Syngenta Kenalkan Teknologi Dukung Peningkatan Produksi Padi

Syngenta
YOGI MIFTAHUL FAHMI PASUNDAN EKSPRES TINGKATKAN PRODUKSI: Gelar Teknologi Syngenta di Desa Neglasari dalam mengenalkan teknologi Syngenta Gramoxone dan teknologi lain guna mendukung peningkatan produksi padi.
0 Komentar

SUBANG–Dalam upaya membantu petani meningkatkan produktifitas tanaman padi dengan hasil panen optimal, PT Syngenta Indonesia mengadakan “Gelar Teknologi Syngenta” di Desa Neglasari Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat.

Pada kegiatan tersebut, stakeholder terkait berbagi informasi terkait teknologi dari Syngenta untuk membantu petani melakukan penyiapan lahan dan juga memperkenalkan teknologi alat semprot (sprayer) Close Loop Knapsack System (CLKS) yang inovatif dan modern untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman.

Gelar Teknologi Syngenta dihadiri perwakilan dari Tim Teknis Komisi Pestisida Kementerian Pertanian, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTP) Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Alishter (Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas) dan akademisi dari Universitas Padjadjaran. Semua aktivitas dalam acara ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat untuk menjaga keamanan semua pihak yang hadir.

Baca Juga:Ada Bantuan Rp1,5 Juta untuk Pelaku UMKM di Subang dari BaznasTak Bayar THR, Ini Denda dan Sanksi yang Akan Diterima Pengusaha

Menurut Parakuat Bisnis Manager PT Syngenta Indonesia Nelson Sihombing, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi lengkap kepada petani mengenai teknologi penyiapan lahan yang tepat. Keberadaan gulma dapat menurunkan produktifitas padi hingga 70 persen. Oleh karena itu penyiapan lahan menjadi proses penting dalam budidaya tanaman padi. “Umumnya proses penyiapan lahan ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu jika dilakukan secara manual. Selain itu proses ini juga membutuhkan banyak biaya dan tenaga kerja. Tetapi dengan menggunakan teknologi Syngenta Gramoxone waktu untuk penyiapan lahan dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar satu (1) minggu,” kata Nelson.

Selain mempersingkat waktu dan menghemat biaya tenaga kerja, teknologi Gramoxone juga dapat memutus siklus hama yang ada di lahan dan mengembalikan unsur hara tanah. Teknologi ini unik karena dapat mengendalikan gulma dengan tetap menjaga keutuhan akarnya yang dapat mengikat tanah sehingga menimimalkan terjadinya erosi. Gulma yang sudah tekendali dan kering akan menjadi mulsa yang sangat berguna untuk membantu pertumbuhan tanaman, menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit.

Mengutip pernyataan Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Subang Nenden Setiawati mengatakan, banyaknya pembangunan di Kabupaten Subang berakibat pada berkurangnya lahan pertanian. Meski begitu, produktifitas harus terus dijaga agar kebutuhan pangan tetap dapat terpenuhi.

0 Komentar