Profesi Pandai Besi Kian Langka, Kini Hanya Ditekuni Segelintir Orang

Editor:

SUBANG-Perajin besi atau pandai besi di Kabupaten Subang, khususnya Subang selatan kian langka keberadaanya. Profesi ini tergerus oleh profesi lain yang lebih menjanjikan seperti kerajinan meubel kayu atau lainnya. Selain itu, pesaing impor menjadi tantangan pengrajin pandai besi di zaman modern ini.

Keahlian dan keterampilan menempa besi secara tradisional ini masih ditekuni segelintir orang. Bahkan diwariskan turun temurun ke generasinya dan masih bertahan hingga kini.

Wahyu Adam (59) merupakan seorang pandai besi asal  Desa Ciater RT 12 RW 03 Kecamatan Ciater. Dia masih bertahan menekuni profesi tersebut sejak belasan tahun lalu hingga saat ini.

“Keahlian pandai besi ini diwariskan turun temurun dari kakek saya, kemudian orang tua saya, jadi saya itu generasi ketiga. Jadi Keahlian saya sudah dimiliki sejak lama,” ujar pengrajin pandai besi, Wahyu Adam.

Pandai besi tradisional ini masih bertahan di tengah maraknya produk pabrikan saat ini. Pengrajin masih menggunakan tenaga dan alat tradisional saat membuat beragam peralatan seperti cangkul, pisau, parang, golok, dan lainnya.

Untuk memanaskan besi pun masih memakai panas dari arang. Setelah besi panas kemudian dipukul memakai palu.

“Proses pembuatan dari awal itu kan lempengan terus dibuat polanya dulu, lalu dipotong, diperhalus, terus di bakar, setelah dibakar kemudian dipukul. Saya mulai bekerja biasanya dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 14.00 sore”, jelasnya.

Selama produksi kurang lebih tujuh jam, Wahyu Adam mampu menghasilkan beberapa buah kerajinan pandai besi.

“Satu hari biasanya kalau lagi ramai bisa menghasilkan 20 buah, karena sekarang ini bahan untuk pembuatannya tidak hanya menggunakan besi, melainkan bisa menggunakan bahan seperti tembaga, atau yang lainnya. Tergantung permintaan pesanan,” jelasnya.

Keahlian dan keterampilan Wahyu Adam menempa besi menjadi aneka perkakas dikenal oleh banyak petani desa setempat. Sehingga masih ada yang memesan perkakas tersebut kepada pengrajin pandai besi.

“Biasanya suka ada juga pesanan borongan dari pasar, walaupun harganya tidak seberapa. Mulai dari harga Rp50.000 atau juga bisa lebih, tergantung bahan dan banyaknya pesanan,” tuturnya.

Wahyu Adam mengatakan, perjalanan dalam menekuni pekerjaan tersebut, di mana seiring waktu beberapa bahan produksi mengalami kenaikkan harga seperti arang, dan besi yang digunakan. Bahan yang digunakan biasa ia dapatkan dari luar kota Subang.

“Bahan-bahan untuk produksi di sini itu ada yang kirim, jadi bahan-bahanya dikirim langsung dari Bandung”, ungkapnya.(cdp/ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.