oleh

Syngenta Kenalkan Teknologi Dukung Peningkatan Produksi Padi

SUBANG–Dalam upaya membantu petani meningkatkan produktifitas tanaman padi dengan hasil panen optimal, PT Syngenta Indonesia mengadakan “Gelar Teknologi Syngenta” di Desa Neglasari Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat.

Pada kegiatan tersebut, stakeholder terkait berbagi informasi terkait teknologi dari Syngenta untuk membantu petani melakukan penyiapan lahan dan juga memperkenalkan teknologi alat semprot (sprayer) Close Loop Knapsack System (CLKS) yang inovatif dan modern untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman.

Gelar Teknologi Syngenta dihadiri perwakilan dari Tim Teknis Komisi Pestisida Kementerian Pertanian, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTP) Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Alishter (Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas) dan akademisi dari Universitas Padjadjaran. Semua aktivitas dalam acara ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat untuk menjaga keamanan semua pihak yang hadir.

Menurut Parakuat Bisnis Manager PT Syngenta Indonesia Nelson Sihombing, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi lengkap kepada petani mengenai teknologi penyiapan lahan yang tepat. Keberadaan gulma dapat menurunkan produktifitas padi hingga 70 persen. Oleh karena itu penyiapan lahan menjadi proses penting dalam budidaya tanaman padi. “Umumnya proses penyiapan lahan ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu jika dilakukan secara manual. Selain itu proses ini juga membutuhkan banyak biaya dan tenaga kerja. Tetapi dengan menggunakan teknologi Syngenta Gramoxone waktu untuk penyiapan lahan dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar satu (1) minggu,” kata Nelson.

Selain mempersingkat waktu dan menghemat biaya tenaga kerja, teknologi Gramoxone juga dapat memutus siklus hama yang ada di lahan dan mengembalikan unsur hara tanah. Teknologi ini unik karena dapat mengendalikan gulma dengan tetap menjaga keutuhan akarnya yang dapat mengikat tanah sehingga menimimalkan terjadinya erosi. Gulma yang sudah tekendali dan kering akan menjadi mulsa yang sangat berguna untuk membantu pertumbuhan tanaman, menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit.

Mengutip pernyataan Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Subang Nenden Setiawati mengatakan, banyaknya pembangunan di Kabupaten Subang berakibat pada berkurangnya lahan pertanian. Meski begitu, produktifitas harus terus dijaga agar kebutuhan pangan tetap dapat terpenuhi.

“Cara kerja teknologi Gramoxone yang cepat akan sangat membantu petani mempercepat waktu tanam dan meningkatkan indeks pertanaman padi yang tentunya akan berpengaruh pada swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan hidup petani padi,” kata Nenden.

Di acara ini petani juga diperkenalkan dengan teknologi alat semprot baru Close Loop Knapsack System (CLKS) untuk mengaplikasikan produk perlindungan tanaman Gramoxone. “Saat ini teknologi pertanian telah banyak berkembang. Dan petani yang cerdas adalah petani yang melek teknologi,” ujar Ketua Tim Teknis Ahli Komisi Pestisida, Prof. Dr. Ir. Dadang. M.Sc.

Teknologi CLKS ini praktis karena petani tidak perlu menakar dan mencampur sehingga tidak membutuhkan banyak peralatan. Selain itu penggunaan produk perlindungan tanaman menjadi aman karena tidak ada risiko kontaminasi saat pencampuran, tangki sprayer hanya berisi air dan aman saat penyimpanan.

Head of Business Sustainability Syngenta Indonesia Midzon Johannis berharap, agar ke depannya teknologi CLKS ini dapat diterapkan ke semua jenis produk perlindungan tanaman untuk menjaga keamanan petani saat pengaplikasian di lahan.  Keselamatan dan keamanan petani adalah hal yang paling utama.

“Oleh karena itu sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab kepada petani dan lingkungan, Syngenta mengingatkan kembali mengenai penerapan Lima Aturan Emas. Lima Aturan Emas ini adalah aturan yang seharusnya diikuti oleh petani untuk meminimalisir paparan dari penggunaan produk perlindungan tanaman,” imbuhnya.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Prof. Dr. Erizal Jamal, M.Si, menegaskan, edukasi Lima Aturan Emas ini sangat penting dan harus dilakukan secara masif. Dalam hal ini Syngenta telah menjadi contoh yang baik dalam melakukan edukasi kepada petani. Hal ini penting karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa aspek kesehatan dan keselamatan petani saat menggunakan produk perlindungan tanaman masih perlu ditingkatkan.

Gelar Teknologi ini menunjukkan bahwa praktik budidaya pertanian yang baik dan penggunaan teknologi pertanian yang tepat, akan memberi hasil pertanian optimal yang dapat memenuhi kebutuhan pangan. Selain itu, petani juga harus melindungi dirinya dengan menerapkan prinsip-prinsip aplikasi produk perlindungan tanaman secara aman dan bertanggung jawab. Syngenta terus melakukan inovasi teknologi pertanian yang dapat memberi manfaat tidak hanya untuk petani tetapi juga untuk keberlanjutan pertanian yang aman dan ramah lingkungan.(adv/ygi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *