oleh

Jenis Penyakit Hati Manusia yang Ada Dalam Islam

RELIGI – Ada perspektif Islam, bahwa penyakit hati kerapkali disebabkan sejumlah sifat buruk atau tingkah laku tercela semisal dengki, iri hati, arogan, emosional serta sejenisnya.

Dalam Islam, penyakit hati ada dua makna. Bahwa yang dimaksud dengan penyakit hati adalah lebih kepada kerusakan pandangan dan keinginan seseorang kepada realita atau kebenaran yang ada di hadapannya.

Penyakit hati mempunyai dampak buruk bagi keimanan dan ketakwaan seorang muslim, bahkan bisa mengantarkannya pada dosa

Apabila seseorang terkena penyakit hati, berdampak terhadap perilaku atau akhlak tercela individu bersangkutan.

Dasarnya ialah sabda Nabi Muhammad SAW:

“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah kalbu (hati),” (H.R. Bukhari).

Jenis Penyakit Hati Manusia yang Ada Dalam Islam

  • Iri Dengki

Sifat iri dengki adalah penyakit emosional yang selalu memandang bahwa yang dimiliki orang lain lebih baik dan menarik dari yang ia punya.

Hal itu berakibat tidak bersyukur, mengeluh dan berpandangan negatif terhadap orang lain.

  • Sombong dan Membanggakan Diri

Sifat sombong dan membanggakan diri ini bisa membatalkan pahala di sisi Allah SWT.

Allah SWT tidak menerima amalan kebajikan kecuali dengan niat ikhlas karena Allah

Sifat membanggakan diri sendiri berkaitan dengan sikap narsistik. Yaitu saat seseorang merasa lebih baik dan sempurna dalam segalanya, akibatnya, ia menolak kritik orang lain.

Apabila orang itu gagal, maka ia akan melempar alasan kegagalannya tersebut kepada orang lain, rekan, atau keadaan yang tidak dapat dihadapinya.

  • Riya atau Suka Pamer

Penyakit hati yang lain ialah sifat riya atau suka pamer. Apabila berkaitan dengan amal ibadah, sifat riya ini muncul dari keinginan memperoleh pujian atau pandangan baik dari orang lain.

Pada umumnya, riya terbagi menjadi dua, yaitu riya dalam niat dan riya dalam perbuatan.

  • Riya  dalam niat

Dilakukan dengan maksud yang tidak ikhlas kepada Allah SWT atau sebab mengharapkan pandangan positif dari orang lain.

Melakukan perbuatan yang disisipi harapan supaya dilihat, didengar, atau memperoleh pamor baik di mata orang lain.

Hal ini berakibat, esensi perbuatan atau ibadah yang dilakukan menjadi pincang dan amal perbuatannya ditolak, bahkan diganjar dengan dosa.

Sesuai Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya sahnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya,” (H.R. Muslim).

  • Riya dalam perbuatan

Dilakukan dengan mengharapkan perhatian orang lain melalui sikap dan sifat terlihat atau terdengar orang lain.

Contohnya, apabila ia mengimami Shalat, maka bacaannya diperbagus sedemikian rupa supaya orang lain memberi pujian. (Wallahu a’lam)

Ketiga hal tersebut adalah sejumlah penyakit hati yang perlu dihilangkan, semoga saja kita semua terhindar dari penyakit hati. Aamiin.

(FajarNews/Jni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *