Flexing dan Lunturnya Budaya Ketimuran

Flexing
0 Komentar

Perkembangan teknologi mendorong perkembangan media sosial. Dalam memanfaatkan media sosial para pemiliknya berlomba-lomba menghasilkan karya yang menarik tanpa mempertimbangkan perilaku positif atau negatif. Salah satu perilaku yang sering kita temukan di media sosial adalah perilaku flexing.

Mengutip dari Cambride Dictionary Flexing merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa seseorang sangat bangga atau senang terhadap sesuatu yang dimilikinya, bisanya dilakukan dengan sedikit mengganggu kenyamanan orang lain. Lebih lanjut dalam gooddoctor.co.id menjelaskan bahwa flexing merupakan cara seseorang untuk memamerkan semua hal yang sebenarnya bukan miliknya dengan tujuan untuk memperoleh perhatian dari orang lain.

Budaya flexing yang berseliweran di media sosial bukan hanya dilakukan oleh orang-orang kaya, bahkan orang biasapun melakukan flexing demi untuk memperlihatkan jati dirinya di dunia maya. Perilaku flexing ini kian menjamur saat para content creator dan artis dunia maya mengunggah berbagai konten yang berisi perilaku flexing. Bahkan seringpula kita menemukan konten orang yang memberikan bantuan, sedekah, dan kebaikan lainnya yang hanya demi konten untuk meraih pengunjung di media sosialnya.

Baca Juga:Hari Perempuan Internasional ,Kepala DP2KBP3A: Minimalisir Kekerasan Terhadap PerempuanUrban Kayoe Pusat Interior dan Renovasi Rumah terlengkap di Karawang

Perilaku flexing sebenarnya sudah lama dilakukan. Dulu fenomena flexing ini dimaknai sebagai konsumsi yang berlebihan. Hal itu telah diungkap dalam sebuah buku yang berjudul “The Theory of the Leisure Class: An Economic Study in the Evolution of Institutions” menyatakan bahwa zaman dahulu orang melalukan komsumsi mencolok dalam rangka menunjukkan status dan posisi sosial.

Kini perilaku flexing juga merambah ke kalangan siswa di sekolah. Beberapa waktu lalu media sosial Indonesia sempat dihebohkan oleh perilaku oknum anak SMP yang memamerkan kekasihnya sambil menyetir kendaraan mewah. Fenomena ini membuktikan bahwa perilaku flexing sudah mengakar di berbagai usia.

Perilaku flexing yang dialami oleh kalangan generasi muda karena adanya beberapa hal yaitu;

Pertama, butuh pengakuan. Masa muda merupakan masa yang penuh dengan pencarian, termasuk pencarian jatidiri. Dalam memperoleh pengakuan ini, mereka melakukan hal-hal yang cenderung negatif termasuk perilaku flexing terhadap dirinya. Bahkan tak jarang kita temukan mereka “mengeksplorasi” tubuh mereka demi sebuah pengakuan.

0 Komentar