oleh

Perempuan dan Terorisme

Oleh: Lela Nurlela S.Pd.I

Beberapa waktu yang lalu negeri ini dikejutkan kembali dengan aksi Bom bunuh diri yang terjadi di Makasar serta penembakan di mabes polri. Peristiwa keduanya ini melibatkan seorang perempuan, hal ini tentunya mengundang perhatian dari banyak pihak, termasuk dari para aktivis perempuan.

Memang mengundang tanya, bagaimana seorang perempuan yang dikenal dengan kelembutan hatinya, tega membunuh orang lain? ada apa di balik fenomena ini?

Menurut analisis sebagian pakar terorisme, ketika perempuan sudah terlibat dalam aksi kekerasan, dalam hal ini bom bunuh diri, ini buah dari radikalisasi perempuan yang membuat mereka ingin masuk surga bersama keluarga sebagai syuhada, (www.republika.co.id)

Namun kalau kita analisis secara mendalam, terorisme ini merupakan sebuah rekayasa untuk memojokan Islam. Pelibatan perempuan dalam berbagai aksi teror hakikatnya merupakan salah satu bentuk upaya kriminalisasi yang bertujuan untuk menciptakan teror yang lebih kuat, sebaba perempuan yang dikenal sebagai pihak yang lemah telah berani untuk melakukan pengeboman.

Efeknya adalah munculnya ketakutan secara menyeluruh terhadap kaum muslimin, bukan hanya laki-laki saja, tetapi juga perempuan, karena sama-sama punya jiwa “teroris”. Inilah yang diinginkan siapapun yang ada di balik layar pengeboman ini.

Bila radikalisme diidentikan dengan bom bunuh diri, aksi teror dan kekerasan di tengah massa, maka radikalisme ini layak ditinggalkan. Pasalnya, ajaran Islam tentang jihad yang dianggap sebagai pemicu munculnya aksi radikalisme, jauh dari gambaran tersebut.

Jihad dalam ajaran Islam memiliki makna syara’, yakni pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, lisan, ataupun yang lainnya
(Al-Kasani dalam kitab al Bada’i as Sana’i).

Jihad dilakukan dalam rangka menjaga wilayah dan kehormatan kaum muslimin serta untuk menghilangkan hambatan dakwah dalam menerapkan sistem Islam.

Saat ini yang bisa dilakukan adalah zihad defensif, yakni mempertahankan diri seperti jihadnya warga palestina menentang pendudukan Israel atas tanah mereka. Sedangkan jihad dalam meninggikan kalimat Allah tidak bisa dijalankan tanpa adanya penguasa yang menerapkan hukum Islam.

Ini seperti apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw sepanjang sejarah kenabiannya. Beliau tidak pernah melakukan upaya mengambil kekuasaan dengan jalan kekuasaan.

Beliau hanya mendatangi kabilah-kabilah, mendakwahi mereka dan meminta mereka untuk memberikan nusrah (pertolongan) kepada kaum muslimin. Hal tersebut terus berlangsung sampai kemudian kabilah Aus dan Khajraz dari Yatsrib memberikan nusrah dan memberikan kekuasaan kepada beliau.

Setelah itulah dalam posisi beliau sebagai kepala negara, beliau memimpin umat untuk melakukan jihad terhadap kaum yang memusuhi Islam, serta yang menolak dakwah dan penerapan hukumnya.

Namun, perlu dicatat bahwa jihad punya adab yang mulia, seperti tidak boleh membunuh perempuan, anak-anak, orang tua dan para pemuka agama.

Dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, “Aku mendapari seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, aksi-aksi teror seperti bom bunuh diri, penabrakan truk, penembakan massal, dan sebagainya, yang dilakukan di tengah2 masyarakat yang tidak dalam kondisi berperang, hukumnya adalah haram.

Kasus merebaknya pelaku pemboman dari kalangan perempuan, membuat agenda kontra radikalisme di kalangan perempuan akan semakin kuat. Jalur-jalur formal dan non formal ditempuh untuk program ini. Dari jalur pendidikan, berbagai pelatihan, pengajian serta penggunaan media massa dan media sosial.

Narasi-narasi kontra radikalisme, deradikalisasi dan moderasi Islam sudah bertebaran di media masa.

Program kontra radikalisme melalui moderasi Islam ini sangat layak diwaspadai, karena intinya deislamisasi. Betapa tidak? Program ini banyak mereduksi ajaran Islam. Jihad terutama, yang berusaha diubah makna dan hukumnya.

Jihad hanya dimaknai sebagai usaha sungguh-sunggu untuk berhasil, bukan berperang. Begitu pun umat dijauhkan dari politik baik secara pemahaman maupun aktifitas politik yang benar.

Maka umat boleh salat, berzakat, naik haji dan berkegiatan Islam lainnya. Tapi tidak boleh mengkritik penguasa, tidak boleh menuntut penerapan syariat oleh negara, tidak boleh menolak calon pemimpin kafir dan mau terlibat dalam peringatan hari raya agama lain.

Intinya, mengubah pemahaman umat menjadi sekuler, liberal, moderat dan “toleran”. Ini adalah agenda besar yang diusung musuh-musuh Islam untuk meghalangi kebangkitan Islam secara halus.

Merupakan tugas dari seluruh pihak yang terkait dengan dakwah untuk mengajarkan umat tentang Islam kafah, menanamkan akidah yang lurus dan membentuk kepribadian Islam.

Juga mengajarkan makna toleransi adalah” lakum diinukum walyadiin”. Mengajarkan untuk menerima pluralitas tetapi menolak pluralisme. Dan mengajarkan untuk menerima Islam secara keseluruhan dan memperjuangkannya, bukan menerima sebagian dan menolak sebagiannya.

“Islam kafah yang seperti ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai Islam radikal dengan makna terorisme. Perempuan yang dididik dengan Islam kafah akan menjadi ibu yang shalihah, menjaga kehormatan dirinya, mendidik anak dan keluarganya dengan benar, menjadikan keluarganya sebagai basis bagi dakwah Islam dan ikut menjaga kebaikan dimasyarakatnya”.

Sedangkan faktor lain seperti ketidakadilan ekonomi, hukum dan seterusnya, persoalan ini tidak akan mampu dihilangkan selama ditetapkannya sistem kapitalisme.

Hanya Islam yang mampu memberikan solusi sempurna, karena syariat Islam diturunkan dari sang Maha pencipta, yang mengetahui secara detail karakter ciptaa-Nya dan apa yang terbaik bagi mereka.

Maka, tak perlu takut menjadi radikal dalam makna menjalankan Islam secara kafah. Justru inilah yang akan mengantarkan perempuan menjadi Ibu yang melahirkan umat terbaik bagi manusia. Insyaa Allah.

“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali Imran: 110)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *