5 Perusahaan Dunia ini Terancam Bangkrut di Tahun 2021, Rugi hingga Rp23 T!

Editor:

RAGAM-Vaksin COVID-19 telah mulai didistribusikan bahkan sudah mulai diberikan ke sejumlah pihak yang dianggap paling memerlukan. Dengan ini sejumlah sektor bisnis pun mulai kembali bangkit secara perlahan. Meski begitu, beberapa perusahaan raksasa dunia masih menghadapi masa depan yang tak menentu.

  1. AMC (American Multi Cinema)

American Multi Cinema

Industri bioskop menjadi salah satu sektor yang paling terdampak dari adanya COVID-19. Bahkan, secara global, industri ini diperkirakan mengalami kerugian mencapai USD 32 miliar atau sekitar Rp451,44 triliun pada tahun 2020 lalu dengan pendapatan menurun hingga 71 persen. Salah satu perusahaan distribusi bioskop dunia adalah AMC. Bahkan, jika nantinya saham yang direncanakan dijual tidak bisa memenuhi kebutuhan, tahun 2021 ini bisa jadi tahun terakhir AMC.

  1. Norwegian Air

Adanya peraturan PSBB membuat industri aviasi dunia juga terkena dampak COVID-19 yang paling parah. Bahkan, tahun lalu 40 perusahaan aviasi di berbagai belahan dunia menyatakan bangkrut. Kini, perusahaan terbesar ketiga di Eropa, Norwegian Air menghadapi keadaan yang sama. Dengan hanya enam dari 140 pesawat terbang yang aktif, perusahaan yang berdiri sejak tahun 1993 ini menghadapi ancaman kebangkrutan di tahun 2021.

  1. WeWork

Dengan meningkatnya karyawan yang bekerja dari rumah, startup penyedia kantor WeWork terus mengalami penurunan pendapatan. Meski telah merumahkan sejumlah karyawannya hingga menjual sejumlah asetnya tahun 2020 lalu, perusahaan yang didirikan pada tahun 2010 tersebut masih saja merugi hingga USD 1,7 miliar atau sekitar Rp23,98 triliun. Keberadaan WeWork di tahun-tahun mendatang sangat ditentukan dari bagaimana performanya di tahun 2021 ini.

  1. Bayer

Perusahaan farmasi asal Jerman, Bayer, secara mengejutkan juga mengalami tekanan yang sangat berat dari adanya Pandemi COVID-19. Selama tahun 2020 lalu, salah satu anak perusahaan Crop Science mengalami penurunan pendapatan hingga 11,6 persen dan di saat yang sama penjualan benih juga menurun hingga 40 persen. Bahkan, pendapatan di bidang farmasi juga menurun.

  1. NPC International

Salah satu operator waralaba restoran cepat saji terbesar di AS, NPC International, telah melaporkan kebangkrutan pada Juli 2020 lalu. NPC International adalah perusahaan yang memegang hak waralaba bagi Pizza Hut dan Wendy’s di Amerika Serikat. Bahkan, pada tahun lalu, NPC juga telah menutup 300 gerai Pizza Hut di AS.

Selain itu, sejumlah perusahaan lain pun juga mengalami hal yang sama, seperti perusahaan waralaba toko buku terbesar di AS, Barnes & Noble, dan perusahaan waralaba gym terpopuler di dunia, LA Fitness.(ded)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.