oleh

Waspada! Contoh Pelanggaran Privasi “Kepo” Liat HP Pasangan

RAGAM – Di dalam hubungan antar manusia, terlebih lagi hubungan dengan pasangan, tentu saja ada bumbu-bumbu kehidupan semisal rasa penasaran ingin tahu atau kepo berlebih kepada pasangan masing-masing.

Terkadang, orang yang suka kepo sekarang ini dominan untuk memeriksa Hp pasangan dan melihat-lihat apa isi di dalamnya.

Rasa kepo kepada pasangan memang ada baiknya, tapi juga harus diingat ada buruknya.

Iseng-iseng membuka dengan ponsel pasangan bisa menumbuhkan rasa saling percaya. Tapi hal ini lebih memiliki potensi menimbulkan konflik jika satu pihak mungkin mendapati isi smartphone pasangan tidak sesuai yang diinginkan.

Para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda soal penasaran atau kepo pada ponsel pasangan.

Ada ahli yang menilai baik, ada juha yang merasa tidak perlu dilakukan, mengingat walaupun sudah menjalin hubungan lama baik sebagai suami ataupun istri, “menggeledah” Hp pasangan sama dengan melanggar privasi.

Berdasar penelitian terbaru Coalition Against Stalkerware belum lama ini yang melaporkan bahwa saat ini, banyak orang semakin kepo atau ingin tahu isi Hp pasangan mereka.

Koalisi Melawan Stalkerware yang didirikan bersama oleh Kaspersky, perusahaan privasi digital ini melakukan survei global kepada lebih dari 21.000 partisipan di 21 negara tentang sikap pengguna terhadap privasi dan penguntitan digital dalam hubungan pribadi.

Stalkerware sendiri memungkinkan pelaku untuk memantau kehidupan pribadi orang lain secara digital melalui perangkat seluler tanpa persetujuan korban.

Didapati dari mayoritas responden (70 persen) menganggap bahwa memantau pasangannya tanpa persetujuan adalah hal yang tidak dapat diterima.

Tetapu, 30 persen sisanya beranggapan sebaliknya, jika itu dihadapkan dengan situasi tertentu.

Dari mereka yang membenarkan untuk alasan tertentu, hampir dua pertiga (64 persen) akan melakukannya apabila pasangan tidak setia.

Apabila itu terkait dengan keselamatan mereka (63 persen), atau ketika pasangan mereka terlibat dalam kegiatan kriminal (50 persen).

Dinilai dari sudut pandang geografis, terlihat bahwa anggapan yang membenarkan untuk memantau pasangan secara umum berasal dari responden di kawasan Asia-Pasifik (24 persen). Sedangkan di Eropa (10 persen) dan Amerika (8 persen) lebih sedikit orang yang menganggap hal ini bisa diterima.

Waspada! Contoh Pelanggaran Privasi “Kepo” Liat HP Pasangan

Lebih lanjut lagi, seperti dihimpun dari Jawapos, dalam laporan Digital Stalking in Relationships Kaspersky, yang dilakukan lewat online oleh Sapio Research pada September 2021, menunjukkan bahwa 15 persen responden di seluruh dunia sudah diminta oleh pasangannya untuk menginstal aplikasi pemantauan.

Namun, 34 persen dari mereka yang menunjukkan jawaban ini juga sempat mengalami pelecehan oleh pasangan dekatnya.

Mitra yang menganjurkan penelitian ini ialah pakar kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) dari organisasi anggota lain dari Coalition Against Stalkerware.

“Tidak ada yang membenarkan segala bentuk tindakan untuk melakukan kontrol atas pasangan sehubungan dengan dugaan perselingkuhan. Kampanye preventif yang menangani masalah kontrol koersif, kecemburuan, dan perselingkuhan akan menjadi alat yang berharga untuk melawan sikap ini,” jelas Berta Vall Castello, Research & Development Manager, European Network for the Work with Perpetrators of Domestic Violence (WWP EN).

Penemuan dari penelitian itu menunjukkan bahwa pemantauan online bisa menjadi cara lain untuk menggunakan kontrol koersif dalam sebuah hubungan.

Mengingat bahwa Stalkerware ialah perangkat lunak yang tersedia secara komersial yang tersembunyi di perangkat dan menyediakan akses ke berbagai data pribadi, seperti lokasi perangkat, riwayat peramban, pesan teks, atau obrolan media sosial.

“Saya mendesak bagi siapapun yang mengalami penguntitan baik dalam kehidupan nyata atau melalui perangkat lunak pemantauan tertentu dan merasa berada dalam bahaya atau tidak aman untuk melawan pelaku kekerasan tersebut, dengan cara menghubungi organisasi kekerasan dalam rumah tangga untuk mendapatkan saran dan dukungan,” ucap Karen Bentley, Chief Executive Officer, Wesnet, organisasi payung nasional Australia untuk layanan kekerasan dalam rumah tangga, Wesnet.

Sama halnya dengan itu, The National Network to End Domestic Violence menyambut baik inisiasi Kaspersky dalam mengambil langkah maju untuk meningkatkan pemahaman tentang privasi dan penggunaan perangkat penguntit dalam hubungan dengan pasangan.

“Lebih banyak data diperlukan di area ini dan kami berharap dapat melihat informasi ini digunakan untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan privasi bagi para penyintas,” komentar Erica Olsen, Director Keamanan Jaringan, National Network to End Domestic Violence (NNEDV).

Menindaklanjuti kriteria deteksi dari Coalition Against Stalkerware terhadap penggunaan Stalkerware, Kaspersky menganalisis statistik yang mengungkapkan berapa banyak penggunanya yang terpengaruh oleh stalkerware dalam 10 bulan pertama tahun ini.

Dari data itu menjelaskan bahwa dari Januari hingga Oktober 2021, hampir 28.000 pengguna seluler terpengaruh oleh ancaman ini. Selama periode yang sama, terdapat lebih dari 3.100 kasus di UE dan lebih dari 2.300 pengguna di Amerika Utara yang terpengaruh.

Dalam periode yang sama juga, sebanyak 305 pengguna yang dihadapkan dengan Stalkerware di Indonesia. Menurut angka Kaspersky, Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat (AS) menjadi tiga negara teratas dalam pengguna yang dihadapkan dengan Stalkerware secara global sejauh ini. Lalu, Indonesia menempati peringkat ke-18 tahun ini di secara global. (Jni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *