oleh

Memilih Resign Kerja, Saeful Fokus Budidaya Jamur Tiram di Tengah Pandemi,

Di tengah situasi perekonomian sulit, karena pandemi Covid-19, Saefulohi Anwar (22) berani buka terobosan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya di sebuah perusahaan, dan beralih menjadi pengusaha jamur.

 

USEP SAEPULOH, Tegalwaru

Saeful, Sapaan akrab Saefulohi warga Desa Cintalaksana Kecamatan Tegalwaru, mengaku belajar budidaya jamur tiram sejak Bulan Ramadhan yang lalu. Ia memanfaatkan areal lahan kecil di belakang rumahnya.

Meskipun pengetahuan perihal budidaya jamur tiram baru seumur jagung, Saeful nekat akan digeluti demi meningkatkan perekonomian di wilayahnya. “Dulu saya kerja di sebuah perusahaan, Tapi saya lebih memilih resign (keluar kerja) dan fokus ke usaha jamur,” ujarnya.

Dijelaskan, dari luas lahan kecil yang dimiliki bisa menghasilkan sekitar 10 hingga 15 kilogram jamur per harinya. Sedangkan harga jamur Rp10.000 per kilogramnya. “Bahkan kalau lagi banyak, Jamur bisa dapat sampai 25 kilogram,” katanya.

Saeful mengungkapkan, bahan dasar yang dipakai untuk budidaya jamur cukup sederhana yaitu serbuk kayu dicampur dedak dan kapur, lalu di kukus tujuh hingga delapan jam, campuran itu sebagai media penanaman. “Selepas di kukus bahan itu lalu dimasukan dalam plastik dan diikat menggunakan karet, dan selesai deh,” jelasnya.

Ia mengaku ada jenis jamur yang di budidaya yaitu jenis jamur tiram. Ada dua jenis jamur tiram, ada yang berwarna cokelat dan putih. Untuk jamur tiram yang berwarna coklat hingga saat ini belum diperjualbelikan, hanya yang berwarna putih saja.

“Jamur tiram warna cokelat baru saya coba dikonsumsi baik sama keluarga maupun saya bagi ke tetangga agar bisa merasakan perbedaannya, eh malah bilang yang cokelat lebih enak rasanya dibanding jamur yang warna putih,” pungkasnya.(use/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *