Mudik Kampung vs Mudik Hati

Mudik Kampung vs Mudik Hati
0 Komentar

Oleh:

1.Drs. H. Priyono, M.Si. (Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan;

Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta )

2.Sri Rejeki Nugraheni, M.Pd

(Guru Geografi SMAN 71 Jakarta)

Meskipun Pemerintah dengan tegas melarang mudik Lebaran 2021,namun gelombang mudik yang lebih awal tidak bisa dibendung dengan menggunakan sepeda motor, kendaraan pribadi mapun mode transportasi lain. Mereka ingin segera bertemu keluarga untuk melepas rasa rindu karena setahun tidak bertemu. Mereka pulang lebih awal untuk menghindari penyekatan yang akan dilakukan oleh pemerintah mulai tgl 6-17 mei 2021. Larangan ini diberlakukan dalam upaya pengendalaian penyebaran wabah Covid-19. Tradisi mudik menjelang hari raya Idul Fitri oleh para perantau di kota-kota besar Indonesia ke daerah asalnya masing-masing secara bersama-sama dan pada waktu yang juga hampir bersamaan itu disinyalir akan meningkatkan penularan virus sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan lonjakan jumlah penderita Covid-19.

Dipastikan karena penyekatan maka akan terjadi penumpukan kendaraan dan berakibat kemacetan panjang bila tidak diantisipasi dengan baik. Belajar dari pengalaman masa lalu , tepatnya tahun 2016 di pintu keluar tol Brebes, karena arus mudik yang berbarengan maka terjadilah penumpukan kendaraan sampai 11 jam sehingga memakan korban 12 nyawa karena kelelahan, kekurangan cairan hingga keracunan CO2. Arus mudik yang berasal dari ibukota dan kota besar lainnya semakin tahun semakin bertambah dan selalu diikuti arus balik yang lebih besar karena membawa keluarga lain yang ingin mengadu nasib di daerah tujuan. Daya tarik kekotaan di satu pihak dan masa pandemic yang mematikan ekonomi masyarakat , mendorong mereka untuk mencari pekerjaan di kota lain yang lebih menjanjikan, itulah isi teori mobilitas dari Lee atau Everet S Lee yang menjelaskan perilaku mobilitas penduduk itu terkait dengan empat faktor  yaitu factor yang terdapat di daerah asal, factor yang terdapat di daerah tujuan, factor penghalang dan factor individu.

Baca Juga:Membaca Jejak Digital Segala Urusan: Masa Lalu, Kini Dan NantiBertemu Anies, AHY Saling Apresiasi dan Ingin Terus Berkolaborasi

Kenyataan menunjukkan sebelum 6 mei 2021, mereka mudik lebih awal, di stasiun  pengirim mudik dipadati orang termasuk di tempat perbelanjaan, pasar tanah abang misalnya. Tempat perbelanjaan banyak diserbu orang dan sebaliknya shaf jamaah masjid semakin jarang karena berpindah tempat. Sehingga mudik diperkirakan berlanjut kerumunan tetap semarak termasuk pelanggaran prokes meskipun Presiden sudah wanti wanti  : seluruh pihak tidak boleh sepelekkan covid-19 meskipun grafik telah mulai landau tapi berkaca dari Negara India,Singapura dll, kita harus tetap waspada. Indonesia belum aman, itulah maknanya.

0 Komentar