oleh

Lulusan SMK Memilih jadi Petani Bawang, Melanjutkan Pertanian dan Ilmu dari Bapak

Dalam wawancara dengan Pasundan Ekspres, Taripin mendapat ilmu bertani bawang turun dari ayahnya yang lebih dulu aktif bertani bawang di Patrol, Indramayu. Kini ia juga mengurus lahan tersebut bersama bapaknya.

 

YOGI MIFTAHUL FAHMI, Compreng

 

“Dari kecil sudah diajarin, sejak SMP sampai SMK oleh bapak,” katanya.

Saat ini, di Desa Sukatani, ia sendiri menggarap lahan untuk bawang sebanyak 3.500 meter yang terbagi menjadi dua bidang lahan dari total lahan yang digarap kurang lebih mencapai 3 bahu atau hampir 2 hektare.

Selain bawang, ternyata Taripin juga mengembangkan pertanian dengan sistem tumpang sari. Pada lahan tersebut ditanami padi, jagung, burkol hingga tanaman cabe.

“Hasilnya pun Alhamdulillah juga bagus ya, lumayan,” katanya.

Meski, sudah pernah bekerja di luar negeri, justru Taripin lebih termotivasi untuk terjun ke dunia pertanian. Ia menyebut faktor orang tua menjadi salah satu yang tak terpisahkan. Selain itu, ia juga menyukai dunia pertanian dan hal-hal seputar tanam dan menanam tumbuhan pertanian.

“Ya bapak juga petani ya, terus juga saya suka itu bertanam, berkebun. Melanjutkan pertanian dan ilmu juga dari bapak,” terangnya di lokasi lahan bawang tersebut.

Ipin, begitu disapa mengatakan, motivasinya terjun ke dalam bidang pertanian khususnya bawang karena melihat potensi yang ada. Selain sudah mengenal budidaya dan pertanian bawang, kondisi tanah di Desa Sukatani dirasanya juga cocok dan tak ada masalah.

“Bisa dilihat, tanah di sini ya terbilang bagus. Hitam gitu kan, jadi kalau buat ditanami bawang Insya Allah bagus dan memang sudah berjalan,” ucapnya.

Dalam setahun, Ipin menyebut bertanam bawang merah bisa dilakukan hingga 5 kali tanam dan 5 kali panen.  “Kalau misalnya secara terus-terusan menanam. Itu bisa sampai 5 kali tanam. Umur bawangnya itu berkisar 50-60 hari atau dua bulan itu sudah siap panen,” jelas Ipin.

Dalam setiap kali produksi hasil panen yang ia garap, dari total setengah bahu tersebut bisa mencapai 4 ton atau potensi dalam 1 hektare mencapai 11-12 ton.

Dari hasil panen sendiri, Taripin menjual langsung hasil panen ke Pasar Induk di Jakarta karena telah memiliki jejaring di pasar tersebut. Dari hasil panen yang ia jual rata-rata ia bisa menjual Rp 15.000-20.000/kg.

“Tapi saya biasanya jual itu gedengan ya, itu bisa Rp20.000. Meskipun memang harga tergantung di sana, terkadang harga bisa lebih dari Rp 20.000 ya,” jelas Ipin.

Mengenai jenis bawang yang ditanam, selama ini Ipin menanam bawang jenis Bima Curut dengan model bibit yang ditanam yakni umbi bawang.

Terkait dengan kondisi pasar, Taripin melanjutkan, bahwa jenis bawang yang ditanam berasal dari Brebes. Sehingga ketika di pasar dapat dikatakan hasilnya pun tak jauh berbeda dengan bawang yang berasal dari Brebes.

“Untuk kualitas, di sana kan udah punya nama. Kualitasnya pasti lebih diakui ya. Tapi untuk bawang hasil panen ini ya bisa bersainglah,” ucapnya.

Dari sisi modal, untuk setengah bahu modal yang digunakan bisa mencapai Rp 25-30 juta. Kebutuhan tersebut yakni untuk bibit, olah tanah serta untuk pupuk. “Tapi memang untuk bawang ini mahal diawal, karena harus olah tanah dulu yang memang berbeda dengan sistem padi ya,” terang Ipin.

Meski tak merinci secara jelas, namun ia mengakui, dalam setiap panen mampu meraup hingga puluhan juta rupiah dari hasil panen bawang tersebut. Jika dihitung dalam satu tahun, hasil panen juga bisa mencapai omset ratusan juta.

“Kalau melihat dari segi modal dibanding dengan padi memang cukup mahal ya, tapi dari yang dihasilkan juga sebetulnya sangat potensial. Kebutuhan bibit saya itu sekali tanam sekitar 2-4 kwintal. Dengan hasil begitu Alhamdulillah bisa membuat saya terus menanam bawang merah ini,” jelas Ipin.

Mengenai perlakuan terhadap tanah, biasanya setelah panen, dirinya melakukan penyemprotan rumput serta pemberian pupuk untuk mengembalikan pH tanah agar lebih bagus dan maksimal.

“Kita semprot untuk rumput-rumputnya, sudah satu minggu kita mulai tanam lagi,” jelas Ipin.

Saat ini, ia masih belum tertarik untuk bertanam bawang dari benih atau biji. Ia lebih terbiasa dengan bibit umbi yang dinilainya lebih cocok dan memberikan banyak kelebihan.

“Kalau umbi itu enak ya, tinggal tanam, tancep, menunggu tunas keluar. Panen juga bisa lebih cepat. Kalau biji lebih lama yang saya tahu, terus juga anakan dari bibit juga kalua di umbi ini bisa terus bertambah besar,” ucapnya.

Selama berjalannya waktu dari 2019 hingga 2021 ini, Ia bersyukur sejauh ini pertanian bawang merah yang dijalani masih berjalan dengan lancar. Dalam periode tersebut pernah satu mengalami gagal panen total akibat terserang hama/virus yang membuat daun bawang kering serta tunas yang membusuk.

“Dulu pernah sekali gagal total panen, karena kering dan membusuk. Terkena virus. Tapi selain itu Alhamdulillah, kalau ada hama dan virus bisa dikendalikan. Meski saat ini pernah gagal panen tapi terus berjalan lagi hingga sekarang,” ucap Ipin.

Ia memiliki keinginan untuk memperluas lahan bawang di Sukatani tersebut. Meskipuan di sekelilingnya saat ini masih banyak didominasi oleh pertanian sawah. Namun keinginanya untuk memperluas lahan bawang akan berusaha direalisasikan dalam waktu dekat.

“Insya Allah ingin nambah lagi, rencana masih di daerah sini juga, tidak jauh,” ucapnya.

PPL Desa Sukatani karnasim menyampaikan, dari total luas lahan pertanian seitar 660 hektare di Desa Sukatani, dahulunya di Kecamatan Compreng ini lebih fokus mengembangkan pertanian padi serta mangga.

“Adanya budidaya tanaman bawang merah ini mudah-mudahah bisa dimanfaatkan petani yang lain,” ucapnya.

Meski begitu, ia mengakui, dari perbincangan bersama petani setempat, yang paling susah dalam bertani bawang merah bukan perkara panen, produksi dan dari harga semata. Akan tetapi bertani bawang merah memiliki ilmu tertentu dan menguasai teknis budidaya tersebut.

“Nah mudah-mudahan karena di sini ada orang yang budidaya bawang merah 3.500 meter persegi, mudah-mudahan ilmunya dapat diadopsi oleh petani di desa setempat atau diwilayah Kecamatan Compreng secara umum,” ucap Karnasim.

Dia menyampaikan, keberadaan pertanian bawang ini di Desa Sukatani menjadi salah satu bukti potensi di Kecamatan Compreng tak hanya melulu soal padi dan mangga. Akan tetapi ada bawang merah, burkol serta tanaman lain yang juga dikembangkan di Kecamatan Compreng.

Pengendali Organisme Penganggu Tanaman (POPT) BPP Compreng Omsah Neelam Khyar mengatakan, dari sisi pengamatan hama pada tanaman bawang dan padi, ia melihat ada perbedaan jenis hama yang menyerang tanaman bawang dan padi, meski lahan tersebut berdekatan dan bersebelahan.

“Hamanya kan beda ya tidak sejenis, kalau secara agroekosistem kita amati, tidak begitu beresiko, karena disini mayoritas hama padi, jadi resiko hama padi menyerang bawang itu tipis ya, tapi resiko terserangpun sebetulnya tetap ada,” imbuhnya.

Mengenai potensi hama, ketika musim hujan, tanaman bawang bisa terserang mati pucuk, busuk akar dan busuk umbi.

“Kalau di padi hama itu gak ada, tapi kalu melihat hama utama ada ulat ya, tapi sejah ini di sini aman ya,” jelas Omsah.

Namun yang harus diwaspadai pada saat musim kemarau. Dalam upayan penanganan hama tersebut bisa dipasang lampu tangkap.

“Jadi di atasnya ada lampu di bawahnya ada jebakan, ada hama atau ulat yang menyerang ke arah situ dan mati. Sehingga serangan hama bisa diantisipasi,” ucapnya.

Apalagi informasi dari petani, bawang sendiri justru ketika musim rending atau hujan, bisa lebih cepat panen dibanding musim kemarau. Kondisi ini berbanding terbalik dengan padi yang mana lebih cepat panen ketika musim kemarau.(ygi/ysp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *