oleh

Camat Minta Dana Kebencanaan, Sudah Diusulkan Tapi Belum Realisasi

SUBANG-Dana kebencanaan di tingkat kecamatan dinilai penting. Dengan adanya dana itu, pihak kecamatan bisa cepat tanggap ketika terjadi bencana di wilayahnya.

Itulah yang menjadi gagasan di benak Camat Tanjungsiang Dadan Dwiyana. Dadan mengusulkan kepada pemda agar tiap kecamatan diberi dana khusus untuk penanganan bencana.

“Nah kita mengusulkan dana bencana untuk di kecamatan itu. Pada tahun – tahun lalu usulan ini sudah sempat diusulkan, namun tidak ada realisasinya,” katanya.

Dadan mengatakan, dana kebencanaan yang dibutuhkan oleh Kecamatan Tanjungsiang sekitar Rp50 hingga Rp100 juta per tahun. Dana itu bisa digunakan untuk penanganan bencana secara cepat.

“Ketika terjadi bencana kita tanggulangi sementara, baru pihak terkait bisa membantu. Ini dilakukan agar hal – hal yang urgent bisa tertanggulangi,” katanya.

Dadan menyebutkan, Kecamatan Tanjungsiang merupakan salah satu wilayah yang rawan bencana. Mulai dari rawan longsor hingga pohon tumbang.

Camat meminta kepada masyarakat agar tetap waspada saat musim hujan seperti sekarang. Imbauan terus dilakukan agar masyarakat waspada.

Sebelumnya, Kepala BPBD Kabupaten Subang H. Hidayat mengatakan, wilayah selatan hampir di 8 kecamatan dikatagorikan rawan longsor dan banjir bandang. Dari mulai Kecamatan Cijambe hingga Ciater. Sedangkan untuk rawan banjir bandang yaitu wilayah Kecamatan Tanjungsiang, Cisalak, Kasomalang dan Ciater dimana daerah tersebut dilintasi sungai dan anak sungai dari pegunungan selatan Subang.

Sementara itu, untuk wilayah rawan banjir terdapat di wilayah Subang utara atau Pantura Subang seperti Kecamatan Blanakan, Ciasem, Pamanukan, Legonkulon dan Pusakanagara karena wilayah itu dilintasi oleh aliran sungai Ciasem, Cipunagara, Kali Sewo, Cigadung dan aliran irigasi lainnya.

BPBD mengimbau kepada masyarakat Subang untuk waspada, tidak buang sampah di kali atau irigasi, tidak berteduh di bawah pohon yang rapuh, bila ada lumpur bergeser segera berpindah tempat agar tidak terkena longsor.

BPBD akan terus memonitor secara mobile sesuai prediksi Badan Meteorologi Geopisika dan Klimatologi (BMKG) bahwa curah hujan disertai petir akan berlangsung hingga bulan Februari 2022. Hal ini menjadi sebuah tolak ukur BPBD dalam program mitigasi bencana ini. (ygo/dan/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *