oleh

Bikin Takut, Efek Samping Keseringan Makan Mie Instan

Bikin Takut, Efek Samping Keseringan Makan Mie Instan. Orang-orang Asia saat ini menganggap mie instan menjadi makanan pokok, seperti hal nya nasi di Indonesia. Menyajikan mie instan cukup singkat dan tidak ribet

Akan tetapi, walaupun terdapat mitos misalnya menambahkan sayuran dapat meningkatkan nilai gizi, namun mengkonsumi mie instan apalagi sering, tentu mengundang beragam efek samping pada tubuh

Mengkonsumsi mie instan tentu mempunyai efek samping, seperti dirangkum dari radarbandung yang mengutip dari Msn, beragam gejala yang ditimbulkan dari mengkonsumsi mie instan

Bikin Takut, Efek Samping Keseringan Makan Mie Instan

1. Kesulitan Saat Mencerna

Mie instan dapat mendorong sistem pencernaan untuk memecah mie olahan tersebut dalam kurun waktu berjam-jam.

Hal itu tentu dapat mengganggu kadar gula darah serta pelepasan insulin apabila dikonsumsi secara cepat.

Mie instan diketahui dapat mendorong pencernaan menjadi lambat, sebab kandungan pengawet dan bahan kimia.

Dalam waktu yang panjang, perihal tersebut dapat menyebabkan uraian berlebih dari butiran hidroksanisol dan t-butil hidrokuinon, kedua bahan kimia itu biasa digunakan pada produk untuk pengawet

Tentu saja kedua bahan tersebut dapat menjadi penyebab kecemasan, asma serta diare.

2. Risiko Jantung

Pada penelitian Journal of Nutrition, diketahui orang yang mengkonsumsi mie instan (jumlah banyak) mempunyairisiko lebih tinggi mengidap sindrom metabolik, yaitu rangkaian gejala termasuk mempunyai tekanan darah tinggi, kadar kolesterol HDL yang rendah, serta peluang lebih tinggi penyakit jantung, diabetes bahkan stroke.

3. Memiliki Banyak Garam 

Adalah hal yang tidak asing apabila mie instan memiliki banyak garam, yang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Pada sebuah penelitian yang diterbitkan American Journal of Hypertension tahun 2014, ternyata ditemukan konsumsi makanan yang tinggi natrium diakui sebagai salah satu faktor utama dalam tingkat kematian yang tinggi dalam 23 studi kasus terakhir.

Natrium tambahan ini juga menjadi penyebab tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.

Saran Dokter Spesialis untuk Penyuka Mie Instan

Dokter spesialis gizi Juwalita Surapsari memberikan pesan khusus untuk masyarakat yang suka mengkonsumsi mie instan.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut memberi petuah, bahwa harus memperhatikan kandungan kalori yang ada, juga kandungan garam yang tinggi dalam produknya.

“Banyak mie instan mengandung kalori lebih rendah. Untuk menjadi sehat, pertimbangannya tidak hanya mengenai kalori, harus jeli mengetahui kandungan lain dalam makanan tersebut,” papar Juwalita.

Juwalita juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat melihat label kemasan produk yang akan dibeli. Lihat kandungan natrium produknya (bagian dari garam dengan jumlah tinggi).

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG), bahwa (asupan natrium), tidak boleh lebih dari 20 persen per hari (setara 1 sdt per hari). Kemudian, perhatikan juga pada kandungan lemak dalam produk.

Kementerian Kesehatan memberi anjuran, mengkonsumsi lemak dalam produk per orang per hari 20-25 persen dari total energi atau setara 5 sendok makan (67 gram).

Kemudian, mengkonsumsinya sebaiknya tidak bersama makanan olahan lain seperti sosis / bakso.

Menurut Juwalita, makanan tersebut berpotensi memiliki garam yang tinggi, yang menjadikan adanya resiko kelebihan asupan garam.

“Boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini, namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lain misalkan tidak dikonsumsi bersama makanan olahan lain seperti sosis atau bakso,” jelasnya.

Juwalita mengatakan bahwa seseorang dapat memberti tambahan sejumlah sayuran dan sumber protein, seperti telur dan tofu guna meningkatkan profil nutrisi dalam mie instan.

Lebih lanjut lagi, Pakar diet dari Mount Elizabeth Hospital Seow Vi Vien juga memberi saran, bahwa menggunakan seperempat atau setengah porsi bumbu saja, juga dapat menambahkan daun bawang atau ketumbar sebagai penambah rasa

“Bila menggunakan versi instan yang tidak perlu dimasak, hindari mengonsumsi semua kuahnya (apabila itu berkuah) membantu mengurangi asupan garam dan sertakan sayuran dan sumber protein seperti telur di sampingnya.”

Jika tidak dapat memasukkan sayuran, maka pasti kan untuk memenuhi asupan sayuran pada waktu makan berikutnya,” jelas Seow Vi Vien seperti dilansir dari The Strait Times. (/Jni)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar