Moderasi, Alat Liberalisasi Akidah

Editor:

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengaku bukan menjadi menteri agama Islam saja, tapi menteri semua agama, sebab departemen yang ia pimpin membawahi tak hanya agama Islam tapi juga semua agama yang diakui di Indonesia. Untuk itulah ia meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja.

“Pagi hari ini saya senang Rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah kalau doanya diberikan kesempatan semua agama untuk memberikan doa,” kata Yaqut. Menurut Yaqut, pernyataan itu sebagai otokritik atau pendapat internal saja terhadap lembaga yang dipimpinnya. Sebab dalam setiap kesempatan acara di Kemenag hanya menyertakan doa untuk agama Islam saja.

Ia ingin agar Kemenag menjadi rumah bagi seluruh agama yang ada di Indonesia, melayani dan memberikan kesempatan yang sama. Bahkan ia menyebut pembacaan doa untuk agama tertentu saja, tak ubahnya seperti acara organisasi kemasyarakatan. Padahal yang diurus Kemenag bukan hanya urusan agama Islam.

Kini rakyat Indonesia bisa dengan terang-terangan melihat bahwa sikap pemegang kekuasaan di negeri mayoritas beragama Islam ini begitu getol memoderasikan agama Islam, bahkan ingin Kemenag yang pertama memberikan  contoh (Antaranews.com, 5/4/2021).

Adanya kementerian agama memang berdasarkan agama mayoritas, Islam, namun dalam kedudukannya sebagai penguasa yang melayani urusan rakyat,  kementerian agama juga mengurusi agama lain, terutama dalam hal muamalah. Interaksi sosial antar agama, sebatas itu saja, bukan kemudian mengurusi akidah agama lain dan merasa bersalah sebab terkesan Kemenag ada hanya untuk Islam.

Adalah salah besar jika kemudian menjadikan akidah agama lain sebagai fokus periayaahannya. Islam jelas melarang, sebagaimana yang dipahami dalam Alquran surat Al -Kafirun : 6 yang artinya: “bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” Sangatlah gamblang surat ini  menjelaskan tentang tidak adanya bentuk kompromi untuk mencampuradukkan ajaran agama. Lantas, pernyataan kemenag yang menginginkan semua agama sama , bahkan doa merekapun boleh dipakai berdampingan dengan agama Islam dari mana dalilnya?

Rakyat semestinya menyadari bahwa  sistem sekuler ini tidak akan sejalan dengan tujuan memberlakukan syariat. Ibarat minyak dan air tak akan pernah bersatu. Sebab selamanya kebaikan tak pernah bersatu dengan keburukan. Para penguasa itu sudah tak malu-malu lagi mengakui bahwa mereka adalah agen kafir. Menyerukan sesuatu yang berlawanan dengan akidah mereka, Islam, namun masih menyatakan dirinya sebagai Muslim.

Liberalisasi akidah makin banyak dijalankan dan menjadi kebijakan negara. Bahkan secara terang-terangan membawa publik mempraktikkan sinkretisme agama dan pelanggaran syara lainnya. Apakah mereka lupa bagaimana kesudahan satu kaum yang mendustakan agama bahkan menjadikannya sebagai bahan senda gurau, memilih ayat yang mudah dikerjakan membuang yang sulit.

Allah SWT berfirman,” Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung selain Allâh dan tidak pula pemberi syafaat. Meskipun dia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) karena apa-apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu” (QS Al-An’am 6:70).

Sikap menyepelekan ajaran agama, terutama Islam tumbuh subur dalam sistem pengaturan yang asasnya adalah sekular, sistem yang menempatkan hawa nafsu manusia bebas berbuat. Yang seharusnya membela agama dan mengajarkannya dengan sepenuh hati, tentulah Islam tidak menjadi bulan-bulanan.

Moderasi Islam pun sejatinya muncul dari sikap menyepelekan agama, para pemuja sinkritisme menganggap hal ini lumrah, padahal sungguh kezaliman yang sangat. Jelas akidah akan terguncang, sebab tak mendapatkan gambaran yang benar tentang agamanya. Islam sudah sempurna tak perlu lagi disesuaikan zaman. Solusi terbaik adalah kembali kepada syari’at Islam secara totalitas, dalam bentuk penerapan ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.