oleh

Hal-hal yang Membatalkan Puasa beserta Penjelasannya yang Wajib Kamu Hindari!!!

Hal-hal yang Membatalkan Puasa beserta Penjelasannya yang Wajib Kamu Hindari!!!

Hal-hal yang Membatalkan Puasa beserta Penjelasannya yang Wajib Kamu Hindari!!!
         Hal-hal yang Membatalkan Puasa           

Hal-hal yang membatalkan puasa tentu beragam adanya, tidak hanya sebatas perkara yang kita kenal dan sudah tidak asing lagi yaitu makan dan minum. Ternyata masih banyak hal-hal yang membatalkan puasa beserta penjelasannya.

Hal-hal yang membatalkan puasa beserta penjelasannya ini sangat penting untuk diketahui bagi muslim yang telah wajib menjalankan ibadah puasa, sebab terkadang hal sepele bisa menjadi penyebab hal-hal yang membatalkan puasa.

Puasa yang dalam bahasa Arab adalah Shaum/Shuwam yang artinya adalah Menahan/Mencegah. Untuk itulah hal-hal yang membatalkan puasa dan penjelasannya ini perlu difahami, sebab dalam perintah Islam, puasa ini adalah menahan diri dari berbagai macam hawa nafsu dari mulai imsyak dan/ saat adzan subuh sampai dengan bedug maghrib berkumandang.

Berikut Hal-hal yang Membatalkan Puasa beserta Penjelasannya:

Hal yang membatalkan puasa menurut 4 mazhab:

(Imam Abu Hanifah-Mazhab Hanafi, Imam Malik bin Annas-Mazhab Maliki, Imam Asy-Syafi’ie-Mazhab Syafi’ie, Imam Ahmad bin Hambali-Mazhab Hambali)

1). Makan dan Minum dengan Sengaja (Memasukkan sesuatu ke dalam tubuh secara sengaja)

Hal-hal yang Membatalkan Puasa beserta Penjelasannya yang Wajib Kamu Hindari!!!
              Anak Kecil Buka Puasa Siang Hari

Makan dan Minum dengan cara sengaja tentu membatalkan puasa. Semua hal yang masuk melewati kerongkongan, dan hal-hal yang membuat energi hingga kekuatan bertambah, hal itu termasuk membatalkan puasa jika disengaja, (Misalnya mandi berlama-lama agar tubuh menjadi segar dan fresh di siang hari, wallahua’lam). Jika lupa atau tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa.

Penjelasan lain adalah:

Masuknya sesuatu benda (‘ain) kepada pangkal lubang bagian dalam tubuh (jauf) secara sengaja, baik itu lubang hidung, lubang mulut dan lubang telinga.

Lubang (jauf) pada badan manusia, mempunyai batas awal (Puasa batal jika suatu benda masuk dan melalui batas awal, jika tidak melewati maka tetap sah),

Batas awal hidung: Pangkal insang (bagian hidung yang sejajar dengan mata-muntaha khaysum)
Batas awal Mulut: tenggorokkan (hulqum) jadi selama sesuatu benda masih berada di mulut, dan tidak masuk melewati tenggorokkan, berarti puasa tetap sah
Batas Awal Telinga: Bagian telinga dalam sampai sejauh mata memandang/melihat ke dalam telinga

Akan tetapi, ketika benda luar masuk ke dalam jauf seseorang, terjadi ketika lupa, atau pun secara disengaja dengan syarat seseorang belum mengetahui masuknya benda ke dalam bagian badan seserang melalui 3 lubang (jauf) merupakan pembatal puasa. Maka puasa dihukumi sah, selama benda masuk tersebut tidak berlebihan banyaknya, (Berlebihan banyak itu seperti lupa memakan-makanan dengan sangat banyak pada waktu puasa. Maka pada saat hal tersebut terjadi, puasa akan dihukumi batal. (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 259)

2). Membangkitkan Syahwat dengan Sengaja

Misalnya: Menonton video yang tidak senonoh atau melihat foto dewasa, lalu berhubungan suami-istri saat siang hari di bulan puasa. Jika melakukan hal ini dengan sengaja, maka harus meng-qadha puasa selama 2 bulan berturut-turut atau memberi makan (3.4 liter masing-masing) untuk 60 orang miskin atau pun membebaskan budak.

Batasi diri dari perbuatan maksiat, walaupun ada orang mencela, kita pilih diam saja, kita tahan, dan kita sabar sebab kita juga sedang puasa.

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa“. (Q.S Al-Baqarah: 187)

2) a. Keluarnya Mani/sperma akibat bersentuhan kulit, walaupun tanpa berhubungan suami istri, maka puasa batal, terkecuali keluar mani/sperma secara tidak sengaja, misalnya mimpi basah (ihtilam).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Jika seseorang memaksa keluar mani dengan cara apa pun baik dengan tangan, menggosok-gosok ke tanah atau dengan cara lainnya, sampai keluar mani, maka puasanya batal.” Begitu juga dengan pendapat dari para ulama madzhab, yaitu Imam Malik, Imam  Syafi’i,  Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad.

3). Memberikan Benda lain/Obat pada pada salah satu dari qubul dan dubur.

4). Muntah dengan Sengaja

Jika muntah tiba-tiba atau muntah dengan tidak sengaja, maka puasanya tetap sah, asal muntah tersebut tidak tertelan kembali, jika tertelan maka puasanya dihukumi batal.

Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

5). Haid/Nifas

Ketika puasa, tetapi muncul haid dan/ nifas, maka puasanya otomatis batal, dan wajib meng-qadha, berbeda dengan shalat yang tertinggal ketika seseorang sedang haid/nifas, maka tidak wajib diqadha.

“Kaum muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib shalat dan puasa dalam masa haid dan nifas tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/250)

6). Gila (Junun) Ketika Puasa (Naudzubillah)

7).Murtad saat puasa (Naudzubillah)

(Source reference: Ustadz Adi Hidayat, Lc, Ma, NU, )

Ketujuh point utama di atas adalah hal-hal yang membatalkan puasa beserta penjelasannya, entah itu dari hal-hal kecil yang membatalkan puasa atau pun hal-hal besar yang membatalkan puasa.

 

HUKUM MENYIKAT GIGI PAKAI ODOL (PASTA GIGI) SAAT PUASA, BATALKAH?

Walaupun belum ada sikat gigi dan pasta gigi pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, ada pendapat yang memperbolehkan menyikat gigi ketika berpuasa (Jangan sampai tertelan), hal ini merujuk pada penjelasan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’, syarah al-Muhadzdzab.

Apabila seseorang memakai siwak basah, lalu airnya berpisah dari siwak yang ia gunakan, atau cabang-cabang (bulu-bulu) kayunya itu lepas kemudian tertelan, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Demikian dijelaskan oleh Al-Faurani dan lainnya (Juz VI, hal 343)”.

Hukum Menyikat Gigi Pakai Odol (Pasta Gigi)

*Selagi tidak ada yang tertelan, baik air kumur-kumur atau pun pasta gigi (odol) ke tenggorokan. maka puasa tetap sah, tapi jika tertelan sedikit saja walaupun tidak disengaja, puasanya batal.

Jika tidak tertelan maka puasa tetap sah, hal ini dilihat dari qias pada Hadit’s Riwayat dari Abdullah bin ‘Abbas:

“Tidak mengapa seseorang mencicipi kuah makanan atau suatu makanan, selama tidak sampai tertelan ke tenggorokan, saat ia berpuasa,” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

Menurut ulama Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali, Bersiwak atau menggosok gigi pada saat puasa, hukumnya:

Makruh bagi orang yang berpuasa bila telah melewati waktu duhur hingga sore hari.

(Isnan Ansory, Pembatal Puasa Ramadan dan Konsekuensinya (2019), (hal 22-23)). (Dan dalam kitab Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadi’in, Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani).

Hukum Menyikat Gigi Pakai Odol (Pasta Gigi)

Sabda Nabi Muhammad S.A.W:

“Bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari aroma kesturi”. (HR. Bukhari).

Menurut ulama Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali, Menggosok gigi dan bersiwak itu menghilangkan bau mulut, padahal bau mulut itu ciri khas orang puasa. Wallahua’lam. (Re/Juni)

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *