oleh

Pengertian I’Tikaf dan Cara Melaksanakannya, Agar Penghujung Ramadhan Penuh Berkah!!!

Pengertian I’Tikaf dan Cara Melaksanakannya, Agar Penghujung Ramadhan Penuh Berkah!!!

Pengertian I'Tikaf dan Cara Melaksanakannya, Agar Penghujung Ramadhan Penuh Berkah!!!
Pengertian I’Tikaf dan Cara Melaksanakannya, Agar Penghujung Ramadhan Penuh Berkah!!!

Pengertian i’tikaf secara etimologi yaitu berdiam diri di masjid dan disertai niat. Tujuan i’tikaf semata-mata untuk Ibadah Kepada Allah, lebih khusus lagi ibadah yang biasanya dilaksanakan di masjid. Niat beri’tikaf tersebut beragam, misal menghormati masjid, berdzikir, belaajar Agama, dan lain sebagainya.

Pengertian i’tikaf juga dapat kita simpulkan bahwa i’tikaf adalah serangkaian amalan yang sunnah dikerjakan ketika bulan ramadhan, terlebih lagi menjelang akhir ramadhan, atau 10 hari terakhir ramadhan, sangat dianjurkan untuk melaksanakan i’tikaf.

Nabi Muhammad S.A.W bersabda:

مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

Yang Artinya: “Siapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka beri’tikaflah pada sepuluh malam terakhir,”  (H.R. Ibnu Hibban). 

Keutamaan I’Tikaf

Menjadi salah satu bagian ikhtiar untuk meraih keutamaan dari upaya meraih keutamaan malam Lailatul Qadar di sepuluh akhir bulan ramadhan.

I’Tikaf Dilakukan di Masjid atau Boleh di Rumah?

Dalam situsi normal (bukan wabah/padnemi), sangat dianjurkan i’tikaf dilaksanakan di masjid, seperti pendapat mayoritas ulama Mazhab Empat (Madzahib al-Arba’ah).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa melakukan i’tikaf adalah di Masjid. Terkecuali dalam kondisi udzur, misalnya disebabkan ada wabah dan pandemi yang menular, maka i’tikaf tidak masalah di rumah, (Masjid Al-Bait =  Masjid Rumah).

I’tikaf Bagi Perempuan Menurut Imam Abu Hanifah dan Qaul Qadim (pendapat lama) Imam Syafi’i.

Bagi Perempuan, Melakukan  i’tikaf di rumah yaitu di dalam ruangan khusus untuk shalat, maka hukumnya adalah sah.

I’Tikaf Bagi Laki-laki Menurut sebagian Ulama Mazhab Syafi’ie

Melakukan i’tikaf di rumah bagi laki-laki adalah Sah, dengan acuan nalar:

“Jika shalat sunnah saja yang paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf di rumah semestinya bisa dilakukan”.

Imam Ar-Rafi’i pernah Menyampaikan:

ولو اعتكفت المرأة في مسجد بيتها وهو المعتزل المهيأ للصلاة هل يصح فيه قولان (الجديد) وبه قال مالك وأحمد لا لان ذلك الموضع ليس بمسجد في الحقيقة فأشبه سائر المواضع ويدل عليه ان نساء النبي صلى الله عليه وسلم كن يعتكفن في المسجد ولو جاز اعتكافهن في البيوت لاشبه ان يلازمنها (والقديم) وبه قال ابو حنيفة نعم لانه مكان صلاتها كما ان المسجد مكان صلاة الرجل وعلي هذا ففى جواز الاعتكاف فيه للرجل وجهان وهو اولي بالمنع ووجه الجواز ان نفل الرجل في البيت افضل والاعتكاف ملحق بالنوافل

“Wanita melaksanakan i’tikaf di masjid rumahnya, maksudnya adalah ruangan tempat menyendiri (di rumah) yang diperuntukkan untuk shalat, apakah hal tersebut sah? Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat . Qaul jadid (pendapat baru Imam Syafi’i), Imam Malik dan Imam Ahmad berpandangan tidak sah, sebab tempat tersebut bukanlah masjid secara hakiki, karena tak ubahnya seperti tempat-tempat lainnya. Pendapat ini juga didasari dalil bahwa para istri Rasulullah melaksanakan i’tikaf di masjid. Kalau saja boleh beri’tikaf di rumah, niscaya mereka menetapkannya.  Qaul qadim dan Abu Hanifah berpendapat boleh i’tikaf di rumah (ruangan yang dikhususkan shalat), sebab tempat tersebut merupakan tempat shalat bagi wanita, seperti halnya masjid merupakan tempat shalat bagi laki-laki. Berdasarkan pandangan ini, maka dalam bolehnya i’tikaf di rumah bagi laki-laki juga terdapat dua pendapat, meskipun lebih utama bagi laki-laki untuk tidak i’tikaf di tempat tersebut. Dalil bolehnya i’tikaf di rumah bagi laki-laki adalah pemahaman bahwa shalat sunnah bagi laki-laki yang paling utama adalah dilaksanakan di rumah, maka ibadah i’tikaf mestinya sama dengan ibadah shalat sunnah” (Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i, al-‘Aziz Syarh al-Wajiz, huz 6, hal. 503)

I’tikaf di Rumah bagi Laki-laki dan Perempuan Menurut Mazhab Maliki:

وقال أبو حنيفة: يصح اعتكاف المرأة في مسجد بيتها وهو الموضع المهيأ من بيتها لصلاتها، قال: ولا يجوز للرجل في مسجد بيته، وكمذهب أبي حنيفة قول قديم للشافعي ضعيف عند أصحابه، وجوزه بعض أصحاب مالك وبعض أصحاب الشافعي للمرأة والرجل في مسجد بيتهما

“Imam Abu Hanifah berkata: ‘Sah bagi wanita untuk beri’tikaf di masjid rumahnya, maksudnya adalah ruangan di rumahnya yang diperuntukkan untuk shalat, dan tidak boleh bagi laki-laki untuk i’tikaf di masjid rumahnya. Senada dengan Abu Hanifah yakni Qaul Qadim Imam as-Syafi’i, meskipun dianggap pendapat yang lemah menurut para ashab. Sebagian ulama mazhab maliki dan ulama mazhab syafi’i memperbolehkan beri’tikaf di masjid rumah bagi laki-laki dan perempuan” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim li an-Nawawi, juz 3, Hal. 3)

I’tikaf di Rumah Menurut Mazhab Hanafi

Ibnu Abidin, salah satu ulama terkemuka pada mazhab Hanafi, memberi pengertian tentang ruangan di dalam rumah yang khusus untuk shalat, sangat diharapkan berbentuk mihrab (tempat pengimaman), bersih, wangi, seperti layaknya tempat untuk ibadah shalat.

Ulasan Ibnu Abidinu:

مسجد البيت أي موضع أعد للسنن والنوافل بأن يتخذ له محراب وينظف ويطيب كما أمر به فهذا مندوب لكل مسلم

Yang dimaksud masjid rumah adalah ruangan yang diperuntukkan melaksanakan ibadah sunnah dan shalat sunnah, dengan gambaran dalam ruangan tersebut terdapat mihrab dan ruangan tersebut dibersihkan serta diberi wewangian, seperti halnya yang diperintahkan (syara’). Memiliki ruangan dengan model demikian disunnahkan bagi setiap muslim” (Muhammad Amin bin ‘Umar bin Abdul Aziz Abidin, Hasyiyah ibnu ‘Abidin, juz 1, hal. 675)

Niat I’Tikaf di Rumah

نَوَيْتُ الإعْتِكَافَ فِى هَذَا الْمَكَانِ لله تَعَالَى   “Nawaitu al-i’tikâfa fî hâdza al-makâni lillâhi ta’âlâ”  

Rukun I’Tikaf

1) niat,

2) berdiam diri di masjid sekurang-kurangnya selama tumaninah shalat,

3) masjid,

4) orang yang beri’tikaf. (Beragama Islam, berakal sehat, bebas dari hadat’s besar, tidak sah jika tidak memenuhi syarat).

I’tikaf ada 3;

1) i’tikaf mutlak,

2) i’tikaf terikat waktu tanpa terus-menerus,

3) i’tikaf terikat waktu dan terus-menerus.

Niat I’tikaf mutlak

:  نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

“Aku berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah.”

Niat i’tikaf terikat waktu, :

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا/لَيْلًا كَامِلًا/شَهْرًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/satu bulan karena Allah.”

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا

Artinya, “Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama satu bulan berturut-turut karena Allah.”

Niat i’tikaf yang dinadzarkan:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat i’tikaf di masjid ini fardhu karena Allah.”

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama satu bulan berturut-turut fardhu karena Allah.”

Catatan: Pada i’tikaf mutlak,apabila misal kita keluar dari masjid tanpa keingnan untuk kembali, lalu ternyata kita kembali, maka kita diharuskan berniat lagi, dengan i’tikaf dianggap baru.

Jika saat keluar masjid ktia berniat kembali lagi, mau ke masjid yang tadi atau masjid lain, maka tidak perlu niat baru lagi.

Hal yang Membatalkan I’Tikaf

1) berhubungan suami-istri,

2) mengeluarkan sperma,

3) mabuk yang disengaja,

4) murtad,

5) haidh, selama waktu i’tikaf cukup dalam masa suci biasanya,

6) nifas,

7) keluar tanpa alasan,

8) keluar untuk memenuhi kewajiban yang bisa ditunda,

9) keluar disertai alasan hingga beberapa kal

Referensi Tata cara I’tikaf : Bâb al-I‘tikâf dalam kitab Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in karya Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani (Terbitan Darul Fikr, Beirut, Cetakan Pertama, halaman 197). I’tikaf di rumah atau mesjid: referensi sumber lainnya. Wallahu a’lam. (Re/Juni).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *