oleh

Manfaatkan Air dari Salamdarma, Petani Mulai Olah Tanah

SUBANG-Meski sempat kesulitan air karena Perbaikan Sipon di Saluran Tarum Timur BTT 51 belum rampung, Pertanian di Kecamatan Compreng kembali mulai tanam padi. Sebagian besar masih melakukan olah tanah, namun sebagian lagi ada yang sudah melaksanakan tanam.

POPT Kecamatan Compreng Omsah Neelam mengatakan, saat ini petani di Desa Mekarjaya, Kalensari dan Compreng mulai olah tanah karena memanfaatkan air Salamdarma Bugis bukan dari Saluran Tarum Timur.

“Sebagian besar ini memanfaatkan air dari Bugis yang bersumber Salamdarma dan bukan dari Tarum Timur. Sebab, perbaikannya masih belum rampung,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dari data yang ada saat ini, yang sudah melakukan olah tanah  dari tiga desa itu sekitar 1.200 hektare dan yang sudah tanam hanya Desa Kiarasari sebanyak 250 hektare.

“Baru Desa Kiarasari yang sudah tanam. Lainnya ada tiga desa yang sudah olah tanah. Perkiraan tanam mulai banyak di Bulan Juli,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Jatimulya Kecamatan Compreng Din Wahidin mengatakan, untuk mempertanyakan penyelesaian pembangunan dan perbaikan Sipon dilakukan pertemuan bersama dengan pihak PJT II Seksi Binong dan Patrol, Camat Compreng dan perwakilan Kepala Desa, Camat Anjatan dan perwakilan Kepala Desa, Dinas SDA Jabar, Dinas Pertanian serta Dinas PUPR.

“Pada intinya kami menanyakan terkait progress penyelesaian pembangunan sifon yang sempat jebol,” ucap Din.

Dari pertemuan, Din menyampaikan informasi yang disampaikan pelaksana, pekerjaan pembangunan sifon akan selesai pada akhir Juni.

“Secara teknis akhir Juni tersebut tarum Timur akan secara normal kembali dapat dialiri air,” jelasnya.

Meski demikian, masih tetap akan ada pekerjaan dari PT Wika. Sebab, masih ada item yang perlu dikerjakan dilokasi tersebut.

“Kalau Tarum Timurnya selesai dan bisa dilintasi air. Nah tapi masih ada pekerjaan di Sungai Cigasoli yang masih dikerjakan Wika. Ini akan selesai Juli, tapi kalau tarum timur sudah aman. Itu kata pelaksana,” imbuhnya.

Untuk itu, hasil pertemuan tersebut akan dibuat berita acara. Sehingga dalam pelaksanaan pembangunan bisa berpatokan pada hasil kesepakatan tersebut.

“Bahkan kami juga dipersilakan untuk mengawasi dan memonitor entah itu setiap hari setiap minggu, agar proyek ini bisa selesai tepat waktu dan air kembali bisa digunakan untuk persawahan,” tambah Din.(ygi/ysp)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *