Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia: Pentingnya SNI Terhadap Produk HPTL

Editor:

RAGAM – Pemerintah Indonesia telah mengakui rokok elektrik seperti vape melalui pengenaan cukai sejak 2018. Bahkan tahun 2022, kategorisasi produk rokok elektrik semakin diperhatikan oleh Pemerintah.

Walaupun terkadang misinformasi perihal vape masih banyak ditemui, namun pemerintah di sejumlah negara justru mengambil langkah maju untuk mengakui Vape  dan menjadikannya sebagai bagian dari strategi menurunkan angka perokok.

Di Indonesia, semenjak ditetapkan kebijakan cukai likuid untuk vape pada 2018, seluruh produsen wajib menempelkan pita cukai di kemasan likuid. Salah satunya bertujuan menghindari Liquid dan vape ilegal.

Likuid dan device ilegal tentu mempunyai potensi disalahgunakan dan juga mengandung kandungan zat-zat berbahaya yang tidak standar, seperti zat psikotropika bahkan narkotika.

Di samping itu, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) Paido Siahaan mengingatkan pentingnya SNI terhadap keamanan produk HPTL.

Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia: Pentingnya SNI Terhadap Produk HPTL

“SNI diperlukan agar konsumen dapat menikmati barang yang sesuai antara harga dan kualitasnya,” terang Paido dalam keterangan tertulisnya via JawaPos.com, Senin (11/7).

Popularitas vape juga meningkat di kalangan perokok yang mau beralih ke produk alternatif.

Sebuah Studi dari University of Queensland, Australia menyebut, vape 50 persen lebih efektif membantu perokok lepas dari kecanduan merokok dibanding terapi pengganti nikotin.

Perkembangan Inovasi seiring dengan berkembangnya inovasi dalam industri vape. Maka dari itu, kebutuhan konsumen yang berhubungan dengan aspek keamanan dan kenyamanan tentu harus mendapat porsi perhatian utama.

Ketua Indonesia Vapor Group, Aryo Andrianto pun memaparkan, sejumlah inovasi produk hadir, salah satunya munculnya vape sistem tertutup (closed system) yang menjadi sebuah terobosan baru. Produk sistem tertutup menyatukan likuid, cangkang (cartridge), dan coil menjadi satu kesatuan yang tidak dapat diutak-atik oleh pengguna. Selain itu, produk tersebut lebih sederhana untuk pengguna.

“Pada vape sistem tertutup, produk tersebut lebih sederhana karena hanya terdiri dari cartridge sekali pakai dan baterainya. Ini berbeda dengan vape sistem terbuka yang membutuhkan likuid yang terpisah dari cartridge dan lain-lain,” jelasnya.

Lalu, produk vape sistem tertutup lebih terjangkau untuk pasar juga lantaran berpotensi mempunyai titik distribusi yang lebih banyak dibandingkan vape sistem terbuka.

Aryo memaparkan, tren dan inovasi vape yang terus meningkat perlu dukungan dari pemerintah. Pemerintah mempunyai peran penting guna mendorong industri agar semakin berkembang dan berinovasi menghasilkan produk-produk dengan potensi manfaat, lebih rendah risiko, dan aman untuk konsumen.

“Concern utama kita regulasi. Industri vape masih baru, cukai baru ada 3 tahun yang lalu. Saat ini, fokus kita masih membenahi regulasi yang ada. Kami butuh dukungan pemerintah untuk membangun industrinya di Indonesia, karena Indonesia memiliki pasar rokok elektrik yang sangat bagus dan sudah diakui dunia,” jelas Aryo.

Sekilas perbedaan pada Vape adalah, seperti Mod yang merupakan

Perbedaan Pod Dan Mod Vape

Ukruan mod lebih besar dibanding pod. Sebab pada MOD, ada baterai eksternal atau menggunakan dual baterai. Sedangkan pada POD menggunakan baterai tanam. Lalu juga Pod tidak dibuat untuk –ngetrick– dengan uap tebal, dibuat dengan salah satu tujuan lebih kepada sisi efisien dan mempermudah pengguna ketika ingin membawanya kemana-mana. (Jni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.