Kementan Genjot Luasan Tanaman Sorgum pada 2023, Tersebar di 11 Provinsi 

Kementan Genjot Luasan Tanaman Sorgum pada 2023, Tersebar di 11 Provinsi 
0 Komentar

JAKARTA-Kementerian Pertanian (Kementan) hendak mengembangkan komoditi sorgum di 11 provinsi pada tahun 2023, bertambah dari tahun ini yang ada di tujuh provinsi.

Nusa Tenggara Timur akan menjadi provinsi utama dengan luas pengembangan sorgum terbesar.

Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Muhammad Ismail Wahab menjelaskan, pada 2023 luas lahan sorgum di Provinsi NTT diproyeksikan sebesar 25.000 hektare dari total luas sorgum 115.000 hektare.

Baca Juga:Milangkala Desa Cijambe ke-135, Kapolsek Sebut Situasi di Cijambe Kondusif Desa Cijambe Berusia 135 Tahun, Pemekaran dari Gunungtua Seperti Pembagian Waris 

Sisanya, tersebar di Provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Dengan luasan sebesar itu, kata Ismail, diproyeksikan bisa diproduksi sorgum 96.540 ton. “Pulau Sumba akan dijadikan sentra sorgum di NTT dengan rencana penanaman seluas 25.000 hektare,” kata Ismail dalam diskusi daring Alinea Forum bertema “Pengembangan Sorgum di NTT: Apa Pembelajaran yang Dipetik?” yang digelar oleh Alinea.id, Jumat (7/10).

Saat ini, kata Ismail, luas lahan sorgum di NTT mencapai 3.447 hektare. Terluas di Indonesia. Ia mengestimasi, dengan produktivitas sebesar 3 ton per hektare produksi sorgum NTT tahun ini sebesar 11.470 ton.

Ismail memperkirakan, dari lahan seluas 115 ribu hektare pada 2023 akan dihasilkan sorgum sebesar 444.084 ton. Nilainya setara Rp1,776 triliun. Di tahun 2024, luas tanam terus ditambah menjadi total 150.000 hektare dengan proyeksi produksi sorgum sebesar 579.240 ton.

Sorgum, jelas dia, amat cocok dikembangkan di Tanah Air. Selain potensi lahan pengembangan sorgum yang masih sangat luas, juga ada dukungan pemerintah seperti NTT yang mendorong tiap kabupaten menanam sorgum serta masyarakat sudah familiar dengan sorgum sebagai pangan.

Yang menggembirakan, kata Ismail, saat ini sudah ada pembeli siaga (offtaker) yang berkapasitas industri, yakni PT Sumba Moelti Agriculture di Kabupaten Sumba Timur.

Kendati demikian, jelas dia, saat ini pengembangan sorgum terkendala lemahnya pendampingan dan pembinaan oleh petugas yang belum intensif.

Baca Juga:Potensi Subang Selatan Semakin Bertumbuh, Tokoh Milenial Fauzi Awalludin Akan Nyaleg Perjuangkan Kesejahteraan Masyarakat Tingkatkan Potensi Olahan Serat Daun Nanas, Pertamina EP Subang Field Kembangkan Produk Green Textile

Pengendalian organisme pengganggu tanaman belum bisa dilakukan optimal. Benih, pupuk, dan pestisida ketersediannya belum mencukupi. Pengetahuan petani mengenai budidaya dan penanganan pascapanen sorgum, klaim Ismail, juga masih terbatas.

Sementara itu, Renata Puji Sumedi dari Yayasan Keanekaragaman Hayati menjelaskan sejumlah aspek yang harus diperhatikan dalam produksi sorgum di masa depan.

0 Komentar