oleh

Permintaan Sayur Mayur Menurun, Petani Keluhkan Dampak PPKM Darurat

BANDUNG BARAT-Dampak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sebagian besar wilayah Indonesia, banyak usaha sektor pariwisata yang tutup sementara. Hal ini berimbas terhadap berbagai sektor, diantaranya sektor pertanian.

Meskipun ketersediaan komoditi pertanian normal, namun daya beli masyarakat menurun dan kebutuhan akan sayur mayur tengah menurun.

Koordinator Penyuluh Pertanian di Lembang Darwin mengatakan, banyak petani binaannya yang mengeluh karena market sayur mayur banyak yang tidak operasional. Sehingga kebutuhan sayuran di pasar atau di distributor berkurang.

Padahal menurutnya, ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga, namun petani kesulitan untuk menjualnya. “Harga tomat kan lagi bagus nih, kisaran Rp9.000 per kilo, ini lagi bagus, namun marketnya kurang,” katanya saat dihubungi, Senin (26/7).

Dia menambahkan, apalagi banyak hotel di Jakarta yang tutup sehingga berpengaruh terhadap penjualan komoditi istimewa. “Dari Lembang kan banyak sayuran yang masuk ke hotel berbintang di daerah kota-kota besar, tapi dalam keadaan sekarang barang banyak yang tidak terserap,” ungkapnya.

Bahkan, menurut Darwin, akibat kurangnya daya beli dan kebutuhan masyarakat akan sayuran, beberapa harga komoditi menurun anjlok, seperti harga cabai turun drastis. “Harga cabai-cabaian di petani itu muali dari Rp6.000 hingga Rp12.000. Biasanya cabai jadi raja, sekarang justru anjlok,” jelasnya.

Sementara itu, petani asal Lembang Yaya mengakui, ada kenaikan harga tomat dan penurunan harga cabai di tingkat petani. “Di tempat saya harga tomat sekitar Rp9.700 dan harga Cabai Rp9.000 an. Itu harga dari kebun,” ujarnya.(eko/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *