oleh

Gus Ahad Kritisi Kebijakan Yang Simpang Siur Soal Larangan Mudik

Timbulkan Letupan di Tengah Masyarakat

PURWAKARTA-Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Ir. H. Abdul Hadi Wijaya, M.Sc. menanggapi maraknya keluhan dan protes yang timbul di masyarakat terkait kebijakan larangan mudik, penyekatan, hingga penutupan objek wisata.

Gus Ahad, sapaan akrab Politisi PKS ini mengingatkan, langkah pemerintah saat ini pada hakikatnya sesuai dengan tugasnya, yakni untuk melindungi seluruh masyarakat.

Hal ini lah yang menjadi prioritas dan harus dipahami bersama oleh seluruh kalangan, mulai dari pemerintah pusat hingga ke akar masyarakat.

“Pemerintah menjaga agar kesehatan warganya terjamin. Juga terus meminimalisir jumlah paparan COVID-19. Ketika urusannya menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat, maka itulah yang menjadi prioritas,” kata Gus Ahad melalui rilisnya, Kamis (20/5).

Di sisi lain, sambungnya, harus dipahami pula sejak awal kebijakan kondisinya banyak yang simpang siur. Khususnya sejak Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Di mana kebijakan pemerintah pusat hingga daerah terjadi kesimpangsiuran.

“Imbasnya, banyak letupan di masyarakat terkait kebijakan pemerintah ini. Bahkan beberapa di antaranya sempat viral. Ada yang sampai memaki polisi meski ujung-ujungnya minta maaf juga,” ujar Legislator dapil Purwakarta – Karawang ini.

Letupan berupa protes dan keluhan masyarakat itu, sambungnya, merupakan akumulasi dari kebingungan atas kebijakan yang simpang siur itu. Masyarakat juga tidak memiliki pegangan yang pasti.

“Kita lihat pada saat larangan mudik dan penyekatan diberlakukan. Ada puluhan ribu pemotor yang membuat macet jalan hingga berkilo-kilo meter. Hingga akhirnya mereka diizinkan untuk lewat,” kata Gus Ahad.

Ironisnya, lanjut dia, ketika diizinkan lewat dan penyekatan dibuka, malah timbul sorak sorai yang menggema. Bahkan teriakannya mirip suporter bola saat melihat timnya mencetak gol ke gawang lawan. Sangat bahagia.

“Ini menggambarkan adanya pergeseran. Yang harusnya warga merasa terlindungi oleh aparat di pos penjagaan, namun seolah-olah tengah menghadapi musuh,” ucap pria berkaca mata ini.

Kejadian tersebut juga, lanjutnya, menggambarkan bentuk kelelahan, kejenuhan yang berujung pada timbulnya beberapa komentar miring dan protes di lapangan.

“Ini hendaknya menjadi evaluasi bagi para pengambil kebijakan terkait penanganan COVID-19. Gubernur sebagai ketuanya kemudian para wakilnya itu jajaran Forkompinda. Ambil lah kebijakan-kebijakan yang fokus kepada keselamatan masyarakat secara luas,” kata Gus Ahad.

Sehingga kebijakan tersebut menjadi pegangan masyarakat. Lalu ke depannya, ujar Gus Ahad, harus ada perbaikan terutama bagaimana perumusan dan pengambilan kebijakan agar lebih memperhatikan aspek kepastian.

“Jangan sampai simpang siur, karena ini yang menyebabkan masyarakat bingung dan frustasi yang kemudian menyebabkan terjadinya letupan,” ujarnya.

Lebih lanjut pria yang dikenal tegas tapi murah senyum ini pun menyampaikan kekhawatirannya. Yakni, potensi terjadinya lonjakan kasus COVID-19 imbas dari banyaknya kerumunan di berbagai titik pariwisata dan tempat hiburan.

“Hal ini pernah terjadi pada tahun lalu dan efeknya sangat mengerikan. Terlebih, kita baru melihat kejadian di India beberapa pekan lalu. Semoga ini tidak terjadi,” ucapnya.

Sebagai wakil masyarakat, Gus Ahad berharap dan mengimbau agar semua pihak bisa menahan diri dan fokus terhadap keselamatan dan kesehatan bersama.

“Dengan demikian, kita bisa menyelesaikan semua tanggung jawab pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 ini,” katanya.(add)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.