Menikmati Kelezatan Kuliner Legendaris Sate Maranggi Tata di Sagalaherang

Editor:

Lapak Seadanya, Selalu Ramai Dikunjungi Pembeli

Sate maranggi merupakan makanan khas asal Kabupaten Purwakarta. Meski demikian sate maranggi tersebut penjualannya  tersebar luas di beberapa wilayah Jawa Barat. Salah satunya ada di Kabupaten Subang.

INDRAWAN SETIADI, Subang

Di Kabupaten Subang sendiri ternyata terdapat kuliner sate maranggi yang dikenal sudah melegenda karena sudah berjualan sejak puluhan tahun.

Sate maranggi legendaris tersebut berada di sekitar Alun-alun Sagalaherang tepatnya di depan Polsek Sagalaherang, Subang. Namanya yakni “Sate Maranggi Tata”.

Meskipun dengan berjualan di lapak seadanya, Sate Maranggi Tata ini selalu ramai dikunjungi penikmat sate. Terlebih saat memasuki akhir pekan.

Salah satu warga asal Kabupaten Purwakarta, Indri (38) mengungkapkan, ia hendak berlibur bersama dengan keluarganya ke wilayah Lembang. Dengan melintasi jalur Sagalaherang Subang ia tidak pernah melewatkan untuk menikmati Sate Maranggi Tata itu.

“Kalau mau main ke Lembang Bandung atau ke Ciater kita pasti lewat jalur Sagalaherang ini. Saya selalu sempatkan bersama dengan suami dan anak-anak buat makan dulu Sate Maranggi Tata dulu, sudah sering banget makan di sini,” ujar Indri kepada Pasundan Ekspres belum lama ini.

Indri menyebut, Sate Maranggi Tata tersebut menjadi makanan favorit bagi keluarganya. Terlebih dari rasanya ia menilai sangat berbeda dengan sate maranggi lain yang sudah ia jajal.

“Rasanya juga beda banget sama sate maranggi yang lain pokoknya, selain makan sate maranggi kan ada juga ketan bakarnya jadi cocok. Kalau menurut saya bedanya itu dari sambal kecapnya yah, soalnya kalau di tempat lain tuh cuman kecap aja gak ada tambahan lain. Nah di sini sambal kecapnya pakai cabai rawit merah jadi ada rasa pedasnya. Ditambah juga sate maranggi ini sudah lama banget berjualan, waktu saya masih kecil juga katanya sudah ada,” ungkapnya.

Selain menghidangkan sate maranggi, kuliner legendaris ini juga terdapat menu lain seperti, ketan bakar, bahkan nasi timbel.

Sementara itu, menurut pemilik sate maranggi, Tata (59) penjualan sate maranggi di Sagalaherang ini sudah memasuki generasi kedua. Sebelumnya yang berjualan sate maranggi ini yakni ibunya yang sudah meninggal sejak tahun 2010 lalu.

“Ini baru generasi kedua, saya cuman melanjutkan usaha dari ibu saya saja. Memang waktu ibu saya masih berjualan di tahun 90an sudah banyak pelanggannya,” kata Tata.

Masih kata Tata, dalam sehari ia yang berjualan bersama dengan istrinya tersebut dapat menghabiskan sekitar sepuluh Kilogram ketan dalam sehari, serta empat Kilogram daging sapi.

“Allhamdulilah sehari bisa habis sepuluh kilogram ketan. Nah kalau sate maranggi dari daging sapi habiskan sekitar empat kilogram. Kalau momen weekend selalu abis,” tuturnya.

Untuk harganya sendiri, ia menjual dengan rincian satu tusuk sate maranggi Rp3.000. Sementara ketan bakar satunya hanya lima ribu rupiah saja.

“Sambal kecapnya bisa ambil sepuasnya gak dibatas. Bukanya mulai dari jam delapan pagi, jam empat sore juga Allhamdulilah selalu habis,” kata dia.(idr/ysp)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.