Siswa SD Pasawahan Kidul Purwakarta Buat Pestisida Alami, Manfaatkan Limbah Kulit Bawang

Editor:

PURWAKARTA-Siswa SD Negeri Pasawahan Kidul Kabupaten Purwakarta berinovasi dengan membuat pestisida alami dengan bahan dasar limbah kulit bawang merah dan bawang putih.

Seperti diketahui, penggunaan pestisida untuk tanaman bermanfaat sebagai pencegahan terhadap hama penyakit. Namun, kebanyakan pestisida berbahan kimia sehingga residunya bisa jadi termakan dan masuk ke dalam tubuh.

Kepala SDN Pasawahan Kidul, Ai Jubaedah menjelaskan, kreativitas siswanya dalam membuat pestisida alami berawal dari banyaknya tanaman di sekolah yang terserang hama.

“Seperti diketahui, seluruh SD di Kabupaten Purwakarta mendukung penuh kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta untuk melibatkan siswa dalam bercocok tanam,” kata Ai kepada wartawan, Senin (12/9).

Pihaknya pun memenuhi halaman sekolah dengan berbagai jenis tanaman. Mulai dari tanaman hias, sayuran, tanaman maupun buah-buahan.

“Dalam perkembangannya, ada beberapa jenis tanaman yang terserang hama. Maka dicarikan lah solusinya,” ujar Ai.

Salah satu solusi inovatif pun dibuat para siswa yang didampingi dua guru pembimbing, yakni Fitriyah Maylani dan Siti Nurazizah.

“Berkat bimbingan dua guru tersebut, para siswa berhasil menciptakan pestisida alami dari limbah kulit bawang merah dan bawang putih,” ucapnya.

Kulit bawang merah dan bawang putih tersebut, kata Ai, difermentasikan selama 1 kali 24 jam.

“Khasiat dari pestisida alami ini dapat menangkal hama sekaligus merangsang pertumbuhan akar tanaman. Sehingga otomatis, tanaman pun bisa tumbuh dengan subur,” kata Ai.

Sementara itu, salah seorang siswa Azkia Rasyifa menyebutkan, limbah kulit bawang merah dan bawang putih sengaja dikumpulkan dari rumah masing-masing siswa.

Kemudian, kata Azkia, di sekolah dilakukan proses fermentasi sehingga menjadi pestisida alami.

“Pestisida alami ini juga bisa berfungsi sebagai pupuk cair organik dan ampas kulit bawang dapat diubah menjadi kompos,” ujarnya.

Lebih lanjut Azkia menambahkan, tak hanya kulit bawang, saat ini siswa juga diajak memanfaatkan limbah organik rumah tangga lainnya, seperti limbah sayuran, untuk dijadikan kompos.

“Air lindi yang merupakan pupuk cair organik bisa dihasilkan melalui proses komposter. Yaitu, difermentasikan terlebih dahulu di dalam tong komposter khusus sela berbulan-bulan,” ucap Azkia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *