oleh

Mudik Dilarang Lagi

Mudik Dilarang Lagi

Mudik Dilarang Lagi
                       Mudik Dilarang Lagi, Feri Rustandi, S.Pd, MM, Perantau dari Garut 12 tahun di  Subang

Setelah Ramadhan tahun kemarin pemerintah melarang mudik bagi seluruh masyarakat Indonesia, sehingga banyak untaian doa bahwa semoga lebaran tahun depan corona hilang agar bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dengan lebih tenang dan pastinya bisa mudik lebaran. Namun harapan itu hanya harapan, nyatanya corona masih ada dan akhirnya pemerintah melarang kembali mudik guna mensukseskan program vaksinasi covid-19. Bagi jiwa perantau mudik memiliki arti yang sangat mendalam dan penting apalagi perjuangan perantau di daerah asing, kerja banting tulang jarang bertemu keluarga di kampung sehingga untuk melepas kerinduan dan sebagai ajang rehat, suasana kampung halaman sekalipun  satu tahun sekali cukup jadi penebus kerinduan yang ada. Apapun akan dilakukan untuk bisa pulang kampung sekalipun harus bermacet-macetan bahkan tidak sedikit mudik banyak memakan korban. Cerita para pemudik nekad tahun kemarin menjadi bukti bahwa mudik adalah pelipur lara bagi insan yang dilanda gundah dan rindu merana, ada yang nekad bawa mobil pribadi dan disuruh putar balik padahal sudah setengah perjalanan, ada yang pura-pura nyelundup di mobil barang dan kontainer bahkan tidak sedikti transfortasi umum pun memaksakan beroperasi karena justru secara tradisi bahwa momentum mudik lebaran adalah waktu terbaik meraup pendapatan berlipat-lipat dari para penumpang yang membeludak, sekalipun  ceritanya tetap dilarang dan disuruh putar balik.

Antara Aturan dan Kerinduan Hati

Larangan mudik tersebut itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan COVID-19 No. 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah selama 6-17 Mei 2021. Bahkan untuk kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan tegas mengeluarkan larangan. Ketentuan ini tercantum dalam Surat Edaran Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pembatasan Kegiatan Berpergian ke Luar Daerah dan/atau Mudik dan/atau Cuti Bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara dalam Masa Pandemi Covid-19. Aturan ini sudah dilengkapi dengan sederet sanksi bagi yang melanggar. Sudah tentu bagi para pegawai kantoran yang masa liburnya antara tanggal 6-17 Mei 2021 dipastikan tidak akan bisa mudik lebaran, sekalipun  ada beberapa pelonggaran pemerintah untuk bepergian dalam rangka tugas kantor dan pekerjaan tetapi tetap dengan super ketat aturan mainnya.

Bagaiaman kalau mudiknya  sebelum tanggal 6 Mei dan baliknya setelah 17 Mei ? Nah, mungkin bagi pegawai swasta dan tidak terikat ini masih bisa jadi celah untuk bisa mudik. Tidak sedikit terminal, pelabuhan, stasiun sudah mulai melonjak karena banyak pemudik yang curi start. Disisi lain berdasarkan aturan pemerintah tadi bahwa larangan hanya berlaku antara tanggal 6-17 Mei 2021. Tentu semua orang faham bahwa larangan ini bertujuan baik demi memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang mana di masa sekarang dalam program suksesi vaksinasi sehingga kalau mudik dibebaskan maka program pemerintah akan sia-sia. Tentunya sekalipun kepada masyarakat yang bisa mudik harus tetap menjaga dan menjalankan protokol Kesehatan, jangan sampai mudik membawa petaka menjadi penyebab munculnya kluster-kluster baru. Orang kampung yang biasanya aman dan damai dari gangguan virus corona, eh ternyata dengan hadirnya para pemudik ini malah ada yang terpapar.

Tahun sebelumnya muncul bahwa ada kata-kata “Tidak harus mudik cukup di rumah saja, silaturahmi bisa melalui video call dan sambungan telepon”  mungkin tahun kedua ini kata-kata tersebut akan berbeda maknanya ketika  bersabar 1 tahun menunggu, tapi ternyata tahun ini kembali di larang, apalagi sebagaian besar perantau hanya memiliki kesempatan libur atau tidak kerja di musim mudik lebaran. Rindu yang memuncak tak terbendung terkadang tidak bisa diwakilkan oleh media apapun mengharuskan ada pertemuan fisik agar ikatan ini semakin kuat dan erat. Tidak ada yang salah dengan tradisi mudik bahwa selama tujuannya kebaikan namun hanya saja wabah ini yang menjadi masalah bersama.

Pada akhirnya bagi yang tidak bisa mudik lebaran tahun ini, inilah ujian kesabaran yang harus tetap di hadapi bahwa momentum ibadah shaum Ramadhan kali ini ada peluang pahala lebih dari bersabar tidak mudik, bagi masyarakat yang bisa mudik dengan cara dan alasan apapun itu patut di syukuri dan tetap harus menjaga protokol kesehatan, bukan hanya untuk kita tapi keamanan keluarga di kampung. Semoga tahun depan Corona hilang dari bumi Indonesia ini dan tradisi mudik bisa berjalan sebagaimana biasanya.

Wallohua’lam Bishowab

Oleh : Feri Rustandi, S.Pd, MM

(Perantau dari Garut 12 tahun di  Subang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *