampah sejak tahun 1987 itu sudah melebihi kapasitas. Gunungan sampah berada di tepi dataran tinggi yang rawan longsor.

“Saat musim hujan sering longsor, bukan karena sampahnya yang sudah penuh, tapi memang tanah di sini labil. Ini jalan sampai putus, dulunya nyambung jalan yang di pinggir area sampah itu,” ujar pemulung.

Tak hanya musim hujan, saat musim kemarau pun bahaya kebakaran mengintai warga. Gas metan dari ribuan ton sampah itu memicu kebakaran. Tahun lalu, di musim kemarau terjadi beberapa kali kebakaran yang sulit dipadamkan. Karena bara api di dalam sampah yang sulit dipadamkan. Biasanya hanya akan reda saat diguyur hujan.

Saat Pasundan Ekspres mendatangi lokasi TPA Panembong, fasilitas jembatan timbangan  sampah maupun pemilahan sampah organik untuk kompos sudah tidak berjalan. Menurut para pemulung, fasilitas pemilahan pupuk sempat diresmikan di era pemerintahan Bupati Eep Hidayat. “Sekarang sudah tidak berjalan lagi, jadi tempat alat berat aja,” tutur para pemulung.

Kini para Pemkab Subang berencana memindahkan TPA ke arena lahan seluas sekitar 14 Ha di kawasan Jalupang, Kecamatan Kalijati. Minggu lalu Bupati Subang Ruhimat Bersama sejumlah pejabat meninjau lokasi tersebut. Apalagi para aktivis lingkungan pun mendesak agar TPA segara dipindahkan karena membahayakan. Bagaimana nasib pemulung? “Ya mau bagaimana lagi, gak mungkin pindah ke sana. Tapi kayanya sih enggak akan pindah,” kata Fatmawati.(red)

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *