oleh

Mengenal Jembatan Lori Jadi Situs Sejarah Peninggalan Belanda di Subang

SUBANG-Dalam rangka mewujudkan Desa Sidajaya sebagai Desa Wisata berbasis Budaya baru di Kabupaten Subang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Subang beserta Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Subang tetapkan Jembatan Lori di Desa Sidajaya sebagai situs sejarah.

Jembatan Lori atau sekarang dikenal dengan sebutan Jembatan Pelangi ditetapkan sebagai Situs Sejarah sejak 29 Desember 2021.

Jembatan sepanjang 100 meter tersebut, merupakan jembatan peninggalan Belanda yang merupakan akses untuk mengangkut hasil bumi zaman perusahaan Pamanoekan & Tjiasem (P&T) Lands.

Rangkaian acara diisi dengan pemasangan papan informasi dari Disdikbud Subang, bahwa Jembatan Lori merupakan Situs Sejarah dan disaksikan oleh puluhan warga Desa Sidajaya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Muspika Cipunagara beserta eks Camat Cipunagara, H Ubay Subarkah, Danramil Pagaden, Wakapolsek Pagaden, Pemdes Sidajaya serta Bos Urip selaku penggagas Desa Sidajaya menjadi Desa Wisata.

Dalam paparannya Kabid Disdikbud Subang Moch Khadar menyampaikan, Jembatan Lori merupakan jembatan peninggalan perusahaan P&T Land.

“Kita tahu P&T Land itu berkuasa di Subang mulai tahun 1813 dan ini adalah salah satu peninggalannya,”  kata Khadar.

Menurutnya, berdasarkan Undang-undang Cagar Budaya, pihak Disdikbud melakukan inventarisasi di Kabupaten Subang dan jembatan Lori merupakan salah satu has  hasil dari inventarisasi tersebut.

“Nah jembatan ini adalah salah satu potensi Cagar Budaya, yaitu Jembatan Lori,” ungkap Moch Kadar.

Bahkan guna mengetahui apakah jembatan ini dapat menjadi situs cagar budaya, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, akan ada Tim Ahli yang melakukan kajian untuk jembatan ini.

“Nanti ada tim ahli untuk mengkaji untuk menetapkan apakah ini termasuk situs cagar budaya atau bukan, kalau hasilnya nanti direkomendasikan jadi Cagar Budaya, Bupati langsung nanti yang membuat surat keputusan atau ketetapan,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Sidajaya Carta berharap, dengan dilaksanakannya pemasangan plang untuk pengamanan sebagai salah satu situs peninggalan sejarah yang akan dilanjutkan menjadi salah satu cagar budaya tidak akan ada lagi pihak-pihak lain yang merongrong untuk melakukan pembongkaran secara liar jembatan ini.

“Sebab jembatan ini juga salah satu jembatan yang masih berfungsi bagi warga meskipun di sebelahnya sudah terbangun jembatan lain,” ucapnya.

Apalagi selain masih memiliki fungsi jembatan tersebut juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. “Tentu jika proses mengenai kajian cagar budaya yang dilakukan enam udahan akan membawa manfaat untuk desa Sidajaya,” ucapnya.

Ketika Subang di kuasai oleh Pamanoekan & Tjiasem landen atau di singkat P&T Land yang bermilik saudagar kopi bernama Peter Willem Hofland membuat 8 kedemangan(Pejabat partikelir yang menangani satu wilayah) yakni Cisalak, Wanareja, Sagalaherang, Pagaden, Pamanukan, Ciasem, Purwadadi, dan Kalijati. Pada tahun 1859 untuk membantu ia mengurus hasil perkebunan di Kabupaten Subang ini.

Hasil Kekayaan alam Cigarukgak yang masuk kedalam Kecamatan Cipunagara dan masuk ke dalam kedemangan Pagaden yang nantinya melewati Desa Manyingsal lalu ke pusat Kota Subang.

Kini peninggalan-peninggalan sejarah sudah tidak dapat terlihat lagi. Pabrik pabrik, serta rel kereta lori menuju Manyingsal pun sudah hilang, yang tersisa kini hanya jembatan tua yang di bangun zaman Belanda tersebut menjadi penguhubung desa yang masih menyimpan rel lori pengangkut hasil kekayaan alam.(ygi/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *