oleh

Warna-warni tapi Sunyi

SAYA menghindari menulis kata-kata ‘berat’. Walau tema yang akan dibahas sering disebut berat. Kadang orang menyebutnya begitu.

Ya, membahas politik seringkali disebut bahasan berat. Tapi sebenarnya tidak juga. Diam saja sikap politik. Katanya, kita memang makhluk politik. Manusia itu makhluk politik (zoon politicon), begitu kata filsuf Aristoteles.

Tapi ini harus dibahas: Politik lokal. Politik Subang dari sudut lain.

Meski, frase ‘politik lokal’ tidak lazim. Dalam beragam literatur kajian internasional memang ada, tapi seringkali yang dimaksud adalah pemerintahan lokal.

Politik ya politik. Terjadi di desa, kota, maupun nasional. Di Indonesia menjadi familiar: politik lokal.  Setelah terjadi desentralisasi. Sharing power dari pusat ke daerah. Pemerintah daerah diberi beberapa kewenangan penuh. Membuat aturan sendiri, nyari uang sendiri, menentukan nasib sendiri. Meski pada praktiknya tetap saja bergantung ke pusat.

Sebab urusan keuangan, keamanan dan keagamaan tetap dikendalikan pusat. Rawan jika diserahkan ke daerah. Setidaknya begitu kajian sementara para ahli.

***

Biasanya, dinamika politik kencang setelah mendekati perhelatan kontestasi politik. Menjelang Pilkada atau Pileg. Tapi dari sekarang saya intip, saya dengar, ko sudah ramai. Riuh sekali.

Ada yang ganti warna, ganti baju, ganti bendera, ganti komandan, pakai lagi komandan lama dan seterusnya. Seru tapi sunyi. Warna-warni tapi sunyi.

Menurut saya, semua ini tidak terlepas dari sikap politik pemenang perhelatan politik. Yaitu bupati. Yaitu Ruhimat.

Kapan menyampaikan pernyataan politik? Kapan menegaskan sikap politik? Kapan berbicara sebagai kapasitas kader partai? Kapan memimpin serangkaian pertemuan berbaju partai politik? Publik hampir tidak tahu.

Walaupun sebenarnya, banyak peristiwa politik yang terjadi. Tapi sunyi.

Ruhimat pernah terlibat serangkaian suksesi pemilihan ketua salahsatu partai: sunyi.

Konsolidasi partai koalisi pendukung kepala daerah berikut juga perselisihannya: sunyi

Kerasnya dinamika di PAN dan PDIP: sunyi

Serunya anak muda ditugaskan menduduki kursi partai para kiai: sunyi

Massifnya gerakan akuisisi kader partai oleh gerbong restorasi: sunyi.

Partai logo mercy di Subang hampir dikudeta: sunyi

Hingga yang terakhir, pemenang perhelatan politik, Bupati Ruhimat kedatangan tamu yang tiba-tiba buang sampah di TPS, bagaimana sikap partai pendukungnya? Sunyi

Sikap loyalisnya? Sunyi

Masih banyak sederet kesunyian lainnya. Padahal biasanya, mereka itu, aktor-aktor politik biasa membuat “kegaduhan” di panggung pertunjukkan. Membuat drama di panggung depan. Bercengkrama di panggung belakang. Begitu kata Teori Dramaturgi.

Ada yang ramai? Ada.

Saat Ketua PAN Asep Rohman Dimyati (ARD) tiba-tiba mengenakan jas hijau. Tadinya jas biru. Tapi jas hijaunya belum berlogo. Masih polos.

Kabarnya, kursi matahari terbit akan ditempati politisi cantik dari Jakarta. Disiapkan untuk menuju Subang Satu. Tapi itu masih sunyi.

Saat Ruhimat di hujan deras, hadir di forum Raker PDIP.

Saat kader PDIP, yang masih muda, berbakat, mundur dari kandang banteng.

Kemudian sunyi lagi. Senyap lagi. Mungkin kebisingan terjadi di jagat maya. Jagat medsos.

Atau mungkin, kita sudah enggan membahas kebisingan tak berguna. Melawan korona saja tidak berdaya. Mending hidup apa adanya. Bertahan saja sudah untung.

Tapi kesunyian itu penting. Membuat panggung pertunjukan itu seru, tapi kadang jika sambil ngopi sudah tuntas, mengapa kita harus teriak memakai toa.

Kepala daerah, sebenarnya sudah memenangkan perang. Bagaimana mengatur siasat, agar palagan tetap terjaga. Benteng tetap terjaga. Kerja politiknya harus tercurah di kerja politik anggaran. Kerja perencanaan. Apalagi saat pandemi begini, harus jeli mengatur siasat.

Mana program yang bisa dibiayai, mana yang tidak. Pilih yang paling realistis. Lalu sampaikan ke publik sebagai pertanggung jawaban publik.

Dalam sunyi, saya juga mendengar, katanya ijon proyek sudah ”dikurangi” signifikan. Proyek siluman: di tengah hutan ada jalan cor, tidak akan terjadi lagi.

Dalam sunyi, awalnya memang heboh, rotasi mutasi pejabat sudah hal biasa. Bukan lagi ladang intrik politik atau mengganggsir rupiah. Sepi.

Jika itu benar, maka perang sunyi itulah perang mental. Sudah banyak aktor politik yang memilih jalan sunyi itu.

Mungkin tidak lama lagi, orang sudah jenuh dengan medsos. Sudah jenuh dengan gaya blusukan. Sudah jenuh dengan panggung kampanye akbar. Sudah jenuh dengan kaleng ‘Khong Guan’ berisi ranginang.

Yang tersisa: masyarakat hanya akan memilih dan menyukai yang bisa memberi bukti. Tidak ingkar janji. Sedikit tapi nyata. Biasa tapi ada. Tidak ganteng tapi bikin seneng. Tidak cantik tapi punya lesung pipi dan jemari lentik.

Belakangan Mister Jokowi, yang ahli mengemas panggung, juga memilih jalan-jalan sunyi. Tapi berarti.

Kegaduhan jadi tamparan buat Ganjar Pranowo. Kini mulai milih jalan sunyi walau akan ramai pada waktunya.

Anies Baswedan apalagi. Mulai memilah mana noise mana voice. Voice yang bermakna, noise yang dihindari.

Di tengah kesunyian, muncul kegaduhan dari TPS.

Di tengah kegaduhan, Dinas Lingkungan Hidup tetap sunyi.

Tapi kabarnya sekarang sudah tidak begitu lagi.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *