oleh

Cara Melatih Kemampuan Berfikir Anak Dalam Menyusun Rencana!

PARENTING – Cara melatih kemampuan berfikir anak dalam menyusun rencana ini, Menurut Pendiri Sebaya Riang, Agustina Twinky, mengajari anak untuk menyusun rencana dapat dimulai dari usia batita dan balita.

Melatih kemampuan berfikir anak tersebut tentu saja berbeda cara jika usianya berbeda. Contohnya, anak memasuki sekolah, Anak bisa menulis, maka orang tua bisa menyusun rencana bersama anak dengan ditulis.

Twinky menjelaskan, bahwa orang tua tanpa disadari mengenalkan anak dengan merencanakan sesuatu sejak dini, terlihat dari cara menentukan bekal apa yang ingin dibawa anak ke sekolah.

’’Saat malam, anak ditanya. Besok adik mau bawa apa? Bawa snack yang di kulkas, Ma. Oke, adik besok jangan lupa ambil snack-nya sebelum berangkat,’’ imbuhnya, demikian dirangkum via Jawapos.

Hal itu berbeda ketika anak sudah masuk ke sekolah. Twinky menyebutkan, tanggung jawab anak akan bertambah. Dan rencana yang disusun akan bervariatif. Misalnya, pekerjaan rumah dari sekolah. ’

’Kapan mau mengerjakan PR dari ibu gurunya. Jam berapa mau tidur supaya besok bangun pagi,’’ paparnya.

Saat menyusun rencana, Orang tua perlu turut memperhatikan. Rencana apa saja yang disusun anak, tidak perlu dihentikan. Anak diarahkan untuk memberikan level. Dari semua rencana yang ia tulis, rencana mana yang paling mudah dan paling sulit. Serta, mengetahui kendala yang bakal dihadapi anak dari rencana paling sulit tersebut.

Cara Melatih Kemampuan Berfikir Anak Dalam Menyusun Rencana!

Sebenarnya, fungsi dari merealisasikan rencana menurut Neuroparenting practitioner, Aning Rahmawati yang memaparkan, bahwa orang tua mempunyai fungsi sebagai seorang coach atau mentor untuk mendampingi anak.

Orang tua perlu mendampingi anak hingga rencana anak terealisasi. Terlebih lagi, apabila membiasakan menyusun rencana yang diterapkan kepada anak usia 5–9 tahun.

”Sesungguhnya, kita sebagai orang tua sedang memberikan pengalaman belajar kepada anak. Pengalaman belajar itu bisa sukses dan tidak sukses,” imbuhnya.

Aning menilai, pengalaman belajar menjadi hal yang fundamental untuk anak. Ia menyebutkan, dalam otak ada proses pembentukan mielin. Semakin anak mendapatkan pengalaman belajar, gagal atau sukses, semakin tebal mielinnya. Artinya, pengalaman belajarnya semakin kuat.

Kebiasaan membuat planning dilakukan Rachma. Di kamar putri semata wayangnya, Angeline, tersedia papan putih yang rutin diisi keduanya setiap malam. Di samping kiri papan ada nomor 1 sampai 3. ”Ada tiga rencana yang harus diisi Angelin. Isinya apa? Aktivitas yang mau dilakukan Angeline besoknya,” bebernya.

Sekarang ini, Angeline duduk di bangku SMP. Usianya 12 tahun. Semenjak usia 4 tahun, Rachma mengajari Angeline untuk membuat tulisan besok mau ngapain.

Sebelum di papan putih, Angeline menulis di kertas. Menggunakan krayon atau spidol warna. Sebab, saat itu Angeline masih berusia 4 tahun, Rachma mengenalkan rencana yang mudah, seperti ikut belanja di pasar.

”Aku minta dia nulis apa saja yang mau dibeli di pasar,” pungkasnya.

Jika Rencana Berjalan Tersendat

  1. Tidak usah marah. Sedikit-sedikit marah kalau tidak sesuai ekspektasi orang tua. Ketika anak gagal mewujudkan rencananya, itu berarti anak sudah mengenal kegagalan. Tidak masalah.
  2. Anak juga memahami bagaimana rasa kecewa itu. Kecewa rencananya berantakan.
  3. Ajak anak untuk berdiskusi agar dapat menemukan solusi bersama. Agar mengajarkan kepada anak cara berfikir kreatif. (Jni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *