Trikon

Kang Marbawi
0 Komentar

Pojokan 119

Terlintas di layar kaca, sebuah iklan bertajuk rayakan Korean Wave dengan wajah artis Korea. Serasa terantuk nalar ini. Apakah hal itu sebuah konfirmasi dan evidance bahwa telah berlangsung lama dan masih terus beralangsung, gelombang budaya Korea menggerus generasi muda bangsa ini. Betapa efektifnya kebijakan Segyehwa-nya Kim Young Sam, Presiden Korea Selatan tahun 1992-1997.

Kim Young Sam menjadikan budaya Korea sebagai bagian dari strategi global dengan mengusung “creativity of the New Korea”. Sebuah strategi kebudayaan yang berhasil membawa dampak dan mendongkrak ekonomi Korea menjadi maju. Startegi itu justru dengan mengekspor (sekaligus) menginvasi negara lain dengan budaya Korea. Korea berhasil menjadi eksportir kebudayaan Korea: berupa Drama TV (K-Drama), music (K-Pop), game, kuliner sampai fashion (K-Fashion) menjadikan gaya hidup. Dan pada sisi sarkais, mereka mengivasi budaya kita.

Seolah tersirap dengan aneka glomour dan glowingnya artis dan produk budaya Korea, masyarakat ini terhipno dengan Korean Wave. Dengan promotor utama dunia entertaint yang menjadi nafas televisi dan media sosial. Melupakan dan tak mengingat kepada jati diri kebudayaan sendiri.
Entah bangsa ini pelupa atau pura-pura lupa atau memang karakter “gumunan”, mudah terpesona dengan barang baru yang terlihat glowing. Bangsa ini lupa dengan wasit Ki Hajar Dewantoro. Wasiat yang sebenarnya jika dipegang dan diamalkan menjadikan kebudayaan dan jati diri bangsa ini semakin kuat. Pun bisa mendongkrak ekonomi bangsa.

Baca Juga:Neng Supartini Buka Turnamen BPD Cup di PamanukanDPC Demokrat Subang Gelar Gerak Jalan Santai Gratis, Hadiah Utama Sepeda Motor

Jika Korea punya “creativity of the New Korea”, Ki Hajar memiliki wasiat Trikon, yakni: “kontinuitas”, “konvergenisitas”, dan “konsentrisitas”. Proses kontinuitas atau kesinambungan ini berkaitan dengan upaya yang terus menerus perihal inti nilai yang ditanamkan yang mengambil dari ruang waktu: masa silam, sekarang dan masa depan. Ini artinya proses pendidikan adalah merupakan sebuah kerja budaya yang bersifat historis bukan ahistoris. Kontinuitas atau kesinambungan adalah proses rekayasa sosial melalui pendidikan atau proses kreatif lainnya, untuk mewariskan dan menguatkan budaya.

Wasiat Ki Hadjar pada saat Dies Natalis ke VII UGM tahun 1956 ini mencontohkan, agar kita tidak alergi mengambil nilai-nilai yang baik dari luar. Namun tetap harus menunjukkan kepribadian bangsa sendiri. Inilah yang dimaksud sebagai jati diri dan sekaligus identitas kebangsaan Indonesia.

0 Komentar