oleh

Unik! Begini Lima Tradisi Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Ragam – Bukan hanya Hari Raya Idul Fitri, umat islam juga merayakan Hari Raya Idul Adha setiap tahunnya. Terdapat banyak tradisi Idul Adha di Indonesia, yang tentunya unik dan menarik.

Saat Idul Adha, para kaum Muslim mengingat peristiwa Nabi Ibrahim yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu ditukar oleh-Nya dengan hewan kurban berupa domba.

Bukan hanya dikenal dengan peristiwa kurban, hari raya yang dirayakan setiap hari ke-10 bulan ke-12 (Zulhijah) kalender Hijriyah ini juga mempunyai tradisi Idul Adha yang menarik dari setiap daerah di Indonesia.

Setiap tradisi Idul Adha tersebut memiliki arti dan keunikannya tersendiri.

Unik! Begini Lima Tradisi Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Accera Kalompoang, Gowa

Tradisi Idul Adha pertama di Indonesia dirayakan di wilayah Gowa, Sulawesi Selatan yang bernama Accera Kalompoang dan bersifat sakral.

Mayoritas, Accera Kalompoang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut menjelang dan pada saat Hari Raya Idul Adha.

Accera Kalompoang adalah acara ritual pencucian benda-benda peninggalan Kerajaan Gowa yang masih tersimpan di Istana Balla Lompoa. Upacara ini digelar di rumah adat Balla Lompoa atau Istana Raja Gowa.

Apitan, Semarang

Tradisi Idul Adha Apitan dilaksanakan sebagai simbol rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ini biasanya diisi dengan pembacaan doa yang kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani dan hasil ternak.
Kemudian, hasil tani yang diarak ini akan diambil secara rebutan oleh masyarakat setempat.

Tradisi Apitan diyakini menjadi kebiasaan para Wali Songo dahulu sebagai ungkapan rasa syukur di perayaan Idul Adha.

Bukan hanya gunungan berupa hasil tani atau arak-arakan ternak, masyarakat yang menyaksikan Apitan juga akan disuguhkan dengan hiburan khas kearifan lokal.

Grebeg Gunungan, Yogyakarta

Tradisi Idul Adha lainnya yang tak kalah terkenal dirayakan oleh masyarakat Indonesia adalah Grebeg Gunungan di Yogyakarta

Tradisi Idul Adha ini cukup mirip dengan tradisi Apitan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Semarang.

Grebeg Gunungan juga dilaksanakan dengan cara mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman oleh para umat Islam.

Arak-arakan hasil bumi ini berjumlah tiga buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayur-mayur dan buah-buahan.

Jemur Kasur, Banyuwangi

Tradisi Idul Adha selanjutnya yang juga tak kalah menarik ialah mepe kasur atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai jemur kasur oleh masyarakat suku Osing di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Biasanya, kasur yang dipakai merupakan kasur gembil yang berwarna merah dan hitam. Warna merah berarti berani dan hitam berarti langgeng.

Sebelum tradisi jemur kasur dilakukakn, biasanya akan disuguhkan tarian gandrung terlebih dahulu. Kasur kemudian akan dijemur dari pagi hingga sore hari sambil dipukul dengan rotan atau sapu lidi agar bersih. Menariknya masyarakat secara serentak menjemur kasur di depan rumahnya.

Tradisi yang dilakukan menjelang Idul Adha ini memiliki arti untuk menolak bala dari bencana atau penyakit dan menjaga agar rumah tangga tetap harmonis.

Manten Sapi, Pasuruan

Manten Sapi diselenggarakan sehari sebelum hari Idul Adha. Masyarakat Desa Watestani Kecamatan Grati Pasuruan akan mengadakan “manten sapi” yang dalam bahasa Indonesia bermakna pengantin sapi.

Tradisi ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap sapi atau hewan kurban lain yang akan disembelih. Sapi yang akan dijadikan kurban dirias terlebih dahulu dengan cantik sebelum diberikan pada masjid atau panitia kurban.

Acara manten sapi diawali dengan cara memandikan sapi memakai air kembang hingga bersih. Kemudian, sapi akan dihias dengan kalung bunga tujuh rupa dan bagian tubuhnya ditutup dengan kain putih. Kemudian, sapi diarak menuju masjid oleh warga setempat. (orm/yni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.