oleh

Tega, Seorang Kakek Cabuli Cucu Dibawah Umur, Pelaku Divonis Penjara 11 Tahun

BANDUNG BARAT-Seorang pria lanjut usia di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terpaksa harus mendekam dalam penjara karena mencabuli anak dibawah umur. Perbuatan tercela pria yang berprofesi sebagai penjaga villa itu dilakukan pada akhir tahun lalu.

Perilaku bejat AB (64) dilakukan saat korban sering mengantarkan bekal makanan ke tempatnya bekerja setiap sore. Dari pengakuan orangtua korban, pelaku juga merupakan kakek korban. Kondisi villa yang sepi membuat pelaku leluasa menjalankan aksinya hingga korban hamil.

Terkuaknya kasus pencabulan yang menimpa NU (14) berawal dari kecurigaan pihak keluarga yang melihat kondisi perutnya yang makin membesar. Setelah diperiksa ke bidan, dia ternyata sedang mengandung 7 bulan. “Baru ketahuan sekitar bulan Maret, diantar bibinya ke bidan. Ternyata kaget anak saya sudah hamil 7 bulan,” kata H, ibu kandung korban, Selasa (30/11).

Awalnya, NU tidak mau menyebut siapa orang yang menghamilinya. Setelah didesak, dia lantas mengaku kalau ia sudah dicabuli oleh kakeknya sendiri. “Awalnya enggak ngaku, nangis dan takut. Bibinya terus membujuk, setelah tenang, dia akhirnya mau menjawab kalau perbuatan itu dilakukan oleh kakeknya sendiri. Saya tidak pernah menyangka,” ujarnya.

Merasa tak terima anaknya dicabuli, perasaan H hancur, terlebih perbuatan itu dilakukan oleh saudara kandung, bahkan kejadian itu terdengar para tetangga. Setelah dirundingkan bersama Ketua RT dan RW, H kemudian berani melaporkan kasus itu ke polisi.

“Tetangga semua berkumpul, kata mereka mau dibereskan kekeluargaan terserah pihak keluarga, mau dinikahkan tapi bingung karena masih hubungan sedarah. Tidak ada jalan keluar, saya segera laporan ke polisi,” ungkapnya.

Dengan diantar H, polisi segera menangkap AB di tempatnya bekerja. Warga yang sudah terlanjur emosi hampir saja menghajar pelaku. Kini AB sudah divonis dan dijebloskan dalam penjara selama 11 tahun.

“Ketika di ruang sidang, saya ditanya hakim dan jaksa, apa ibu mau mengampuni? Saya bilang tidak, tidak ada toleransi, diampuni. Anak saya masih kecil, masa depannya telah hancur,” bebernya.

Sementara itu setelah bayinya lahir, pihak keluarga menitipkannya kepada sanak saudaranya di Lembang. Kondisi psikologis NU yang putus sekolah sejak kelas 4 SD itu pun sudah mulai bisa melupakan tragedi yang pernah menimpanya, ia sering diajak ibunya mengurus lahan pertanian di dekat rumahnya.

“Harapan sekarang, mudah-mudahan NU bisa melanjutkan sekolah, sekarang mestinya ia duduk di bangku SMP. Karena enggak ada biaya, terpaksa dia hanya sampai kelas 4 SD,” tuturnya.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bandung Barat, Prihatin Mulyati mengaku sudah mengetahui kabar pelecehan terhadap anak dibawah umur oleh seorang kakek di Lembang.

“Kami sudah bertemu dengan orangtuanya sekaligus korban, mendengarkan kejadian yang dialaminya. Sebelumnya kami mendapat laporan itu dari pihak kepolisian,” ungkap Mulyati.

Pihaknya mengapresiasi kerja cepat polisi yang segera mengamankan pelaku setelah menerima laporan, karena jika tidak segera ditindak, dikhawatirkan bisa memicu keresahan warga. “Kami takutkan, korban trauma kalau terus menerus bertemu pelaku,” ucap Mulyati.

Menanggapi kasus pencabulan anak yang dilakukan oleh anggota keluarga terdekat, Mulyati berpendapat, kepedulian orang sekitar sangat penting dalam melindungi keselamatan anak.

Disamping itu, jika melihat atau mendengar hal yang mencurigakan sebaiknya segera melapor ke RT, RW, Babinsa atau Bhabinkamtibmas.

“Keluarga terdekat yang seharusnya melindungi justru melakukan tindakan tak bermoral, berupa kekerasan seksual. Kemungkinan bisa saja ada kasus lain yang belum dilaporkan, maka kami minta peran masyarakat untuk mengawasi dan melaporkan apabila ada hal mencurigakan di sekitar lingkungannya,” tambahnya.

Disinggung mengenai keinginan orangtua NU agar anaknya kembali melanjutkan sekolah, Mulyati akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar dia bisa mengikuti sekolah Pendidikan Kesetaraan Paket A (setara SD).

“Akan kami usahakan, nanti berkoordinasi dengan pihak desa. Kebetulan anaknya ingin sekali melanjutkan sekolah,” tandasnya. (eko/sep)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *