oleh

KH. Hasan Abdullah Sahal Resmikan Masjid Al-Hamid di Pesantren Berbasis Wakaf Darul Falah Subang

SUBANG – Pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo, KH Hasan Abdullah Sahal menandatangani prasasti Peresmian Masjid Al Hamid Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang, hari ini, Sabtu (8/1).

Masjid Al Hamid seluas 400 Meter persegi yang berada di kompleks Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang, merupakan wakaf dari H Agus Hamid dan Hj Juju Juariah. Dibangun diatas ketinggian dengan arsitektur modern karya Ariston, seorang arsitek asal pekalongan yang juga mewakafkan design gambarnya.

Dalam amanat dan nasehatnya, KH Hasan Abdullah Sahal menekankan kembali pentingnya keberadaan pesantren dalam menjaga akhlak dan masa depan bangsa.

Pesantren juga menurutnya menjadi garda terdepan dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI.

“Para santri yang belajar di pesantren, mendapat pendidikan keagamaan, pendidikan mental dan karakter, pendidikan tentang kehidupan, sehingga kelak terjun ke masyarakat menjadi orang yang terhormat dan berharga serta bermanfaat. Saat ini banyak orang yang dihormati dan dihargai, padahal sejatinya tidak terhormat dan tidak berharga,” katanya.

Pada kesempatan yang lain, Pimpinan Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Ustadz Komarudin S.Pd menyampaikan bahwa Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang, dibangun dengan konsep wakaf.

“Pondok ini diwakafkan untuk ummat islam seluruh dunia. Bukan milik perorangan, keluarga ataupun yayasan tertentu. Seluruh asset nya, baik berupa tanah maupun bangunan diwakafkan. Demikian juga pengelolaannya,” ungkapnya.

Dia menambahkan jika tidak ada kepentingan pribadi ataupun keluarga dalam pengelolaan wakaf pondok tersebut. Semua yang terlibat dalam pengelolaan pondok, kata Komarudin, termasuk pimpinan pondoknya, hanya mempunyai prinsip give, give and give. Tidak ada take and give.

Ketua Dewan Pembinan Yayasan Pesantren Darul Falah Cimenteng H Agus Maulana menambahkan bahwa Pondok ini menjadi ajang untuk semua unsur dan elemen masyarakat untuk berkontribusi terhadap pendidikan masyarakat dari kalangan tidak mampu, agar mendapatkan kualitas pendidikan yang memadai.

Pondok ini katanya juga adalah pondok yang mandiri, tidak boleh diintervensi oleh siapapun. Tidak boleh bergantung pada siapapun. Oleh karena itu harus menjaga kemandiriannya, termasuk kemandirian ekonomi. Untuk itu terus dibangun sumber sumber pendanaan yang berbasis pada wakaf produktif.

“Unit usaha yang dikelola secara profesional, tapi berbasis wakaf. Melalui pengembangan wakaf produktif tersebut, pondok ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dirinya baik operasional maupun pengembangan infrastruktur pendidikan lainnya secara optimal,” katanya.

Ponpes tersebut juga kata Agus memberikan beasiswa secara penuh kepada para santri yang tidak mampu, membuka akses bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan pesantren yang berkualitas. (idr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *