oleh

Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 44 Memaknai sila ketiga “Persatuan Indonesia”

Ukhuwah

Bagian ke 8 Oleh Kang Marbawi

Qul innama ana basyarun…. Aku ini manusia biasa, sama seperti kalian”  begitu Al-Quran menegaskan Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Basyarun merujuk kepada manusia biasa yang memiliki unsur hewani, semisal haus, lapar, kantuk dan lain sebagainya. Yang membedakan Nabi dengan basyar (manusia) lainnya adalah, Nabi diberi wahyu. Manusia hanya diberi aql dan qolb (akal dan hati-nafsu). Dengan aql nya manusia akan memecahkan segala masalah kemanusiaan dan kehidupan yang mereka hadapi. Dengan qolb nya manusia dituntut untuk mampu menajamkan sensitifitas humanismenya tanpa memandang status yang dijejalkan sosiologi.

Perpaduan Aql dan Qolb inilah yang kemudian menaikkan derajat manusia. Kemampuan manusia –al basyar, menggunakan aqlnya itu menaikan derajat manusia menjadi al-Insan. Al-Insan adalah makhluk yang selalu bergerak dinamis, berproses menjadi (human becoming). Manusia yang sudah menjadi al-Insan adalah bukan sekedar ada. Keberadaannya menapak naik, mencari kesempurnaan, menghargai kemanusiaan/keragaman, keadilan dan memiliki makna spiritual. Keberadaan Al-Insan yang telah mengalami proses menjadi tersebut, ditunjukkan dengan karya selalu memberi manfaat —anfauhum li al annas, kepada sesama manusia.

Al-Insan yang telah bergerak naik dan memberi manfaat kepada kemanusiaan tersebut menjadikan dirinya al-nas. Yang memandang manusia lainnya tanpa perbedaan status sosial. Makna ini merujuk kepada pernyataan Tuhan sebagai rabbi al-nas (yang mengatur manusia tanpa memandang status sosial. Term al nas adalah term bersifat general dan tidak memihak. Konsep tidak memihak dari al nas ini kemudian bergerak naik bertransformasi menjadi kata ummah yang berarti bangsa (nation) atau masyarakat (community).

Transformasi ummah yang tak membedakan segala hal atribut dan identitas pribadi atau kelompok melebur dalam konsep satu nation, satu bangsa, satu community, yaitu Indonesia. Rasa kebangsaan tersebut diikat dengan rasa al uns (perasaan intim yang dilandasi cinta) sebagai makna dasar dari al-insan. Al-uns juga memakna riang hati tertuju kepada yang dicintai. Maka rasa kebangsaan dari al nas Indonesia diikat dengan kecintaan satu sama lain, ukhuwah. Ukhuwah insaniyah menjadi salah satu penguat rasa kebangsaan ukhuwah wathaniyah.

Ukhuwah wathaniyah yang lahir dari kepekaan moralitas dan humanisme. Yang menghargai manusia dari berbagai latar belakang sosial, budaya, suku/etnis, agama dan identitas lainnya. Ukhuwah wathaniyah yang tak menjadi chauvinism, fanatisme berlebihan terhadap paham kebangsaan dan memandang rendah bangsa lain. Walau ukhuwah wathaniyah ditantang chauvinism dalam gerak fanatisme paham sekelompok yang mengatasnamakan agama, identitas, dan kepentingan.

 

Maka manusia yang memahami ukhuwah wathaniyah adalah manusia Indonesia yang memahami makna al-uns dan al-insan. Yaitu manusia yang terus bergerak memberi manfaat tanpa membedakan identitas.

Seperti yang dilakukan oleh Pendeta Yasin Terang Surabaya, membantu sesama di Papua, Sulawesi Barat, Lombok dan belahan Indonesia lainnya. Seperti Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia yang membantu masyarakat Asmat. Seperti Yason Yikwa dan Titus Kagoya yang melindungi 500 warga pendatang dari kerusuhan di Jayawijaya tahun 2019 lalu. Itulah yang menjaga Indonesia tetap utuh, satu. Salam Kang Marbawi (010521)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.