yang berarti “batu bara”, merujuk pada perubahan warna kulit korban yang terkena antraks menjadi hitam.
Penyakit ini lebih sering menyerang hewan herbivora liar maupun ternak yang telah dijinakkan.
Antraks merupakan penyakit zoonosis, yang berarti dapat ditularkan antara hewan dan manusia, namun tidak dapat ditularkan antara manusia.
Baca Juga:Apa Itu Antraks, Penyakit Menular dari Hewan Ternak, yang Bikin Geger di Gunungkidul YogyakartaCara Membuat Akun Threads Instagram, Aplikasi Baru Pesaing Twitter
Bakteri Bacillus anthracis, yang menjadi penyebab antraks, adalah bakteri gram positif berbentuk batang yang tidak bergerak dan membentuk spora.
Bakteri ini dapat ditemukan dalam tanah dan dapat bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan untuk waktu yang lama.
Dalam situasi wabah antraks seperti yang terjadi di Gunungkidul, langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang tepat perlu diambil untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini.
Masyarakat dihimbau untuk tidak mengonsumsi daging ternak yang sakit atau mati secara mendadak dan menghindari tradisi brandu yang dapat menyebabkan penyebaran antraks.
Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan setempat juga telah melakukan tindakan seperti pengambilan sampel darah dan pemeriksaan serologi untuk mengidentifikasi kasus-kasus positif dan memonitor perkembangan situasi.
Dengan adanya upaya yang tepat dan kesadaran masyarakat yang tinggi, diharapkan wabah antraks di Gunungkidul dapat segera terkendali dan tidak menimbulkan lebih banyak korban.
