oleh

MURAQABAH

Oleh : Musyfiq Amrarullah*

Ketua Baznas Kabupaten Subang

Pimpinan Ponpes At-Tawadzun Kalijati

 

Amir al-Mukminin Umar bin Khatabb. R.A sangat gemar blusukan, masuk ke kampung-kampung, ke dusun-dusun hingga memasuki daerah-daerah yang jarang penghuninya. Mencari-cari mana rakyatnya yang belum merasakan kebahagiaan akibat kemiskinan yang mendera mereka.

Suatu malam sang Khalifah melihat sebuah gubuk kecil di sebuah dusun terpencil, serta merta beliau mendekat ke arah gubuk ini. Kebiasaan blusukan yang dilakukannya, hampir sering tanpa didampingi pengawal apalagi menteri-menterinya.

Ketika beliau sudah mendekat gubuk ini, kahalifah sebelumnya akan mengucap salam dan meminta izin untuk bertemu dengan penghuni gubuk ini. Tapi tiba-tiba terdengar oleh Umar suara penghuni gubuk tersebut yang sedang berdialog sesama penghuni gubuk tersebut, maka dengan hati-hati Umar mendekatkan pendengarnya ke gubuk ini :” Wahai anak-ku campurkan susu yang kita akan jual ini dengan air, sehingga kita nanti akan mendapat penghasilan yang banyak”.

Ini nampak suara perempuan tua, kira-kira umar menerka dalam hatinya. “Bu…. Bukankah khalifah kita melarang kita sebagai pedagang susu mencampurnya dengan air?” jawab penghuni lain dari gubuk tersebut. Lagi-lagi suara perempuan yang didengar. Dengan seksama sang Khalifah ingin mendengar kelanjutan dialog ini.

“ya betul Nak, Umar melarang kita semua untuk berbuat curang. Tapi jika kita jujur seperti aturan itu, kita tidak bisa meningkatkan penghasilan kita. Toh Umar juga tidak tahu kalau kita mencampur susu ini dengan air”. Ujar ibu tua tadi.

“Astagfirullah…. Ibu ! Umar tidak melihat kita tapi Allah melihat perilaku kita”…. ujar perempuan lain menimpali ucapan wanita tua tadi.

Subhanallaaah wal hamdulillah ….. Umar mendesah bertasbih sambil memuji Tuhannya sambil matanya berbinar haru, beliau kagum dan sekaligus bergembira atas sikap wanita itu yang dengan teguh menjaga harga dirinya untuk selalu bersikap jujur , dengan ber-

murâqabatullah (sikap yakin akan adanya pengawasan Allah) walaupun mereka dalam keadaan sangat membutuhkan sekalipun. Dengan serta merta Umar membalikan badannya kembali dengan cepat ke rumahnya agar tidak diketahui oleh penghuni gubuk tersebut. Dan besoknya Umar menyuruh aparatnya untuk menyelidiki siapa penghuni gubuk itu. Tak lama, Umar sang Khalifah mendapatkan informasi tentang penghuni gubuk itu. ternyata penghuninya

adalah hanya diisi oleh dua orang, yang satu perempuan janda yang sudah tidak bersuami yang telah lama mwafat. Dan seorang lagi adalah anak gadisnya yang masih muda belia, dan memang mereka berprofesi sebagai tukang jual susu.

Kisah diatas berakhir positif. Yaitu, Umar menyuruh salah seoarang anakanya Yang bernama “Ashim bin Umar untuk menikahi gadis mulya pedagang susu tersebut. Murâqabah adalah kalimat bentuk isim mashdar dari kalimat râqaba yurâqibu

murâqabah artinya pengawasan. Dan muraqabatullah berarti pengawasan Allah. Yang pengawasan-Nya tidak pernah luput dari perlakuan apapun yang dilakukan oleh makhluk-NYA.

Seperti firman Allah dalam Q.S. al-Ahzab/33 : 52 ;

“Bahwa Allah atas segala sesuatu sebagai pengawas…”.

Allah adalah pengawas atas semua amal-amal hamba-hamab-Nya melihat keadaannya mengetahui apa yang disembunyikan dalam hati mereka, mengaetahui rahasia-rahasianya.

Puasa yang kita lakukan ini sesungguhnya merupakan media pelatihan kita untuk ber-muraqabah. Karena puasa merupakan ibadah rahasia dan hanya Allah lah yang bisa menilai puasa atau tidaknya seseorang tersebut. Maka Allah dalam hadits qudsi berfirman : “Puasa adalah untuk diri-KU dan Aku yang memberikan penilaian atau balasannya”.

Puasa merupakan ibadah yang berbeda penilaiannya dengan ibadah lainnya. Karena Ibdah Sholat, zakat, dan hajji, semua manusia dan bahkan makhluk lain tahu kalau melakukan sholat, zakat, dan juga haji, karena ketika kita malaksanakan ibadah-ibadah tersebut puluhan pasang mata meliahat kalo kita mengerjakan ibadah tersebut.

Apalagi ibadah haji, tradisi masyarakat Indonesia sudah lumrah jika ada yang akan berangkat haji maka saudara, famili, tetangga kanan kiri ikut berndong menghantar calon jamaah haji. Agar mendapat keberkahan alasannya Berbeda dengan puasa yang dapat menilai hanya Allah. Seperti jika kita melihat kumpulan muslimat berkumpul dalam sebuah ruangan disiang bulan suci Ramadhan apakah kita yakin mereka semua berpuasa?

Belum tentu. Bisa jadi ada mereka sedang datang bulan atau menstruasi, sehingga dia tercegah melakukan puasa. Walaupun mereka sama–sama duduk dan tidak ada hidangan makanan untuk dikonsumsi tidak bisa kita menilai semuanya sedang berpuasa. Untuk dikatakan bahwa puasa itu milikku dan Aku yang memberikan balasannya.

Training untuk mendapat keteguhan ber muraqabah bisa kita dapatkan melalui ibadah puasa ini. Seperti kita sedang berwudhuk, ketika berkumur-kumur, kita bisa saja

meneguk air mencuri kesempatan untuk membahasi terongkongkan yang kering, jika itu dilakukan tidak ada satu pasang mata manapun yang mampu menjadi saksi, bahwa kita barusan meneguk air.

Namun mengapa kita tidak lakukan hal itu, padahal peluangnnya sangat besar. Jawabannya akan mengarak kepada satu yaitu “ Allah sedang mengawasi kita” atau nanti puasa kita batal. Tentunya pelajaran muraqabah dari bulan puasa ini, layaknya kita mampu

untuk mengimplementasikannya dalam sikap jujur. Sikap tidak curang dalam berbagai kehidupan bersama, sehingga tidak didapat adanya orang-orang yang dirugikan akibat kecurangan yang kita lakukan.

Meyakini akan pengawasan Allah (muraqabatullah) seyogyanya dapat dijakan perilaku kesehariannya kaum muslimin, karena latihan sikap tersebut didapat secara kontinyuitas setiap tahunnya pada setiap bulan suci Ramadhan. Karena tujuan puasa dalam bulan Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus saja. Allah secara gamabang menyatakan bahwa tujuan berpuasa adalah “La’allakum tattaqûn” agar kalian menjadi manusia yang bertaqwa. Agar

kalian takut kepada Allah.

Secara tersirat, Allah menghendaki dari orang-orang yang berpuasa agar mampu mengimplmentasikan nilai- nilai hikmah yang terdapat pada ibadah puasa, antara lain adalah keyakinan atas pengawasan Allah atas perbuatan-perbuatan makhluknya.

Jika pada kisah muraqabah diatas menceritakan akan perilaku rakyat jelata untuk ber-muraqabah, bukan berarti tidak ada kisah dari penguasa yang mampu ber-muraqabah.

Pada masa dinasti Umayyah ada salah seorang khalifah yang berkuasa pada sekitar tahun 99 H- 101 H. yaitu Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah yang dijuluki sebagai khulafa ar-Rasyidun yang ke 5. Karena beliau seorang khalifah yang terkenal dengan zuhud, bijak dan adil. Dan sikapnya layak diteladani oleh para penguasa-penguasa lain. Seperti kehati-hatian beliau dalam

menggunakan fasilitas negara.

Seperti dikisahkan, ketika beliau pada malam hari masih duduk dikantornya untuk bekerja hingga larut malam, seorang anaknya memasuki ruang kantor ayahnya yang waktu itu kantornya hanya diterangi oleh lampu “cempor”, seraya berkata anaknya, “Ayah, izin saya akan menyampaikan amanat Ibu”, tiba-tiba Umar bin abdul Aziz memedamkan lampu cempornya yang sejak tadi menyala menerangai beliau bekerja. Sehingga anaknya bertanya, “Ayaah…kenapa kau matikan lampu itu?”, Seraya Umar Menjawab “Naak…. Lampu ini menyala karena ada minyaknya, dan minyak yang menyebabkan lampu ini menyala adalah minyak negara, ayah berani menggunakan lampu ini karena ayah bekerja urusan kantor. Sedangkan kamu datang kemari hanya ingin menyampaikan ibu, berarti bukan urusan negara. Untuk itu ayah matikan.

Ayah khawatir kelak nanti dimintai pertanggungjawaban oleh

negara Allah pada hari kiamat,” mengapa engkau gunakan minyak negara untuk kepentingan keluarga? Untuk itu ayah matikan lampu itu. Dan luar biasanya Umar bin Abdul Azis ini merupakan cucu dari ank pedagang susu miskin di atas yang dinikahi oleh Ashim putranya Umar bin Khattab RA.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *