oleh

Edisi Hari Kartini 2022: Hj. Aas Aswati Terus Berkarya Membangun Desa

SUBANG-Era milenial ini wanita terus tampil di setiap bagian organisasi. Baik pemerintahan, swasta, ormas keagamaan dan lembaga independent lainnya. Sosok wanita sejak era R. Kartini telah mengalami perubahan di setiap strata masyarakat.

Kartini yang saat itu dibelenggu dengan aturan peodalisme membuat wanita tak mampu berkiprah, berkontribusi dalam membangun dan membuat sebuah gagasan di tengah masyarakat.

Wanita dengan sistem feodalistik hanya bergiat merawat keluarganya, melayani semua kebutuhan rumah tangga dan bisa diistilahkan hanya sebatas dapur, sumur dan kasur.

Namun Raden Ajeung Kartini kala itu, mampu mengubah paradigma di masyarakat. Bahwa wanita sudah saatnya tampil selangkah, mengisi ruang dan waktu, dan sederajat dengan pria dalam hal.kegiatan sosial, budaya dan pemerintahan. Sehingga muncul istilah

“Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Seperti halnya, sosok wanita yang satu ini, dialah Hj. Aas Aswati Kepala Desa Sumurgintung Kecamatan Pagaden Barat Kabupaten Subang.Yang sudah tiga tahun ini menjabat sebagai pimpinan pemerintah terdekat dengan masyarakat dalam masa satu periode berjalan.
Telah banyak merubah potret desa baik pembangunan fisik infrastruktur juga, budaya juga sosial dan pemberdayaan masyarakat, melalui program yang dicanangkan pemerintah.

Seperti kegiatan PKK, Kader Posyandu dan Kelompok Petani Ikan dan Padi. Di mana Desa Sumurgintung termasuk produsen ikan mas, yang menyuplai petani ikan di Jatilihur dan Cirata Kabupaten Purwakarta. Sehingga roda ekonomi dari budi daya ikan mas ini menjadi idola dan primadona di Desa Sumurgintung.

Hj. Aas sapaan akrabnya menuturkan, sejak dirinya menjabat Kades Sumurgintung, bertekad untuk membangun desa tanah kelahirannya. Infrastruktur jalan lingkungan kampung diperbaiki, kondisi tata kantor desa di tata rapi, penataan lapang bola dan volly serta banyak lagi.
Pemberdayaan masyarakat desa , kader posyandu melalui pelatihan pelatihan yang didanai dari anggaran dana desa. Padat karya tunai sebagai upaya membantu warga tidak mampu, pembangunan rutilahu dan program lainnya.

“Ya intinya tekad yang kuat untuk terus membangun desa, menjalankan amanah masyarakat, menuju desa yang maju dan mandiri,” tukasnya.(dan/vry)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.