oleh

Peringati Hari Sumpah Pemuda, 100 Buku Sejarah Diterbitkan Lagi

Persatuan Penulis Indonesia, Satupena, mempunyai inisiatif untuk memilih 100 buku sejarah untuk kembali diterbitkan agar mewarnai sejarah dan budaya Indonesia sejak era kolonial.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam menyambut Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2021.

Buku penting itu kembali bisa diakses publik. Ini juga bagian dari aspirasi masyarakat. Dua hal yang kami lakukan,” ujar Ketua Umum Satupena, Denny JA, dalam keterangannya, Selasa (26/10/2021).

Pertama, Satupena memilih 100 judul buku bersejarah itu melalui kriteria, survei, dan penilaian para ahli. Kedua, menerbitkan kembali 100 buku itu dalam bentuk print on demand,” sambungnya.

Ia menuturkan, sejumlah contoh judul buku yang akan diterbitkan kembali. Yaitu, buku berjudul

“Di Bawah Bendera Revolusi” karangan Soekarno (Bung Karno) (1959),

“Renungan Indonesia” karangan Sutan Sjahrir (1947),

“Demokrasi kita” karangan Mochamad Hatta (Bung Hatta) (1963), dan

“RA Kartini” yang menulis Habis Gelap Terbitlah Terang (1922).

Marah Rusli menulis Siti Nurbaya (1922), dan

“Layar Terkembang” karya Takdir Alisjahbana (1936).

“Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar (1920), dan Perburuan oleh Pramudya Ananta Toer (1950).

Itulah contoh buku fiksi dan non fiksi yang memengaruhi batin, sejarah, dan budaya Indonesia. Tapi banyak buku lain yang juga berpengaruh,” ucapnya.

Denny juga menjelaskan, 100 buku itu akan dihadirkan kembali dengan tata bahasa masa kini.

Buku tersebut juga tersedia dalam print on demand suapaya biaa dicetak siapa pun yang memesan.

Ada beberapa prosedur yang ditetapkan Satupena dalam memilih 100 buku bersejarah tersebut. Prosedur yang berbeda dapat menghasilkan hasil yang berbeda,” terangnya.

Prosedur pemilihan buku bersejarah itu dimulai dari 100 buku dipilih forum penulis.

Sebuah pertanyaan terbuka telah diedarkan sejak akhir Agustus 2021 sampai pertengahan September 2021, kepada empat grup WhatsApp (WAG) yang masing-masing beranggotakan 100-250 penulis.

Lalu, dari undangan itu terkumpul total 42 judul buku non-fiksi dan 73 buku fiksi. Total terkumpul 115 judul buku.

Satupena membentuk tim ahli untuk menyempurnakan pilihan forum itu. Masing masing dua orang untuk non-fiksi, yaitu Azyumardi Azra dan Manuel Kaisiepo. Tim ahli untuk buku fiksi, yaitu Nia Samsihono dan Suminto A. Sayuti.

Sesuai usulan yang masuk, pilihan dipadatkan dan diperkaya menjadi 100 judul buku. Tim selektor diberikan wewenang mengusulkan buku lain, termasuk menambah, mengurangi dari daftar itu agar lebih mendekati kriteria,” imbuhnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *