oleh

Bisakah Wisata Menjadi Solusi Ekonomi saat Pandemi?

Oleh: Umi Lia

Ibu Rumah Tangga, Cileunyi Kabupaten Bandung

“Dialah yang menjadikanm bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (dikembalikan setelah) dibangkitkan.” (TQS al-Mulk: 15)

Orang yang punya kemampuan finansial berlomba-lomba untuk menjelajah Indonesia dan dunia. Mendatangi berbagai tempat asing, tak hanya untuk liburan tapi juga demi mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Hal ini tentu sangat positif untuk mengecas semangat sehingga lebih produktif dalam bekerja dan berkarya. Lebih dari itu di dalam Islam traveling atau berwisata dianjurkan. Sebab dengan melakukan perjalanan wisata, diharapkan akan semakin bersyukur dan mendapatkan banyak hikmah serta pelajaran dari berbagai kejadian yang dihadapinya di perjalanan dan di tempat wisatanya.

Lain ceritanya, jika sektor pariwisata ini digalakkan saat pandemi belum berakhir. Apalagi di tengah kehadiran covid-19 varian baru yang lebih cepat dalam penularannya. Tapi inilah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, dengan dalih agar ekonomi rakyat terus berjalan dan salah satu cara menghilangkan stres untuk meningkatkan imunitas tubuh sehingga tahan dari serangan virus covid-19.

Koordinator Pemasaran Pariwisata Regional I Area I Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Taufik Nurhidayat, mengatakan bahwa beraktivitas di destinasi wisata alam akan menjadi tren melancong di kala pandemi. Ia berharap, para pelaku pariwisata di Indonesia bisa melihat tren tersebut dan mempersiapkannya. Taufik juga menyampaikan bahwa pihaknya dan para pelaku di sektor parawisata dan ekonomi kreatif sudah mulai melakukan gebrakan untuk menggeliatkan kembali pariwisata tanah air, yaitu dengan mendorong masyarakat untuk melancong ke tempat-tempat wisata yang dekat dengan tempat tinggal. Untuk berlibur atau melancong sambil bekerja (staycation dan workcation). (Republika.co.id, 16/3/2021)

Ibarat orang tua yang mempunyai anak yang sedang sakit, maka orang tua akan memperhatikan anaknya dan berusaha bagaimana supaya anaknya cepat sembuh dan keadaan kembali normal. Anaknya bisa kembali sekolah, bermain dan beraktivitas seperti biasanya dan orang tua juga bisa bekerja dan melakukan aktivitas lainnya dengan tenang. Seharusnya pemerintah seperti orang tua kepada anaknya yang sedang sakit pada saat pandemi ini. Pemerintah harus fokus dulu pada kesehatan rakyatnya, jangan membuat kebijakan yang membahayakan nyawa atau kesehatan rakyat. Pemerintah Indonesia sejak awal pandemi covid-19 terkesan sembrono, asal-asalan dalam menangani pandemi. Satu tahun berlalu, belum ada tanda-tanda Indonesia akan segera terbebas dari pandemi.

Kasus positif covid-19 terus bertambah, ada 6.142 kasus baru pada tanggal 1/4/2021. Dengan demikian jumlah total kasus positif covid-19 di Indonesia 1.517.854 orang sejak pertama kali diumumkan tanggal 2/3/2020 lalu. (Kompas.com, 1/4/2021)

Walaupun ada upaya untuk menekan laju penularan covid-19, dengan PSPB, larangan mudik, larangan berkerumun, pemberlakuan protokol kesehatan (5M), 3T dan terakhir ada vaksinasi. Tapi upaya-upaya tersebut belum terlihat hasilnya. Bagaimana rakyat berharap kepada pemerintah jika pemerintah telah melepaskan fungsinya sebagai pelindung/pengurus rakyat?

Di negara yang menerapkan sistem kapitalis seperti Indonesia, pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama pemerintah. Keselamatan dan kesehatan rakyat hanya menjadi kebijakan populis untuk meraih simpati rakyat. Setahun setelah kasus pertama dikonfirmasi di Wuhan, terbukti covid-19 sulit untuk ditekan. Belum lagi munculnya varian-varian yang lebih menular. Kondisi ini menambah tantangan bagi negara untuk menanggulanginya sekaligus membuat pemulihan ekonomi semakin sulit.

Oleh karena itu dibutuhkan sistem dan kepemimpinan yang lebih manusiawi, artinya sistem dan kepemimpinan yang bisa menjaga keselamatan dan kesehatan manusia, serta bisa berkoordinasi secara mendunia. Khilafah adalah satu-satunya model dan sistem yang diharapkan karena mampu (capable) bertindak dalam membasmi pandemi atau memutus rantai penularan pandemi. Mulai dari memberlakukan lockdown, hingga jaminan pelayanan kesehatan gratis berkualitas bagi siapa saja yang membutuhkan. Solusi ini efektif karena terintegrasi dengan sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Anggaran yang selalu siap dalam baitulmal, juga penguasa berikut aparat negara serta rakyatnya siap secara mental, fisik dan psikis.

Kesimpulannya, hanya khilafah dengan izin Allah Swt. yang bisa membebaskan dunia dari pandemi. Ini bukan angan-angan, karena sejarah sudah mencatatnya bagaimana Khalifah Umar bin Khaththab bisa mengatasi wabah Thaun di Amwas yang termasuk wilayah Syam. Dengan penanganan wabah sesuai petunjuk Rasul saw. wabah bisa diatasi dan dibatasi pada satu wilayah saja. Sementara di wilayah lain kehidupan tetap berjalan normal seperti biasa. Kegiatan ekonomi tetap berjalan, tidak ada kekhawatiran karena pemimpin tegas dan konsisten dengan kebijakan yang diberlakukannya. Sehingga wilayah yang tidak terkena wabah bisa menopang ekonomi atau kebutuhan masyarakat di wilayah yang terkena wabah. Sungguh ajaran Islam yang dipraktikan Rasul Saw. dan para sahabat sudah begitu lengkap memberi contoh masalah dan penyelesaiannya. Kita hanya perlu mempelajarinya, memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat atau sebagai individu yang beriman.

Wallahu a’lam.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.