Kamu Sudah Berhaji? Perhatikan Hal Berikut Dalam Kehidupan Sehari-hari

Editor:

Religi – Syariat haji yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw dan para sahabat berlandaskan pada nilai-nilai dan pesan kemanusiaan global. Terminologi kemanusiaan global tidak hanya terdapat dalam esensi ibadah haji, namun juga harus melekat pada diri seorang yang telah melaksanakan ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari saat sudah kembali ke tempat semula.

Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan, nilai-nilai dan pesan kemanusiaan universal yang terdapat dalam setiap rukun ibadah haji.

Pertama, ibadah haji diawali dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Seperti diketahui bahwa kegunaan pakaian antara lain sebagai pembeda antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain dalam hal status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian khusus ihram yang telah disyariatkan memungkinkan bersatunya seluruh umat Islam dalam status yang sama, yakni jemaah calon haji. Tidak ada perbedaan status sosial dan lain-lain karena perbedaan pakaian yang dikenakan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa semua manusia pada dasarnya sama di mata Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

Kedua, dengan menggunakan pakaian ihram, beberapa larangan harus dihindari oleh jamaah haji. Saat salah satu rukun haji tersebut dilaksanakan, Islam mensyariatkan bahwa jemaah haji dilarang menyakiti dan membunuh binatang, jangan menumpahkan darah, dan jangan mencabut pepohonan.

Syariat tersebut memiliki makna bahwa manusia mempunyai tugas untuk memelihara makhluk-makhluk Allah serta memberikan kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga memakai wangi-wangian, bercumbu atau kawin, serta berhias agar jemaah haji menyadari bahwa kehidupan manusia semata-mata materi dan nafsu birahi melainkan kondisi ruhani yang ada dalam posisi penghambaan yang kuat di sisi Allah.

Ketiga, Ka’bah yang didatangi dalam momen ibadah haji juga memiliki makna dari sisi kemanusiaan bahwa salah satunya terdapat hijr Ismail yang berarti pengakuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim pembangun Ka’bah pernah berada dalam pengakuan ibunya yang bernama Hajar, seorang perempuan hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun berada di tempat itu.

Dari latar belakang tersebut, tetapi peninggalan Hajar diabadikan Allah agar menjadi pelajaran bahwa Allah SWT memberikan kedudukan seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk berhijrah (hajar) dari kejahatan menuju kebaikan juga dari keterbelakangan menuju peradaban. (Quraish Shihab, 1999: 336) (nu/yni)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.