oleh

Perindo setelah Dahlan Iskan

KEBETULAN saya tahu isi presentasi Haerul Anwar saat seleksi direksi BUMD PT Subang Sejahtera (SS). Ia menyampaikan ide bisnis penjualan pakan ikan.

Bekerjasama dengan BUMN Perikanan Indonesia (Perindo). Mas Bobi—begitu sapaan akrabnya—optimistis usaha itu akan berkembang.

Presentasi itu disampaikan di hadapan Bupati Ruhimat. Sebagai pemegang saham BUMD SS. Mendengar pemaparan itu, bagi Ruhimat, ide itu realistis. Mas Bobi juga menyampaikan detilnya. Berapa potensi pendapatan dan target pasar. Tentu, ada pula ide-ide lain untuk pembenahan BUMD itu.

Singkat cerita, Mas Bobi terpilih jadi Direktur Operasional BUMD SS. Idenya itu ditagih bupati. Ia pun gerak cepat. Tidak sulit bagi Mas Bobi. Sebab sudah lama menjalin kerjasama dengan Perindo. Sejak ia membuka usaha tambak udah vanamei yang terkenal itu.

Tambak udang milik Mas Bobi yang pertama jadi lahan uji coba pakan udang bermerek ‘Muara’ yang diproduksi Perindo. Tahun 2020 lalu. Saat itu Perindo bahkan belum stabil dalam memproduksi pakan udang. Karung kemasannya pun belum siap.

Ternyata hasilnya menggembirakan. Tidak kalah dari pakan udang merek lain yang dibuat swasta. Mas Bobi bukan pelaku usaha udang dadakan. Saya kenal baik Mas Bobi saat menjadi anggota DPRD Subang periode 2009-2014.

Hingga kini sudah 7 tahun ia menjalani usaha udang. Mengelola 20 hektare lahan tambak udang. Jika satu hektare menghasilkan 6-7 ton udang, memberi keuntungan rata-rata Rp40 jutaan, silahkan hitung sendiri keuntungan totalnya.

Sebelum Mas Bobi, dulu saya kenal baik dengan Mimin Hermawan. Anggota dewan dari Golkar yang juga petambak udang. Memiliki 21 Ha lahan tambak. Namanya dikenal luas di kalangan petani ikan. Sebab ia penemu teknologi sistem plastik mulsa.

Bersama Dirops BUMD PT SS Haerul Anwar dan marketing BUMN Perindo Oloan Romapea (kanan).

Sistem itu kini diadopsi oleh mayoritas petambak udang di Indonesia. Saya pernah sekali menemaninya ke Metro TV. Diundang interview bareng pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mas Bobi juga sahabat baik Mas Mimin.

Saya biasa menyebut Kang Mimin. Meski hanya nara sumber, saya  merasa cukup kehilangan. Mungkin petambak ikan juga merasa sangat kehilangan.

Ia sudah meninggal dunia tahun 2013 lalu. Sakit kanker hati. Seperti Dahlan Iskan. Bahkan Mimin dirawat di rumah sakit yang sama saat Dahlan dirawat di Cina.

Dalam kondisi sakit Mimin sempat menelpon saya. Menanyakan bagaimana cara berobat Dahlan Iskan sampai bisa sembuh dari sakit kanker hati.

Saat itu saya belum baca buku ‘Ganti Hati’. Saya agak bingung menjawabnya. Tapi Mimin bilang lagi menunggu pendonor. Saya agak plong. Tapi tidak semujur Dahlan, ajal keburu menjemputnya. Alfatihah.

Mas Bobi kini jadi penerus budidaya udang vanamei. Penerus Mimin.

Sebelum ‘dilantik’ jadi Dirops BUMD, saya ‘protes’ ke Perindo via Mas Bobi. Kenapa tidak ada pakan ikan mereka ‘Muara’ di petani ikan air tawar wilayah selatan. Mas Bobi pun baru tahu kabar itu. Ia sepakat untuk mendorong agar pakan ikan milik BUMN itu beredar luas di Subang.

“Tidak hanya pakan udang, pakan ikan air tawar juga ada. Nanti kita bareng ke Perindo,” kata Mas Bobi.

Jumat lalu, 29 Juli, akhirnya saya bareng Mas Bobi berkunjung ke pabrik pakan ikan Perindo. Tak lupa saya mengajak wartawan wilayah Pantura.

Dalam kunjungan itu Mas Bobi menawarkan Kerjasama BUMD SS dengan Perindo. Dalam kunjungan itu saya menawarkan Perindo kerjasama dengan media. Hehe.

Kami berkesempatan berkeliling melihat pabrik pupuk pakan. Pabrik dan area pendukungnya seluas 4 Ha. Berada di kawasan Sanghyang Seri, Sukamandi. Hanya sekitar 3 menit dari jalur Pantura.

Terlihat tumpukan pakan ikan ukuran 30 kilogram di pabrik pakan yang sangat luas. Kemasan berwarna biru pakan udang, sedangkan warna merah pakan ikan air tawar dan lele. Tapi tidak nampak keramaian bongkar muat pakan.

“Kita pengiriman ke mana saja. Tergantung orderan,” ujar marketing Perindo yang menyambut kami, Oloan Romapea.

Oloan pun mengaku gembira mendapat kunjungan itu. Lebih gembira jika bisa kerjasama dengan BUMD PT SS. “Kami ingin membantu petani ikan di Subang lebih sejahtera,” katanya.

Oloan menjelaskan banyak hal tentang BUMN Perindo. Termasuk pengalamannya menjalankan program sering disangka program partai oleh nelayan. Maklum, nama BUMN ini sama persis dengan nama partai yang didirikan Hary Tanoe.

Nama Perindo kata Oloan, pemberian Dahlan Iskan. Saat menjadi Menteri BUMN tahun 2014 lalu. Dulu Namanya Perusahaan Umum Prasarana Perikanan Samudra (PPS). Dahlan memberikan banyak ‘sentuhan’ untuk kemajuan Perindo.

Tahun ini Perindo akan berada di bawah holding BUMN pangan. Bersama sejumlah BUMN lainnya. Sebelum masuk ke gerbong yang besar, Perindo merger dengan BUMN bidang perikanan lainnya yaitu Perikanan Nusantara (Perinus). Perinus sendiri awalnya gabungan dari 5 perusahaan BUMN pula.

Dalam catatan Manufacturing Hope Dahlan Iskan disebut, Perindo menguasai lahan pelabuhan ikan seluas 76 hektare (ha) di Muara Baru Jakarta. Juga memiliki pelabuhan ikan di lima kota lainnya seperti Pekalongan Jawa Tengah, Belawan Sumatera Utara, dan Brondong Jawa Timur.

Dulu, Dahlan Iskan bersikeras tidak akan menggabungkan Perindo dengan Perinus. Tapi akan dikompetisikan. Sebab laut Indonesia luas. Penggabungan juga tidak menjamin kemajuan katanya. Seperti Perinus yang juga tidak begitu maju setelah merger 5 perusahaan.

Tapi Menteri BUMN Erick Tohir berbeda strategi. “Untuk apa ada dua BUMN di bidang yang sama. Kita gabungkan saja,” begitu kata Menteri BUMN Erick Tohir kepada media, awal tahun lalu.

Sedangkan BUMN bidang pangan yang dimaksud yaitu gabungan dari PT PPI (Persero), Perum Perikanan Indonesia, PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Garam (Persero), PT Pertani (Persero), PT BGR Logistics (Persero), PT Berdikari (Persero), dan PT Sang Hyang Seri (Persero).

Nantinya BUMN kluster pangan ini akan dipimpin oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Bosnya mantan Dirut BUMD PT Jakarta Foodstation. Yang sukses mengantongi laba Rp70 miliar di saat pandemi tahun 2020. Eric Thahir tertarik, lalu diangkat menjadi Dirut holding BUMN cluster pangan. Baca: Anomali BUMD

Dari sejumlah BUMN itu, yang berada di Subang yaitu RNI, Perindo dan Sanghyang Seri. RNI dan Sanghyang Seri menguasai lahan yang begitu luas di Subang. Jumlahnya ratusan hektare.

Tapi, rasanya selama ini belum mendengar kerjasama usaha antara RNI dan Sanghyang Seri dengan BUMD Pemkab Subang. Kalau Pemda Subang ketiban masalahnya sudah sering. Misal belum lama ini masalah petani versus perusahaan pelat merah itu.

Jika kemudian Perindo dan PT SS benar-benar kerjasama, itu sejarah baru. Kata Mas Bobi, nanti BUMD SS akan bekerjasama untuk penjualan pakan ikan. Kerjasama serupa sebenarnya bisa saja dilakukan dengan Sanghyang Seri untuk memproduksi beras premium khas Subang.

Sedangkan bibit unggul sudah lama diproduksi tapi tidak ada kerjasama penjualan agar menguntungkan secara bisnis untuk pemerintah daerah. Misal bagi hasil dalam bentuk saham untuk bisnis lini pertanian. Tapi ya harap maklum, BUMD-nya baru siuman.

Para petani ikan tentu sangat berharap mendapatkan pakan ikan harga murah. Saat ini, harga ikan sedang jatuh. Sementara pakan ikan melambung. Mahalnya pakan menjadi faktor dominan pemilik kolam air deras di Subang selatan menyewakan kolamnya kepada ‘orang kota’. Mereka akhirnya hanya menjadi penjaga kolam ikan dengan gaji bulanan. Baca: Hikayat Ikan Cijambe

Semoga kehadiran Perindo menjadi penyelamat. Semoga pakan ‘Muara’ Perindo makin tenar setenar partai itu. Subang punya peluang untuk bermitra dengan Perindo dalam penjualan pakan melalui BUMD. Apalagi rencananya BUMN yang satu ini akan mengembangkan pula jasa wisata, kuliner dan edukasi maritim.

Misal pariwisata di pantai utara bisa dikerjasamakan. Dikelola BUMD kerjasama dengan BUMN Perindo. Demikian juga mendirikan sekolah khusus kemaritiman. Misal Politeknik maritim. SMK sudah terlalu banyak.

Menarik juga jika dibuat sentra olahan kuliner ikan laut. Dari mulai ikan segar, ikan beku hingga olahannya. Itu juga bagian dari bisnis Perindo.

Kunjungan ke Perindo itu diakhiri dengan makan etong bakar. Ikan laut unggulan Subang yang rasanya nikmat. Banyak dijual di pinggir jalan. Tapi belum ditemukan di Shopee atau Tokopedia.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *