The Lost Piece Memory

Cerpen
Ilustrasi cerpen. /Pixabay/susan-lu4esm
0 Komentar

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih, Pak.” Ucap semuanya serentak.

“Laannn. Ga lupa ‘kan beliin kita apa?” Tanya Devan sambil menyikut Bulan lalu menaik-naikkan alis tebal bak ulat bulunya itu.“Iya, iya. Aku ingat kok tenang aja deh kalian.” Sahut Bulan sedikit tidak rela harus menghabiskan uang jajannya hanya untuk mereka.

“Ikhlas ga nih, Lan? Haha jadi abis ya uangnya? Kasian deh.” Ledek Bintang sambil tertawa.Dalam perjalanan pulang sambil menyeruput minuman es bobanya tiba-tiba Devan berceletuk, “Eh, tadi aku tiba-tiba dapat pesawat kertas yang isinya penyemangat gitu deh pas aku masih ngerjain soal, tapi ya aku ga tau siapa yang buat ini sih. Kalian tau ga kira-kira?” Sambil menyodorkan pesawatnya ke Bulan dan Bintang.

Baca Juga:Sekda Jabar Lepas 2.034 Pemudik di Terminal CicaheumDorong Transformasi Digital, Sekda Herman: Digitalisasi Harus Berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat

“Aku ga hafal tulisan teman-teman kita.” Ucap Bulan dan Bintang berbarengan.Kedua saudari ini sudah cukup sering mengatakan sesuatu bersamaan sehingga mereka sudah tidak merasa tadi adalah hal yang aneh.

“Aku selalu terkagum melihat kalian yang terlihat sinkron, yah walau wajah kalian tidak mirip aja sih. Jadi ingin punya saudara kembar juga deh.” Ungkap Devan.

“Aku justru ingin jadi anak tunggal aja seperti kamu, Van. Eh Bulan ga bermaksud apa-apa kok aku, tapi mungkin kita berdua bisa tetanggaan aja gitu seperti dengan Devan sekarang ya ‘kan.” Sahut Bintang dengan cuek.

Mendengar hal tersebut membuat Bulan murung walau sudah terbiasa seperti ini karena saudarinya memang tidak terlalu menyukainya sejak dulu. Semua orang di sekitar mereka pun sudah menyadari hal ini. Si kembar tak seiras berotak cemerlang namun suka tidak akur.

Setelah kesunyian di antara mereka yang sibuk dengan pikirannya masing-masing, tak terasa sudah sampai di rumah Bulan dan Bintang. Mereka salim dengan Mira—mama si kembar, lalu mereka berdua saling bertatapan ke arah Dean mengisyaratkan agar membicarakan hal yang tadi mereka bicarakan di kantin kepada Mira.

0 Komentar