AS Terancam Default: Gagal Bayar Utang Sebesar Rp.466 Ribu Triliun Dampak Terhadap Ekonomi dan Keuangan

Jannet Yelen AS Terancam Default
AS Terancam Default: Gagal Bayar Utang Sebesar Rp.466 Ribu Triliun Dampak Terhadap Ekonomi dan Keuangan
0 Komentar

PASUNDAN EKSPRES – Negara adidaya Amerika Serikat (AS) sedang terancam default atau gagal bayar utang.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen. Jika gagal bayar terjadi, maka akan berdampak buruk bagi perekonomian AS.

Beberapa hal yang dapat terjadi adalah pengangguran yang meningkat, suku bunga yang naik, dan pembayaran cicilan kredit yang semakin melambung.

Ancaman Terhadap Ekonomi AS

 

Baca Juga:Cerita Mengejutkan di Balik Pembuatan Serial Lucifer yang Belum Kamu KetahuiBuruan Cek! Hp Samsung di Bawah 5 Juta: 15 HP Pilihan Terbaik Untuk Kamu

Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyatakan bahwa jika terjadi default, maka ekonomi dan keuangan AS akan terancam.

Kegagalan ini akan membuat biaya kredit semakin mahal dan investasi masa depan akan semakin sulit.

Hal ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat AS yang akan mengalami kesulitan dalam membayar kredit rumah, mobil, kartu kredit, dan lainnya. Akibatnya, pasar kredit di AS akan semakin buruk.

Bahkan, bisa saja terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi pejabat pemerintah.

Dari sisi suku bunga tinggi, hal ini akan menimbulkan masalah bagi pasar saham.

Dalam satu tahun terakhir, suku bunga tinggi sangat membebani pasar saham.

Langkah yang Dapat Dilakukan

Menurut Janet Yellen, kegagalan dapat dicegah jika Kongres memilih untuk menaikkan atau menangguhkan pagu utang.

Baca Juga:10 Panduan Lengkap untuk Membuat Group Facebook yang SuksesSosok yang Mampu Mengalahkan Lucifer: Mengenal Asal Usul Lucifer

Namun, hal ini harus dilakukan tanpa syarat dan tak boleh menunggu hingga menit terakhir.

Pemerintah AS hanya mampu membayar hingga awal Juli, sehingga diperlukan langkah yang tepat untuk mengatasi ancaman default ini.

Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kevin McCharty menyebutkan bahwa pihaknya berencana untuk memangkas pengeluaran sebesar US$ 4,5 triliun dengan kenaikan batas utang US$ 1,5 triliun.

0 Komentar