oleh

Runtah di Antara Dedi-Jimat

HARI  Minggu (30/5) tiba-tiba heboh. Gara-gara aksi Dedi Mulyadi membersihkan dan mengangkut sampah di TPS Pujasera.

Yang heboh di jagat maya media sosial. Di Pujasera hebohnya sebentar. Dikira hal biasa, petugas membersihkan sampah.

Padahal yang membersihkan sampah itu anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta. Dari kecil sampai SMA di Subang lalu ‘merantau’ ke Purwakarta.

Kang Dedi aktivis dan politisi cemerlang. Tahun 1999 lulus kuliah, 2001 jadi anggota DPRD, 2003 jadi wakil bupati, 2008 jadi bupati hingga 2018.

Aksinya membersihkan sampah di TPS Pujasera jadi perhatian, karena di sana ada kamera. Ada juga wartawan yang meliput aksi itu. Disebutkan Dedi Mulyadi mengerahkan 10 truk dan alat loader untuk mengangkut sampah.

Saya kira aksi Bupati Purwakarta dua periode itu akan diunggah ke akun youtube miliknya, ternyata tidak. Padahal saya menunggu. Ingin tahu video lengkapnya dari awal sampai akhir.

Entah tidak akan diunggah atau belum. Hingga tadi pagi, saya buka akun Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel tidak ada konten aksinya membersihkan sampah di Subang.

Tiga konten terbaru yang diunggah semuanya tentang Dedi dan masyarakat kecil. Imej yang selama ini ia bangun. Membela kaum papa, menolong orang miskin dan lemah. Hanya ada beberapa saja konten yang agak serius. Misal aksinya saat ‘sidak’ ke tambang illegal.

Aksi-aksi Dedi itu nampak disukai netizen. Akun Youtube-nya itu sudah mendapat 1,2 juta subscriber. Artinya, Dedi bersama timnya sudah mendapat penghasilan dari Youtube. Entah berapa.

Hal itu tentu sudah tidak aneh, hampir semua anggota DPR RI merekam aktivitasnya untuk kemudian diunggah ke medsos. Mereka bahkan punya tim medsos yang digaji. Apalagi sekelas menteri. Tapi kita biasanya tetap menyebut mereka wakil rakyat, pejabat, bukan Youtuber.

Jika Anda bisa editing video yang bagus, saya sarankan melamarlah jadi tim medsos anggota DPR RI. Mereka sangat membutuhkan. Apalagi nanti menjelang Pileg dan Pilkada.

Mungkin Kang Dedi juga tahu, aksinya itu akan menimbulkan banyak reaksi dan tanggapan. Jadi tidak diunggah di Youtube. Hanya diunggah di akun Facebook yang terkoneksi ke Instagram. Ada 4 foto TPS Pujasera yang diposting. Anda bisa cek di sini: https://web.facebook.com/DediMulyadi1971/?_rdc=1&_rdr.

Itu pun tidak menyebutkan lokasi di mana sampah itu menumpuk. Hanya ada di media massa ia menjelaskan mengapa akhirnya berinisiatif mengangkut sampah di TPS itu.

“Saya mau makan bakso virgo langganan di sini. Ko banyak sampah dan lalat. Akhirnya ya sudah diangkat, mengajak warga di kampung,” kata Kang Dedi kepada media alasan dirinya mengangkut sampah.

Kang Dedi pun menegaskan, tindakannya sebagai bentuk kepedulian kepada kampung halamannya. Tanpa ada perkataan mengkritik Pemkab Subang.

Saya berkesimpulan, Kang Dedi tidak bermaksud ‘menampar’ wajah kinerja Pemkab Subang. Ia sama sekali tidak mengkritik pemerintah atau Bupati Ruhimat. Memang begitulah Kang Dedi, sudah bawaan ‘dari sananya’.

Lihat saja Purwakarta saat dia pimpin. Sebuah proyek, selesai saja tidak cukup. Harus indah, harus nyeni. Itulah jiwanya. Pohon saja diselimuti kain belang-belang. Biar indah, seperti di Bali. Apalagi melihat tumpukan sampah. Batinnya tersiksa.

Kang Dedi pun berusaha agar hal itu tidak jadi isu politik, buktinya: ia tidak mengkritik, tidak mengajak anak buahnya di Partai Golkar mengangkut sampah, tidak menyebutkan dirinya sebagai anggota DPR RI, tidak memakai bahasa politik. Bertutur dengan bahasa pada umumnya seseorang yang peduli.

Tapi sudah terlanjur ditafsirkan ke mana-mana oleh netizen dan para aktivis media sosial. Tapi bisa juga begitu cara halus Kang Dedi mengkritik: dengan memberi contoh. Lagipula, masyarakat memang ingin cepat. Taktis.

Sebagai mantan kepala daerah tentu dia tahu apa yang ada dalam pikiran Bupati Ruhimat. Kompleksitas birokrasi dan aturan yang kadang membuat segala keputusan menjadi lambat. Apalagi menyangkut anggaran. Harus hati-hati.

Kang Jimat juga sadar, jika TPA dipindahkan ke Jalupang Cipendeuy banyak akibatnya. Jarak jadi jauh, armada terbatas. Maka penumpukan sampah tidak terhindari. Padahal, saat dibuang di TPA di Panembong saja, setiap tahun ada 60.672 m3 sampah yang tidak bisa terangkut. Berceceran di mana saja. Sampah sebanyak itu perlu diangkut sebanyak 80.672 rit.

Kemampuan armada mengangkut sampah setiap tahun hanya 5.664 rit yang mampu mengangkut 34.416 kubik. Mengapa tidak terangkut semua? Anggarannya terbatas. Alias dibagi-bagi. Kendaraannya pun terbatas, hanya 29 unit truk yang beroperasi. Sudah mengajukan 30 truk lagi.

Sebanyak itu pun memerlukan anggaran Rp8,8 miliar. Artinya butuh anggaran hampir Rp17 miliar jika ingin semua sampah terangkut dalam setahun.

Itu hitungan ke TPA Panembong, lain cerita untuk biaya angkut ke TPA Jalupang, Cipendeuy. Bisa dua kali lipat, sekitar Rp34 miliar. Sedangkan pendapatan dari retribusi sampah hanya Rp2 miliar/tahun.

Selalu ada risiko. Ruhimat mengambil risiko itu: memindahkan TPA ke Jalupang. Yang jaraknya sekitar 20 Km. Waktu tempuhnya bisa lebih dari 1 jam. Sebenarnya jika mengacu ke kajian, TPA Panembong masih bisa digunakan hingga 2024. Itu berdasarkan kajian dari Kementerian Lingkunghan Hidup.

Tapi belakangan desakan pemindahan TPA terus gencar. Terutama dari para aktivis lingkungan. Sudah pula terjadi longsoran sampah. Tumpah ke sungai Cipanggilingan. Terbawa ke persawahan warga. Kejadian itu pun heboh. Seperti hebohnya Kang Dedi ke TPS Pujasera.

Akhirnya Ruhimat merayu warga, untuk membolehkan armada sampah lewat ke Jalupang. Sampah dibuang ke Jalupang. Didirikan TPA baru di Jalupang. Setelah mengantongi izin dari PTPN sebagai pemilik lahan.

Warga Jalupang sempat menolak. Pasang spanduk di mana-mana. Tapi akhirnya luluh. Warga Jalupang berfikir untuk kemajuan Subang. Bahkan ada yang berusaha mengais rezeki dai TPA baru itu. Memilah sampah dan berjualan.

Tahun ini jalan ke TPA Panembong akan diperbaiki. Anggaran sudah disediakan. Juga anggaran tambahan untuk mengangkut sampah sudah disediakan Rp3 miliar. Sudah dihitung pula anggaran untuk pembelian insenerator, alat penghancur sampah Rp35 miliar.

Begitu penjelasan Kepala BP4D Hari Rubianto saat saya undang ke redaksi. Sebab Ruhimat lebih memilih langsung ke lapangan, daripada konferensi pers. Bekerja tanpa iringan media. Mencari solusi permanen.

Memang benar, Kang Jimat juga marah, kesal kepada anak buahnya di Dinas Lingkungan Hidup. Lambat dan tidak membuat inisiatif. Padahal bisa saja meniru inisiatif BPBD saat mengangkut sampah di lokasi banjir Pamanukan. Mengerahkan armada angkut sampah dari swasta.

Begitulah sampah—runtah—membuat cerita di jagat maya. Antara Dedi dan Ruhimat.

Bagaiamana hari ini? Tadi pagi saya ke pasar membeli pisang ambon lumut. Sambil lihat sampah di TPS Pujasera. Sudah menumpuk lagi. Meluber lagi. Demikian juga di TPS liar Pintuuyuh Jalan Arif Rahman Hakim. Menumpuk.

Siapa lagi yang ingin turun seperti Kang Dedi?

Hanya ‘pasukan kuning’ yang akan kembali bekerja. Lalu kita hanya akan membaca lagi percakapan di jagat maya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *