Mengingat Kembali Menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati-Subang

Mengingat Kembali Menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati-Subang
INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES BERSEJARAH: Tangkapan layar YouTube Pasundan Ekspres, room tour rumah sejarah di Lanud Suryadarma Kalijati-Subang.
0 Komentar

“Sehingga tentara Belanda mundur ke arah kota Bandung, akhirnya PU Kalijati dapat diduduki Jepang dengan mudah. Peristiwa tersebut merupakan pukulan berat bagi Belanda, sehingga mereka mencoba merebutnya melalui serangan dari Purwakarta dan Subang. Namun pasukan Jepang terlalu kuat, akibatnya moril tentara Belanda (KNIL) turun,” bebernya.

Dia melanjutkan ceritanya, selanjutnya Kolonel Shoji bermarkas di Pusat Perkebunan Pamanukan, Ciasem. Dari tempat itu mereka mengejar pasukan Belanda yang bermarkas di daerah Ciater dan Lembang. Di daerah tersebut pada 6 Maret 1942 terjadi pertempuran besar yang mengakibatkan korban banyak di kedua belah pihak. Namun pada akhirnya Jepang dapat melumpuhkan Belanda.

“Jenderal Ter Poorten sebagai Panglima tentara Belanda menghadapi dilema berat mengetahui kondisi pasukannya di lapangan,” ungkapnya.

Baca Juga:Soal Tenaga Asing, Pemuda Pancasila Purwakarta Minta AudiensiSelama Masa Pandemi, Rp 161 Triliun Kredit Mikro BRI Tersalurkan ke Sektor Pertanian

Dengan alasan tidak ingin malu di kancah internasional, kata Andan, Panglima Jenderal Ter Poorten dengan persetujuan Mr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh sebagai Gubernur Jenderal Belanda mengutus Jenderal Pesman, Panglima Bandung pada 7 Maret 1942 guna merundingkan dengan Kolonel Shoji, mengenai penghentian tembak-menembak dan perhitungan pasukan yang ada di bawah Jenderal Pesman saja tidak untuk pasukan yang ada di Jawa. Tawaran penghentian tembak-menembak diterima.

“Kemudian Kolonel Shoji melaporkan perundingan itu kepada Jenderal Imamura di Batavia. Jenderal Imamura menginginkan, perhitungan pasukan Belanda tidak hanya yang di Bandung tapi harus meliputi seluruh pasukan Hindia Belanda di Jawa. Keinginan tersebut disampaikan pada Kolonel Shoji untuk diteruskan pada pihak Belanda,” katanya lagi.

Semula perundingan kedua pemimpin tertinggi direncanakan di daerah Jalancagak, namun lantaran situasi tidak memungkinkan perundingan tersebut akhirnya digeser ke PU Kalijati, di rumah sejarah inilah perundingan berlangsung.

“Dalam perundingan 8 Maret 1942 tersebut Jenderal Imamura minta agar Panglima Ter Poorten menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh Tentara Hindia Belanda,” kata Andan.

Itulah kisah dibalik museum rumah sejarah, yang disebut sebagai tonggak kemerdekaan RI, setelah 350 tahun dijajah Belanda. Jepang merebutnya, tak berselang lama Nagasaki dan Hirosima dibom atum oleh sekutu.(*)

Laman:

1 2
0 Komentar