oleh

Do’a Qunut Witir 15 Ramadhan, Ada Apa Dibalik Hari 15 Bulan Puasa?

Do’a Qunut Witir 15 Ramadhan, Ada Apa Dibalik 15 Ramadhan?

Do'a Qunut Witir 15 Ramadhan, Ada Apa Dibalik Hari 15 Bulan Puasa?
                           Do’a Qunut Witir 15 Ramadhan

Do’a qunut witir 15 ramadhan, biasanya banyak dilakukan oleh kaum muslimin yang sedang melaksanakan tarawih dan witir berjamaah, baik di mesjid dan di rumah tetap membaca do’a qunut witir 15 ramadhan.

Do’a qunut witir 15 ramadhan merupakan do’a yang dibaca umat muslim saat melaksanakan shalat witir. Pada pertengahan bulan puasa ramadhan, yaitu memasuki malam ke 16 adalah waktu untuk memulai do’a qunut witir 15 ramadhan.

Do’a qunut dalam bahasa Arab adalah berdiri lama, diam, selalu taat, tunduk, do’a dan khusyuk. Dalam artian Istilah, Qunut berarti adalah do’a yang dibaca umat muslim ketika/dalam shalat, seperti do’a qunut witir 15 ramadhan yang dibaca ketika akhir shalat witir di pertengahan bulan puasa.

Do’a qunut ini ada dua yaitu qunut subuh yang dibaca juga ketika qunut saat witir dan yang kedua adalah qunut nazilah

Berikut Do’a Qunut Witir 15 Ramadhan yang Sering Dibaca Saat Akhir Witir 

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allahummahdini fiiman hadayt(a) wa ‘aafinii fiiman ‘aafayt(a) wa tawallanii fiiman tawallayt(a) wa baariklii fiiman a’thoyt(a) waqinii syarro maa qodhoyt(a) wallaa yuqdhoo ‘alaik(a) wa innahu laa yadzillu man waalayt(a) walaa ya’izzu man ‘aadayt(a) tabaarakta robbanaa wa ta’aalayt(a) wa astagfiruka wa atuubu ilaik(a), wa shallallâhu ‘alâ sayyidinaa Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana Engkau memberikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau memberikan keselamatan (kepada selainku), rawatlah aku sebagaimana Engkau merawat orang lain, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu, sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan, aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Do’a qunut witir 15 ramadhan tersebut di atas untuk di baca sendiri, Jika berjamaah, imam sangat dianjurkan merubah lafadz “Ihdini” (berilah aku petunjuk) dirubah menjadi “Ihdina” (Berilah kami petunjuk)” dan lafal ‘i’ dirubah jadi ‘a’ seperti yang sudah diperjelas pada bacaan lathin di atas.

Sebab, dalam pandangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in, dimakruhkan berdo’a untuk diri sendiri pada saat do’a bersama. Beliau menegaskan:

وكره لإمام تخصيص نفسه بدعاء أي بدعاء القنوت للنهي عن تخصيص نفسه بدعاء، فيقول الإمام: اهدنا

Artinya, “Dimakruhkan bagi imam berdoa khusus untuk dirinya sendiri pada saat doa qunut karena ada larangan tentang hal itu. Karenanya, hendaklah imam membaca ‘ihdina,’” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Muin, Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2009 M, halaman 44).

Jika berjamaah, imam dianjurkan juga untuk mengeraskan suara serta mengangkat kedua tangan seperti berdo’a pada biasanya, dengan permintaan dan penuh harap, jika ada do’a yang memiliki ‘tolak bala’ sebaiknya tangan dibalik/punggung telapak tangan menghadap ke atas.

Hukum Qunut Saat Witir 15 Ramadhan:

Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar menjelaskan:
ويستحب القنوت عندنا في النصف الأخير من شهر رمضان في الركعة الأخيرة من الوتر، ولنا وجه: أن يقنت فيها في جميع شهر رمضان، ووجه ثالث: في جميع السنة، وهو مذهبُ أبي حنيفة، والمعروف من مذهبنا هو الأوّل

Menurut kami, disunnahkan qunut di akhir witir pada separuh akhir Ramadhan. Ada juga dari kalangan kami (Syafi’iyyah) yang berpendapat, disunnah qunut di sepanjang Ramadhan. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa disunnahkan qunut di seluruh shalat sunnah. Ini menurut Madzhab Abu Hanifah. Namun yang baik menurut madzhab kami adalah model yang pertama, yaitu qunut pada separuh akhir Ramadhan.”

Imam al-Nawawi mempunyai pandangan bahwa: disunnahkan qunut di akhir shalat witir pada separuh akhir Ramadhan (15 ramadhan ke atas). Meskipun menurut sebagian pendapat ada yang membolehkan qunut sepanjang Ramadhan, namun pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i adalah qunut dikhususkan pada separuh akhir Ramadhan. Wallahu a’lam.

Penjelasan Tambahan Tentang Do’a Qunut Witir 15 Ramadhan 2021

Penjelasan Ahli hadis Al-Hafidz Al-Baihaqi memberi penjelasan, riwayat qunut dalam salat Witir setelah separuh kedua bulan Ramadlan (15 ramadhan malam ke 16 ramadhan) dalam kitabnya As-Sunan al-Kubra 2/498, baik yang diriwayatkan dari Sahabat maupun Tabi’in:

Ubay bin Ka’b (Sahabat)
عَنْ مُحَمَّدٍ هُوَ ابْنُ سِيْرِيْنَ عَنْ بَعْضِ اَصْحَابِهِ أَنَّ اُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ اَمَّهُمْ يَعْنِىْ فِيْ رَمَضَانَ وَكاَنَ يَقْنُتُ فِيْ النِّصْفِ اْلأَخِيْرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Muhammad, yaitu Ibnu Sirin, dari sebagian sahabatnya, sesungguhnya Ubay bin Ka’ab menjadi imam mereka yakni pada bulan Ramadlan dan dia berqunut pada separoh terakhir dari bulan Ramadhan”.

عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ t جَمَعَ النَّاسَ عَلَى اُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّىْ بِهِمْ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَلاَ يَقْنُتُ بِهِمْ اِلاَّ فِي النِّصْفِ الْبَاقِى

“Dari Hasan, sesunggguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan manusia pada ubay bin Ka’ab dan dia berjamaah bersama mereka dengan dua puluh rakaat pada (setiap) malam dan dia tidak berqunut bersama mereka kecuali pada paroh yang tersisa (dari bulan Ramadhan)”

Abdullah bin Umar (Sahabat)
عَنْ نَافِعٍ اَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي الْوِتْرِ اِلاَّ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Nafi’, sesungguhnya Ibnu Umar tidak berqunut pada shalat witir kecuali pada separoh terakhir dari bulan Ramadhan”.

Ibnu Sirin (Tabi’in)
عَنِ ابْنِ مِسْكِيْنَ قَالَ: كَانَ ابْنُ سِيْرِيْنَ يَكْرَهُ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ اِلاَّ فِي النِّصْفِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Ibnu Miskin, dia berkata, Ibnu Sirina memakruhkan (membenci) berqunut pada shalat witir kecuali pada paroh terakhir dari bulan Ramadhan”.

Qatadah (Tabi’in).
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: اَلْقُنُوْتُ فِي النِّصْفِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Qatadah, dia berkata “Qunut itu pada paroh yang terakhir dari bulan Ramadhan”.

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas banyak madzhab yang menjadikannya sebagai dalil melakukan doa Qunut saat witir Ramadan separuh kedua. Misalnya

Pandangan Madzhab Syafi’ie:

فَصْلٌ فِي الْقُنُوْتِ وَهُوَ مُسْتَحَبٌّ بَعْدَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوْعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ مِنَ الصُّبْحِ وَكَذَلِكَ الرَّكْعَةُ اْلأَخِيْرَةُ مِنَ الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ اْلأَخِيْرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ

(Fasal tentang qunut). Qunut disunnahkan setelah bangkit dari ruku’ pada rakaat kedua dari shalat shubuh, begitupula pada rakaat terakhir dari shalat witir pada paroh terakhir dari bulan Ramadhan,” (Raudlah al-Thalibin I/93).

Pandangan Madzhab Maliki:

وَلاَ يَقْنُتُ فِيْهِ إِلاَّ فِي النِّصْفِ اْلاَخِيْرِ مِنْ رَمَضَانَ، رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ وَأُبَيٍّ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ اِخْتَارَهُ اْلاَثْرَمُ لِمَا رُوِيَ أَنَّ عُمَرَ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّيْ بِهِمْ عِشْرِيْنَ وَلاَ يَقْنُتُ اِلاَّ فِي النِّصْفِ الثَّانِيْ، رواه أبو داود

Dan tidak disunnahkan berqunut pada witir kecuali pada separoh terakhir dari Ramadlan. Riwayat tersebut dari Ali dan Ubay, itulah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i yang dipilih oleh Imam Atsram karena berdasarkan riwayat sesungguhnya Umar mengumpulkan umat Islam pada Ubay bin Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka sebanyak dua puluh rakaat dan tidak berqunut kecuali pada separoh kedua. Hadits Riwayat Abu Dawud,” (Syarh al-Kabir li Ibni Qudamah I/719).

Ada Apa dengan 15 Ramadhan?

Pada 15 Ramadhan di tahun 2020,  ada Hadit’s yang menyebutkan bahwa terjadi huru-hara di akhir ramadhan  yang bertepatan dengan hari Jum’at.

Walaupun para Ulama zaman dahulu sudah menjelaskan bahwa Hadit’s-hadit’s tersebut adalah tidak ada yang shahih.

 

Wallahua’lam. (Re/Juni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *