oleh

Hibah Peta Desa untuk Ibu Pertiwi

Oleh

1.Agus Anggoro Sigit,SSi,M.Sc (Dosen Mata Kuliah Managemen Produksi Peta di Fakultas Geografi UMS; pencetus, pembimbing dan penanggung jawab Program 1000 Peta Desa)

2.Drs.Priyono,M.Si( Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan penggiat Program 1000 Peta Desa)

 

Sejalan dengan program pemerintah yang  tertuang dalam Nawacita, dalam salah satu butirnya disebutkan, bahwa pemerintah akan membangun Indonesia dari pinggiran, hal ini memberikan makna bahwa  desa-desa ke depan memiliki peran strategis  dalam pembangunan nasional. Bentuk komitmen memajukan desa dengan program pembangunan, pemerintah menindaklanjuti melalui pemberian dana desa untuk menggerakkan kegiatan yang mengarah pada perbaikan infrastruktur desa. Kini desa-desa di seluruh Indonesia sebagai unit administrasi terkecil telah mendapat sentuhan Pemerintah melalui dana desa yang jumlahnya milyaran  sehingga wajah desa secara fisik nampak makin bagus. Pembangunan infrastruktur fisik desa berupa jaringan tranportasi penghubung antar desa juga desa dengan kota ditambah penataan dan peningkatan sarana prasarana telah terbukti menunjang mobilitas penduduk serta mampu meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa data merupakan hal penting dalam setiap kegiatan pengambilan keputusan dan juga perencanaan, tak terkecuali data dalam bentuk peta yang sering disebut dengan data spasial yang selanjutnya secara specific disebut dengan istilah Informasi Geospasial (IG). Peta adalah gambaran obyek terpilih di sebagian permukaan bumi yang diskalakan dan disajikan dalam bidang datar. Kelebihan data dalam bentuk peta adalah data tersaji sesuai dengan lokasinya di muka bumi, baik yang bersifat kualitattif maupun kuantitatif. Kelebihan peta tersebut menjadikan sarana penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, terutama yang terkait dengan penataan infrastruktur di muka bumi.

Mengingat arti penting peta yang sedemikian besar, maka pemerintah melalui UU No. 04 Tahun 2011 tentang Undang-Undang Geospasial secara eksplisit menginstruksikan semua lembaga atau instansi baik di pusat maupun daerah di seluruh wilayah tanah air untuk menyelenggarakan dan menyediakan informasi geospasial guna menunjang pembangunan.

Seiring dengan semangat dari Undang-Undang No. 04 Tahun 2011 di atas, maka pemerIntahan desa sebagai unit penyelenggaraan pemerintahan terkecil juga memiliki tanggung jawab yang sama dengan lembaga atau instansi pemerintahan yang lain, apalagi desa merupakan ujung tombak pembangunan nasional. Tersedianya data spasial dalam bentuk peta yang baik dan standar di unit pemerintahan desa tentu menjadi salah satu tolok ukur kesiapan sebuah pemerintahan desa dalam memajukan wilayahnya, apalagi disadari bersama bahwa pembangunan terutama yang bersifat pembangunan fisik selalu melibatkan unsur lokasi atau tempat. Peta yang baik dan standar mampu memberikan informasi yang akurat mengenai lokasi, ukuran-ukuran geometrik (panjang dan luasan), juga bentuk-bentuk geometrik suatu obyek dengan cukup jelas, serta yang tidak kalah penting adalah kemampuannya menunjukkan hubungan-hubungan keruangan antara obyek di muka bumi, sehingga berdayaguna dalam menunjang kegiatan-kegiatan penting pembangunan. Ketersediaan peta saat ini sangat besar perannya, sebagain syarat mutlak dalam melengkapi pengajuan-pengajuan program-program pembangunan, tak terkecuali pembangunan desa. Sekarang adalah masanya peta spasial, untuk mengajukan IMB saja maka syarat mutlak harus ada petanya atau gambarnya untuk melihat batas bangunan di sekitarnya.

Bertolak dari semangat dan niat memberi bekal kewirausahaan dengan modal ketrampilan membuat peta, maka kurikulum Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta memunculkan mata kuliah lanjutan yang diberi nama Managemen Produksi Peta (MPP), yang merupakan mata kuliah pilihan berbasis terapan setelah menempuh beberapa mata kuliah yang mendasari perpetaan seperti  Kartografi Dasar, Kartografi Tematik dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Gayung bersambut, berangkat dari kesadaran akan arti penting peta desa untuk perencanaan dan pembangunan desa, maka oleh pengampu (penulis) mata kuliah ini MPP didesign berintegrasi dengan kegiatan pengabdian pada masyarakat yang bentuknya setiap kelompok mahasiswa peserta mata kuliah ini wajib membuat 2 buah peta untuk setiap desa terpilih (1 berupa peta citra desa dan 1 buah peta tematik seuai kebutuhan desa). Desa terpilih adalah desa pilihan tempat kelahiran salah satu anggota tim dimana satu tim yang terdiri dari 5 hingga 8 orang hanya membuatkan 1 (satu) desa. Desa yang dibuatkan peta harus desa yang memiliki hubungan dengan salah satu anggota tim agar timbul kontak emosional mengabdi untuk desanya sendiri. Kultur integrasi ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah program unggulan Fakultas yang diberi dan dikenal dengan nama Program 1.000 Peta Desa Geografi Membumi.

1.000 Peta Desa adalah sebuah program yang berasal dari gagasan pribadi (penulis) yang akhirnya didaulat oleh Fakultas Geografi UMS menjadi salah satu program unggulan dalam rangka menunjang kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama bidang pengabdian kepada masyarakat. Program ini terbentuk atau bermula dari salah satu mata kuliah yang terdapat di Fakultas Geografi UMS, yakni Managemen Produksi Peta (MPP) yaitu sebuah mata kulliah pilihan yang ruhnya sebenarnya mata kuliah kewirausahaan. Sebagai sebuah mata kuliah kewirausahaan, maka MPP mengajarkan bagaimana membuka peluang agar keahlian dalam membuat peta sebagi keahlian tipikal geografi akhirnya dapat menghasilkan uang. Fakultas Geografi sudah mulai membumikan program integrsi mata kuliah dengan kegiatan penelitian, pengabdian pada masyarakat dan publikasi melalui berbagai media publikasi. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari auditor AMI Universitas( Pak Hari LJM, Pak Zaenal Arifin dan Ibu Mauly Halwat)  saat mengaudisi di prodi geografi . Itulah makna silaturahmi di masa pandemik dalam bentuk audit tengah tahun yang menjadi budaya di UMS sejak tahun 2010. Terima kasih LJM telah menebarkan kebaikan.

Hingga kini program unggulan yang menginjak tahun ke VI  ini diluncurkan telah menghibahkan peta citra desa ke 77 desa di Jateng dan Jatim sebanyak 154 peta yang disumbangkan secara gratis sebagai bentuk implementasi pengabdian masyarakat kepada mahasiswa, sekaligus bhakti mahasiswa Fakultas Geografi UMS kepada ibu pertiwi. Tahun ini (2021) adalah tahun ke VI yang masih dalam proses atau sedang berlangsung sehingga belum ada serah terima. Berdasarkan rekap data dimulai sejak pertama program berjalan tercatat tahun I (11 buah desa), tahun ke II (12 buah desa), tahun ke III ( 12 buah desa), tahun ke IV (19 buah desa) dan tahun ke V (23 buah desa) total 77 buah desa. Tahun ke VI diperkirakan sekitar 25 tim yang akan bergerak ke 25 desa terpilih, sehingga bila besuk selesai maka sampai akhir 2021 in syaa Allah  102 buah desa terbantu dengan jumlah total peta 204 buah peta ukuran A0 dihibahkan secara gratis. Alhamdulillah .  Berikut contoh peta desa yang dihibahkan :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *